Laporan Kebencanaan Geologi 26 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY: 

Hari ini, Minggu 26 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dan 2 kali awan panas guguran. Secara visual tinggi kolom abu 2300 m diatas puncak. Terekam 85 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 800-1200 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 November 2017 Pukul 14:36 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih sedang - kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-3000 m di atas puncak. Pada pukul 17:30 WITA terjadi erupsi dengan kolom abu berwarna kelabu - kehitaman bertekanan sedang dengan ketinggian 1500 m diatas puncak.Rekaman seismograf Tanggal 25 Nopember 2017 tercatat:- 2 kali Gempa Letusan- 31 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 13 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 1 kali Gempa Hembusan
Tanggal 26 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 26 November 2017 Pukul 05:45 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 6142 m di atas permukaan laut atau 3000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati 4 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 400-500 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 23 Nopember 2017 pukul 07:43 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2329 m di atas permukaan laut atau 1100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 25 November 2017 tercatat:- 108 kali gempa letusan- 85 kali gempa Hembusan- 33 kali gempa Tremor Harmonik- 4 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 25 Nopember 2017 tercatat:- 34 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
2. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta.
3. Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur.
4.Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.
5.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
6.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Gerakan tanah / tanah longsor menutupi jalan poros Paniki-Bokin  di Lembang Sapan Kua-Kua, Kecamatan Buntao, Kabupaten Toraja Utara  pada Jumat malam (24/11/2017) .
Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng, tingkat pelapukan yang tinggi serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak
1. Gerakan tanah / tanah longsor di jalan raya utama Padang -  Solok Km 19 , Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada Sabtu (25/11/2017) pukul 18.52 WIB mengakibatkan kemacetan.
2. Gerakan tanah / tanah longsor menimpa rumah warga bernama Subarjo di Ngruno, Karangsari, Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta  pada Sabtu (25/11/2017) dinihari sekitar pukul 01.30 WIB mengakibatkan 1 orang meninggal dunia dan 4 orang luka – luka.
3. Gerakan tanah / tanah longsor menimpa rumah warga  di Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur pada Jumat (24/11/2017) pukul 14:00 WIB mengakibatkan satu rumah rusak.
4. Gerakan tanah / tanah longsor menimpa rumah warga Dusun Krajan RT 02 RW 01, Desa Tlogokotes, Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo, Jumat (24/11/2017) sekitar pukul 16.00 WIB mengakibatkan satu rumah rusak.
5. Gerakan tanah / tanah longsor DI Jalan trans Sulawesi tepatnya di Lembang Paku, Toraja, Sulawesi Selatan, informasi tanggal 25 /11/2017 mengakibatkan kemacetan
6. Gerakan tanah / tanah longsor menutupi jalan poros Paniki-Bokin  di Lembang Sapan Kua-Kua, Kecamatan Buntao, Kabupaten Toraja Utara  pada Jumat malam (24/11/2017) mengakibatkan kemacetan
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa Bumi
1) Tenggara Palu dan 2) Timurlaut Sigi. Sulawesi Tengah
Informasi Gempa Bumi:
1) Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 25 November 2017, pukul 16:14:49 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,14°LS  dan 119,91° BT dengan magnitudo 5,1SR pada kedalaman 10 km berjarak 26 km Tenggara Palu, Sulawesi Tengah.
2)Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 25 November 2017, pukul 18:11:23 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,15°LS  dan 119,93° BT dengan magnitudo 5,1SR pada kedalaman 10 km berjarak 26 km Timurlaut Sigi, Sulawesi Tengah.
Dampak Gempa Bumi:Gempabumi ini tidak menimbulkan gelombang tsunami. Belum ada informasi kerusakan atau korban jiwa.
1) Berdasarkan informasi dari BMKG, goncangan gempabumi dirasakan dengan intensitas sekitar III - IV MMI di kota Palu, III MMI di Donggala. 
Penyebab Gempa Bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif Palu-Koro, berarah relatif baratlaut-tenggara, yang melewati kota Palu
Rekomendasi:• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dan 2 kali awan panas guguran. Secara visual tinggi kolom abu 2300 m diatas puncak. Terekam 85 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 800-1200 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih sedang - kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-3000 m di atas puncak. Pada pukul 17:30 WITA terjadi erupsi dengan kolom abu berwarna kelabu - kehitaman bertekanan sedang dengan ketinggian 1500 m diatas puncak.Melalui rekaman seismograf Tanggal 25 Nopember 2017 tercatat:- 13 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 26 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati  4 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 400-500 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 25 November 2017 tercatat:- 108 kali gempa letusan- 85 kali gempa Hembusan- 33 kali gempa Tremor Harmonik- 4 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 25 Nopember 2017 tercatat:- 34 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 November 2017 Pukul 14:36 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA Terakhir terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 26 November 2017 Pukul 05:45 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 6142 m di atas permukaan laut atau 3000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 23 Nopember 2017 pukul 07:43 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2329 m di atas permukaan laut atau 1100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Solok, Sumatera Barat*,
2. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta*,
3. Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur*,
4. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah*,
5. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan*,
6. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan*,
7. Kabupaten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat, 
8. Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur,
9. Kabupaten Badung, Provinsi Bali,
10. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, 
11. Kabupaten  Gunungkidul, Provinsi  DI Yogyakarta, 
12. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara,
13. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, 
14. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, 
15. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
16. Kabupaten  Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah, 
17. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,   
18. Kabupaten Deli Serdang,  Provinsi Sumatera Utara,
19. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 
20. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur,
21. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 
22.Kabupaten  Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara,
23. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta, 
24. Kota Jambi, Provinsi Jambi, 
25. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, 
26. Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta,  

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Solok, Sumatera Barat 
Tanah longsor di jalan raya utama Padang -  Solok K. 19  pada Sabtu (25/11) pukul 18.52 WIB. Akibat kejadian itu, ruas jalan tersebut tertimbun sebagian dan menimbulkan kemacetan hingga 5 km. Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa ini.
Sumber:https://twitter.com/infoSumbar/status/934406492396154880
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dan dipicu oleh intensitas curah hujan tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris)
Rekomendasi :
1. Segera membersihkan material longsoran.
2. Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
3. Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
4. Melandaikan lereng, mengatur drainase dan meperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
5. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

2. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta
Hujan yang turun sepanjang hari pada Jumat kemarin mengakibatkan terjadinya tanah longsor pada Sabtu (25/11) dinihari sekitar pukul 01.30 WIB, merusak tebing setinggi 7 meter, lebar 6 meter dengan ketebalan sekitar 2 meter longsor dan menimpa rumah warga bernama Subarjo di Ngruno, Karangsari, Pengasih, Kulon Progo. Bencana tanah longsor di Ngruno ini mengakibatkan 1 orang meninggal dunia atas nama Bernadinus Setyo Tri Priyanto dan 4 orang lainnya mengalami luka – luka. BPBD Kulon Progo sebut longsor disebabkan oleh rapuhnya dinding tanah di lokasi kejadian. Dekatnya jarak antara rumah dengan tebing tanah kemudian menyebabkan terjadinya tanah longsor
Sumber:http://mediaindonesia.com/news/read/133739/longsor-di-kulonprogo-timpa-rumah-seorang-warga-meninggal-dunia/2017-11-25
Penyebab gerakan tanah diperkirakan kelerengan curam dekat pemukiman, pelapukan tinggi dan  dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran aliran bahan rombakan.
Rekomendasi :
1. Warga yang terkena longsor segera mengungsi ke tempat yang aman.
2. Segera membersihkan material gerakan tanah dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi.
3. Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
4. Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng atau membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
5. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat 6. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3. Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur
Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Jumat (24/11) kemarin, mengakibatkan satu rumah di Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan longsor. Beruntung insiden yang terjadi pada pukul 14:00 WIB, tidak sampai menimbulkan korban jiwa. "Bagian dinding belakang rumah ambrol dan longsor," ujar pemilik rumah longsor di Dusun Ngasem, Desa Jlodro, Rakijan
Sumber:https://kumparan.com/suarabanyuurip/satu-rumah-di-kenduruan-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan terjadi ketidakstabian kelerengan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.
Rekomendasi :
1. Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. 
2. Membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
3. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
4. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

4. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
Akibat hujan deras yang turun sejak pagi hingga sore, tebing setinggi 5 meter longsor menerjang dapur rumah milik Pujiono, warga Dusun Krajan RT 02 RW 01, Desa Tlogokotes, Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo, Jumat (24/11) sekitar pukul 16.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun tembok dapur rumah milik Pujiono jebol. Sementara material longsoran tanah dari tebing setinggi 5 meter itu menerjang tembok dapur rumah Pijiono. Karena tidak kuat menahan material longsoran tanah dan pepohonan membuat tembok bagian dapur rumah jebol, sehingga menyebabkan material longsoran tanah masuk ke dalam rumah.  
Sumber:http://pembawaberita.com/2017/11/25/longsor-di-tlogokotes-timbun-rumah-warga-penghuni-selamat.html
Penyebab gerakan tanah adalah tanah yang tebal, lereng yang curam dan intensitas curah hujan tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Tanah.
Rekomendasi :
1. Segera membersihkan material longsoran.
2. Pemilik rumah diharapkan mengungsi dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi.
3. Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
4. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
5. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

5. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
Jalan trans Sulawesi tepatnya di Lembang Paku, Toraja, Sulawesi Selatan mengalami longsor. Akibatnya, akses menuju tujuh desa dan sejumlah kecamatan terputus.Akibat kejadian itu, ruas jalan tersebut tertimbun sebagian dan menimbulkan kemacetan. Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa ini.
Sumber:https://video.okezone.com/play/2017/11/25/1/105766/longsor-trans-sulawesi-akses-jalan-menuju-7-desa-terputus
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi dan kelerengan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris)
Rekomendasi :
1. Segera membersihkan material longsoran.
2. Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
3. Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
4. Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
5. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

6. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Kejadian  longsor  menutupi jalan poros Paniki-Bokin  di Lembang Sapan Kua-Kua, Kecamatan Buntao, Kabupaten Toraja Utara  pada Jumat malam (24/11/2017) akibat  hujan deras mengguyur wilayah itu  selama tiga malam berturut-turut. Warga yang tinggal dekat longsor tersebut, Assin,  mengatakan  Sabtu (25/11/2017)  sangat berharap pada pemerintah daerah agar material longsor yang menutupi badan jalan sepanjang  20 m itu segera dilakukan pengerukan atau pembersihan  sehingga arus lalulintas dapat kembali normal. Akibat kejadian itu, ruas jalan tersebut tertimbun sebagian dan menimbulkan kemacetan. Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa ini.
Sumber:https://rantepaopos.com/2017/11/25/jalan-poros-paniki-bokin-tertimbun-longsor-sangat-menganggu-aktivitas-masyarakat/
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi dan kelerengan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris)
Rekomendasi :
1. Segera membersihkan material longsoran.
2. Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
3. Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
4. Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
5. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.



Bandung; 26 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani