Laporan Kebencanaan Geologi 27 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY: 

Hari ini, Senin 27 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 5 kali erupsi/letusan dan 2 kali awan panas guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Teramati Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 2500 - 3500 m ke arah timur dan tenggara. Terekam 82 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 700-2000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan, serta 2 kali getaran banjir/lahar .
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 November 2017 Pukul 05:55 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah barat-timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 1000-3000 m di atas puncak condong kearah timur-tenggara. Terjadi 2 kali erupsi/letusan dengan kolom abu berwarna kelabu - kehitaman bertekanan sedang dengan ketinggian 2000 - 3000 m diatas puncak.Rekaman seismograf Tanggal 26 Nopember 2017 tercatat:- 37 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 39 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Low Frekuensi- 2 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 3 mm
Tanggal 27 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- Tremor Non Harmonik menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 26 November 2017 Pukul 05:45 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 6142 m di atas permukaan laut atau 3000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-12,0 mm (dominan 4 mm). Secara visual teramati 1 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 600-1000 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 26 Nopember 2017 pukul 08:25 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat-baratlaut..

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 25 November 2017 tercatat:- 98 kali gempa letusan- 88 kali gempa Hembusan- 30 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 26 Nopember 2017 tercatat:- 57 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 10 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
2. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
3. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.
4. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.
5. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.
6. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
7. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
8. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
9. Kota Padang, Sumatera Barat
Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng, tingkat pelapukan yang tinggi, erosi sungai, rumah dibangun di dekat tebing  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak
1. Gerakan tanah / tanah longsor di wilayah pemukiman yaitu talud dekat jembatan di Jalan Empu Sendok Raya RT.4 RW.1 Kelurahan Banyumanik, Kec.Banyumanik, Kota Semarang , Provinsi Jawa Tengah pada hari Sabtu 25 November 2017 pukul 16.00 WIB  mengakibatkan akses jalan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat
2. Gerakan tanah / tanah longsor di Jalan Poros Toraja – Mamasa tepatnya di Lembang Paku, Kec.Masanda, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan pada hari Sabtu 25 November 2017 malam hari mengakibatkan satu unit kendaraan roda empat yang terbawa longsor tiang listrik tumbang dan jalan terputus.
3. Gerakan tanah / tanah longsor di wilayah pemukiman RT.01 RW.03, Kampung Cikatomas, Desa Mekarmulya, Kec. Talegong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat  pada hari Jumat 24 November sekitar pukul 17.00 WIB sore hari mengakibatkan 10 rumah yang teridri dari 28 jiwa terancam dan dievakuasi.
4. Gerakan tanah / tanah longsor  menutup   akses jalan Desa Kayuuran Atas, Langowan Barat, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara pada  Minggu (26/11/2017) sore sekitar pukul 14.00 Wita. mengakibatkan akses jalan tertutup.
5. Gerakan tanah / tanah longsor  di jalan Liwa-Krui tepatnya sebelum Kubu Perahu, Lampung Barat (Lambar),  Kabupaten  Lampung Barat, Provinsi Lampung  pada tanggal 26 November 2017 sekitar pukul 15.30 WIB mengakibatkan arus kendaraan dari Liwa menuju Krui atau sebaliknya terhenti.
6. Gerakan tanah / tanah longsor tejadi pada warga Jalan Hamid Rusdi Timur Gg VI RT 02 / RW 16 di kawasan Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing,  Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur pada  Sabtu (25/11/2017) sekitar pukul 23.55 WIB mengakibatkan 1 rumah terancam.
7. Gerakan tanah / tanah longsor tejadi di  jalan penghubung antar dusun di Dusun Wonosari, RT/RW 08/V, Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur  pada Sabtu (25/11/2017) mengakibatkan akses jalan terputus.
8. Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di beberapa lokasi di Kabupaten Banyumas Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah sejak Jumat (25/11/2017) sore :a. di akses jalan kabupaten yang menghubungkan Cilongok-Purwojati dan Cilongok-Patikraja mengakibatkan akses jalan tertutupb. di jalan  yang menghubungkan Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, dengan Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, serta di jalan penghubung Desa Candinegara, Desa Pasiraman Kidul, dan Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen mengakibatkan akses jalan putusc. jalan di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, mengakibatkan jalan amblasd. di  rumah Supriadi, warga Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok. mengakibatkan  1 rumah rusake. di rumah warga di  Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang, mengakibatkan  1 rumah rusak.
9. Gerakan tanah / tanah longsor di  jalan raya Padang-Solok pada  KM 19 Lubuak Paraku, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Kota Padang, Sumatera Barat pada tanggal 25 November 2017 sekitar pukul 18.00 WIB mengakibatkan akses jalan terputus.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 5 kali erupsi/letusan dan 2 kali awan panas guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Teramati Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 2500 - 3500 m ke arah timur dan tenggara. Terekam 82 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 700-2000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan, serta 2 kali getaran banjir/lahar.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 1000-3000 m di atas puncak condong kearah timur-tenggara. Terjadi erupsi/letusan sebanyak 2 kali dengan kolom abu berwarna kelabu - kehitaman bertekanan sedang dengan ketinggian 2000 - 3000 m diatas puncak.Melalui rekaman seismograf Tanggal 26 Nopember 2017 tercatat:- 37 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 39 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Low Frekuensi- 2 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- Tremor Non Harmonik menerus dengan amplitudo dominan 3 mm
Tanggal 27 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- Tremor Non Harmonik menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-12,0 mm (dominan 4 mm). Secara visual teramati  1 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 600-1000 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 25 November 2017 tercatat:- 98 kali gempa letusan- 88 kali gempa Hembusan- 30 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 26 Nopember 2017 tercatat:- 57 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 10 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 November 2017 Pukul 05:55 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah barat-timur.
(2) G. Agung, Bali.VONA Terakhir terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 26 November 2017 Pukul 05:45 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 6142 m di atas permukaan laut atau 3000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 26 Nopember 2017 pukul 08:25 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat-baratlaut.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah*, 
2. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan*, 
3. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*, 
4. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara*, 
5. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung*, 
6. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur*, 
7. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur*,
8. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah*, 
9. Kota Padang, Sumatera Barat*, 
10. Kabupaten Solok, Sumatera Barat , 
11. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta,
12. Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur,
13. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
14. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan,
15. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan,
16. Kabupaten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat, 
17. Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur,
18. Kabupaten Badung, Provinsi Bali,
19. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, 
20. Kabupaten  Gunungkidul, Provinsi  DI Yogyakarta, 
21. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara,
22. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, 
23. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, 
24. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
25. Kabupaten  Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah, 
26. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,   
27. Kabupaten Deli Serdang,  Provinsi Sumatera Utara,
28. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 
29. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur,
30. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:


1. Kota Semarang , Provinsi Jawa Tengah 
Gerakan tanah terjadi di Jalan Empu Sendok Raya RT.4 RW.1, Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Dampaknya Talud dekat jembatan terkena longsor sepanjang 15 meter sehingga akses jalan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 25 November 2017 pukul 16.00 WIB sore hari.
Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2017/11/25/tanah-longsor-di-jalan-empu-sendok-raya-banyumanik
Penyebab gerakan tanah diduga akibat terkikis oleh arus aliran sungai Kalirutung, kondisi tanah yang labil, tebing yang sangat terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran tanah. 
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

2. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
Gerakan tanah terjadi di dua titik di Jalan poros Toraja – Mamasa tepatnya di Lembang Paku Kecamatan Masanda, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Dampaknya selain tebing di dua titik mengalami longsor ada satu unit kendaraan roda empat yang terbawa longsor sejauh 15 meter. Selain itu gerakan tanah mengakibatkan tinga listrik tumbang dan jalan terputus akibat tertutupn material longsoran. Gerakan tanah merupakan gerakan tanah susulan yang terjadi pada hari sebelumnya dan kembali terjadi lagi pada hari Sabtu 25 November 2017 malam hari.
Sumber : https://www.karebatoraja.com/mobil-pendeta-tertimbun-longsor-di-masanda-tana-toraja/
Penyebab gerakan tanah diduga selain kondisi tanah yang labil, drainase yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Segera membersihkan material longsoran dan melakukan pemasangan rambu- rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng untuk menahan pergerakan tanah dan memperkuat kestabilan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat 
Gerakan tanah terjadi di Kampung Cikatomas, Desa Mekarmulya, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Tepatnya di wilayah RT.01 RW.03 Dusun Datarsalam. Dampaknya 10 rumah yang teridri dari 28 jiwa terancam dan dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 24 November 2017 sekitar pukul 17.00 WIB sore hari.
Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/11/26/p00roo440-warga-cikatomas-garut-khawatir-longsor-dan-pergerakan-tanah
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.
Rekomendasi :
• Masyarakat sebaiknya tidak melakukan aktifitas di sekitar tebing atau lereng yang terja dan daerah yang rawa gerakan tanah, agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Pemilik rumah yang lokasinya terancam untuk mengungsi sementara di tempat yang aman terutama pada saat hujan  dan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Pemasangan rambu – rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

4. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
Gerakan tanah / tanah longsor  menutup   akses jalan Desa Kayuuran Atas, Langowan Barat. Peristiwa itu terjadi Minggu (26/11/2017) sore sekitar pukul 14.00 Wita ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Akses jalan yang sempat tertutup karena tanah longsor dan pepohonan sudah bisa teratasi dengan cepat.
Sumber  : http://zonautara.com/blog/2017/11/26/longsor-di-langowan-barat-tutup-akses-jalan-desa-kayuuran-atas/

5. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung
Guyuran hujan yang tiada henti diwilayah Lampung Barat dan Pesisir Barat (Pesibar) menyebabkan longsor tanggal 26 November 2017 sekitar pukul 15.30 WIB di jalan Liwa-Krui tepatnya sebelum Kubu Perahu, Lampung Barat (Lambar).  Longsornya jalan lintas tengah tersebut mengakibatkan arus kendaraan dari Liwa menuju Krui atau sebaliknya terhenti.
Sumber  : https://sumaterapost.co/intensitas-hujan-tinggi-lalulintas-lwa-krui-terganggu-longsor/
Kejadian gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dari tebing . Penyebab gerakan tanah kemungkinan kemiringan lereng yang terjal dan material batuan lepasyang tidak stabil, serta dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi sehari sebelumnya
Rekomendasi:
• Masyarakat yang beraktifitas di jalan yang terdampak longsor agar selalu waspada terutama saat dan sesudah hujan deras.
• Segera membersihkan material longsoran dari badan jalan dengan tetap meningkatkan kewaspadaan selama melakukan pembersihan.
• Memasang rambu peringatan rawan bencana longsor.
• Masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

6.Kabupaten Malang, Provinsi Jawa TimurGerakan tanah / tanah longsor tejadi pada  Sabtu (25/11/2017) sekitar pukul 23.55 WIB, di kawasan Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing. Lokasi kejadian tepatnya di samping halaman rumah Sutikno, warga Jalan Hamid Rusdi Timur Gg VI RT 02 / RW 16. Ambrolnya plengsengan bermula ketika hujan mengguyur di lokasi dengan intensitas tinggi dari siang hingga sore hari menyebabkan plengsengan sepanjang ± 8 m dengan tinggi ± 7 m ambrol  dan juga menimbulkan retakan tanah sepanjang ± 8 m. Retakan itu berjarak ± 1,5 m dari plengsengan. Sementara, jarak retakan tanah dengan rumah Sutikno ± 3 m. 
Sumber  : https://malangvoice.com/lagi-longsor-hantui-warga-kota-malang/
Penyebab kejadian gerakan tanah diperkirakan akibat adanya kemiringan lereng, curah hujan yang terus , struktur tanah menjadi labil,  rumah dibangun diatas tebing
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor agar  mengungsi di tempat yang aman. 
• Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Menghindari bermukim pada lereng rawan longsor.
• Segera mengatur drainase air pemukaan dan menghidarkan air bergerak di lereng perumahan.
• Agar melakukan perkuatan lereng 
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

7. Kabupaten Pacitan, Jawa TimurHujan deras yang mengguyur kabupaten Pacitan pada Sabtu (25/11/2017) mengakibatkan sungai di aliran wilayah Desa Karangrejo meluap dan ruas jalan tersebut terkikis oleh luapan air sungai sehingga jalan yang menghubungkan antar dusun putus dan akses jalan tidak bisa di lewati  membuat jalan penghubung antar dusun di Dusun Wonosari, RT/RW 08/V, Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari putus. Akibatnya aktivitas warga di kawasan tersebut menjadi terganggu karena tidak bisa mengakses ruas jalan menggunakan kendaraan bermotor.
Sumber  : https://pacitanku.com/2017/11/26/diterjang-banjir-ruas-jalan-antar-dusun-di-arjosari-putus/
Gerakan diperkirakan berupa longsoran tanah akibat erosi lateral sungai yang menggerus tebing sungai serta serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran agar selalu waspada terutama saat hujan deras.
• Warga yang terdampak harap mengungsi ke tempat yang lebih aman.
• Segera membangun bangun penahan erosi sungai.
• Memasang rambu peringatan rawan bencana longsor.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat

8. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di beberapa lokasi di Kabupaten Banyumas. Hujan lebat yang terjadi sejak Jumat (25/11/2017) sore :
• mengakibatkan sebuah tebing di Desa Jatisaba, Kecamatan Cilongok, longsor hingga menutup akses jalan kabupaten yang menghubungkan Cilongok-Purwojati dan Cilongok-Patikraja dengan tinggi material longsoran tersebut mencapai 15 meter, lebar 8 meter, dan panjang 20 meter.
• mengakibatkan  jalan utama tertutup yang menghubungkan Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, dengan Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, serta di jalan penghubung Desa Candinegara, Desa Pasiraman Kidul, dan Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen.
• Kejadian ketiga adalah  hujan lebat yang terjadi sejak Jumat (25/11/2017 ) sore juga mengakibatkan jalan ambles sepanjang 100 meter dengan kedalaman 30 centimeter di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.
• Tanah longsor juga mengancam rumah Supriadi, warga Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, karena fondasi rumahnya tergerus longsoran sehingga kamar tidur dan kamar mandi dalam posisi menggantung.
• Sementara tebing longsor di Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang, menimbun rumah milik Muhammad Soleh.
Sumber : http://www.harianterbit.com/hanterdaerah/read/2016/11/26/73450/0/20/Sejumlah-Wilayah-di-Banyumas-Dilanda-Banjir-dan-Longsor
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada bahu jalan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal dan material batuan dan tanh yang tidak stabil  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi. 
Rekomendasi: 
• Setiap warga yang beraktivitas di sekitar jalan tersebut agar lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman longsor susulan, terutama  pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama. 
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor pada daerah jalur jalan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Pemerintah setempat agar segera menangani kerusakan jalan tersebut agar jalur lalu lintas berfungsi kembali dengan baik dan tidak membahayakan pengguna jalan dan tidak mengancam bangunan yang berada di bawah badan jalan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

9.  Kota Padang, Sumatera Barat Gerakan tanah / tanah longsor di  jalan raya Padang-Solok pada  KM 19 Lubuak Paraku, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Padang pada tanggal 25 November 2017 sekitar pukul 18.00 WIB. Kemarin, tiba-tiba saja tanah, air, daun - daunan serta materil batu dan lumpur memenuhi sebagian jalan dan kemacetan sempat terjadi sekitar satu jam.  Longsor tersebut terjadi ketika hujan lebat menguyur Kota Padang. Lokasinya masih di bekas lokasi longsor beberapa bulan lalu.
Sumber : https://www.koran.padek.co/read/detail/93526/Hujan_Lebat__Longsor_di_Lubuk_Paraku
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal , dengan batuan dan tanah yang tidak stabil serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan.
• Memasang rambu peringatan rawan longsor.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.



Bandung; 27 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani