Laporan Kebencanaan Geologi 28 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY: 

Hari ini, Selasa 28 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Terekam 34 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 2000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 November 2017 Pukul 05:55 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah barat-timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 2000-3000 m di atas puncak condong kearah timur-tenggara-baratdaya. Terjadi 1 kali erupsi/letusan dengan kolom abu berwarna kelabu - kehitaman bertekanan sedang dengan ketinggian 3000 m diatas puncak.Rekaman seismograf Tanggal 27 Nopember 2017 tercatat:- 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal- 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Low Frekuensi- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm dominan 1-3 mm
Tanggal 28 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:Tanggal 28 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 26 November 2017 Pukul 05:45 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 6142 m di atas permukaan laut atau 3000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah selatant. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 300-600 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Nopember 2017 pukul 06:40 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 27 November 2017 tercatat:- 96 kali gempa letusan- 78 kali gempa Hembusan- 29 kali gempa Tremor Harmonik- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-10 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 27 Nopember 2017 tercatat:- 50 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tektonik Lokal- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Jember,  Provinsi  Jawa Timur.
2. Kabupaten Tuban, Provinsi Jatim.
3. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat.
4. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
5. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara 

Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng, tingkat pelapukan yang tinggi, erosi sungai, rumah dibangun di dekat tebing  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak
1. Tanah longsor terjadi di jalur Gumitir, tepatnya di KM 35 Dusun Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur. Kejadian longsor terjadi tanggal 26 November 2017 sekitar pukul 19:30 WIB mengakibatkan macet total 2. Gerakan tanah / tanah longsor menimpah  warga Dusun Krajan, Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan p Kabupaten Tuban, Provinsi Jatim   Senin (27/11/2017). 3. Gerakan tanah  / tanah longsor lokasi di Pesisir Selatan, Senin (27/11) melanda daerah Sungai Lundang, Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat pukul 16.00 WIB menutupi badan jalan. 4. Gerakan tanah / tanah longsor di Jalan jurusan jalur wisata Sembalun Kabupaten Lombok Timur dan nyaris menutup seluruh badan jalan, Senin (27/11/2017) sekitar pukul 08.30 Wita dan sore sekitar pukul 17.30 Wita. 5. Gerakan tanah / tanah longsor  di Kecamatan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara pada tanggal 27 November  2017 mengakibatkan akses jalan menuju pelabuhan Danau Toba, Samosir, terputus total.  

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Terekam 34 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 2000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 2000-3000 m di atas puncak condong kearah timur-tenggara-baratdaya. Terjadi 1 kali erupsi/letusan dengan kolom abu berwarna kelabu - kehitaman bertekanan sedang dengan ketinggian 3000 m diatas puncak.Rekaman seismograf Tanggal 27 Nopember 2017 tercatat:- 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal- 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Low Frekuensi- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm dominan 1-3 mm
Tanggal 28 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 300-600 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 27 November 2017 tercatat:- 96 kali gempa letusan- 78 kali gempa Hembusan- 29 kali gempa Tremor Harmonik- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-10 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 27 Nopember 2017 tercatat:- 50 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tektonik Lokal- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 November 2017 Pukul 05:55 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah barat-timur.
(2) G. Agung, Bali.VONA Terakhir terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 26 November 2017 Pukul 05:45 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 6142 m di atas permukaan laut atau 3000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Nopember 2017 pukul 06:40 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Jember,  Provinsi  Jawa Timur*, 
2. Kabupaten Tuban, Provinsi Jatim*,
3. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat*,
4. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat*,
5. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara*,   
6. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 
7. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, 
8. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
9. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, 
10. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, 
11. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, 
12. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur,
13. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 
14. Kota Padang, Sumatera Barat, 
15. Kabupaten Solok, Sumatera Barat , 
16. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta,
17. Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur,
18. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
19. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan,
20. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan,
21. Kabupaten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat, 
22. Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur,
23. Kabupaten Badung, Provinsi Bali,
24. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, 
25. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi  DI Yogyakarta, 
26. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara,
27. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, 
28. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, 
29. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
30. Kabupaten  Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah, 
31. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,   
32. Kabupaten Deli Serdang,  Provinsi Sumatera Utara,
33. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 
34. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur,
35. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.  Kabupaten Jember,  Provinsi  Jawa Timur
Tanah longsor menutup sebagian badan jalan dan masih ada celah yang bisa dilewati kendaraan, panjang tanah longsor sekitar 10 meter, dengan ketinggian sekitar 20 meter. Akibat tanah longsor Arus lalu lintas dari Jember-Banyuwang macet total. 
https://news.detik.com/berita/d-3744247/longsor-di-gumitir-arus-lalu-lintas-jember-banyuwangi-tersendat 
Penyebab runtuhan batu itu terjadi sifat materialnya yang lapuk dan tebal, karena lereng yang terjal dan sistem hidrologi lereng dan sistem drainase.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan longsor.
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan pengguna jalan agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Segera membersihkan material longsoran dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan.
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.
• Membuat perkuatan lereng agar longsoran tidak meluas serta menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agar air tidak masuk ke area longsoran.

2.Kabupaten Tuban, Provinsi Jatim
Rumah milik Judi (45), warga Dusun Krajan, Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, rusak parah setelah tergerus dan tertimbun tanah longsor, Senin (27/11/2017). peristiwa itu berawal dari hujan beberapa hari lalu yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam. Kondisi tanah yang labil dan terus diguyur hujan, mengkibatkan tanah di belakang rumah warga itu longsor. Lantaran jarak longsor yang terlalu dekat dengan rumah, membuat tembok belakang rumahnya langsung ambrol hingga beberapa meter.
http://beritajatim.com/peristiwa/314516/tanah_longsor_jebol_tembok_rumah,_pemilik_panik.html
Penyebab gerakan tanah diduga selain kemiringan lereng , kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran agar selalu waspada terutama saat hujan deras;
• Warga yang terdampak harap mengungsi ke tempat yang lebih aman.
• Segera membangun bangun penahan erosi sungai.
• Memasang rambu peringatan rawan bencana longsor.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

3. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat
Hujan lebat sejak pagi mengakibatkan banjir dan longsor di beberapa lokasi di Pesisir Selatan, Senin (27/11). Gerakan tanah / tanah longsor  melanda daerah Sungai Lundang, Kecamatan Koto XI Tarusan pukul 16.00 WIB yang menutupi badan jalan. Untuk menyingkirkan longsor telah diturunkan alat berat dari arah Padang dan Painan.
http://hariansinggalang.co.id/banjir-dan-longsor-tutup-akses-padang-painan/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat terkikis oleh arus aliran, kondisi tanah yang labil, tebing yang sangat terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran tanah. 
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

4. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat 
Jalan jurusan jalur wisata Sembalun Kabupaten Lombok Timur mengalami longsor dan nyaris menutup seluruh badan jalan, Senin (27/11/2017). Bencana longsor ini ditengarai akibat adanya perbaikan jalan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat di kawasan obyek wisata andalan daerah Patuh Karya itu. Akibatnya, jalur menanjak dan tikungan itu pun menjadi macet karena ruas jalan tertutup material longsor. Para pengendara kendaraan terpaksa memutar haluan melalui jalur Sambalia meski jarak tempuh lebih jauh.  Longsor terjadi dua kali, pagi sekitar pukul 08.30 Wita dan sore sekitar pukul 17.30 Wita.
http://lombokita.com/jalur-wisata-sembalun-longsor-jalan-dipenuhi-material/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah yang labil, kegiatan perbaikan jalanjuga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.
Rekomendasi :
• Masyarakat sebaiknya tidak melakukan aktifitas di sekitar tebing atau lereng yang terjal dan daerah yang rawan gerakan tanah, agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Pemasangan rambu – rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


5. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara 
Gerakan tanah / tanah longsor  di Kecamatan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara pada tanggal 27 November  2017 mengakibatkan akses jalan menuju pelabuhan Danau Toba, Samosir, terputus total.  Akibat longsor tersebut, kendaraan sama sekali tidak bisa melintasi jalan utama Kecamatan Tigaras tersebut. Jalan itu longsor sangat parah sedalam 10 meter dan sepanjang 20 meter. 
http://www.tagar.id/longsor-parah-akses-ke-danau-toba-putus-total/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal , dengan batuan dan tanah yang tidak stabil serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.



Bandung; 28 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani