Laporan Kebencanaan Geologi 30 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY: 

Hari ini, Kamis 30 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 1500-2000 m di atas puncak condong kearah barat-baratdaya. Pada pukul 17:25 WITA terjadi letusan dengan kolom dan tinggi asap tidak teramati karena gunung tertutup kabut.Rekaman seismograf Tanggal 29 Nopember 2017 tercatat:- 23 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 9 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 4 kali Gempa Tektonik Jauh- 1 kali Gempa Letusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 2 mm. Tremor overscale pukul 17: 29 sd 18:21 WITA.
Tanggal 30 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dan 93 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu teramati setinggi 1500-2000 m diatas puncak. Teramati guguran lava sejauh 700-2000 m ke arah timur-tenggara, serta 1 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2000 m mengarah ke timur, tenggara.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 09:33 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan-baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur-tenggara. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-12,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati 2 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 400-900 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Nopember 2017 pukul 06:40 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah utara-selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 29 November 2017 tercatat:- 106 kali gempa letusan- 69 kali gempa Hembusan- 32 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 29 Nopember 2017 tercatat:- 35 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Tornilo
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
3. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.
4. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
6. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
7. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
8. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
9. Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
10. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.
11. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur.
12. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.
13. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barata.
Gerakan tanah / tanah longsor menimpah ruas jalan nasional Padang – Bengkulu, tepatnya di Bukit Ransam, Pesisir Selatan pada , Rabu (29/11/2017) dan  di Duku, Kecamatan Koto XI Tarusan, 

Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng, tingkat pelapukan yang tinggi,   serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak1. Gerakan Tanah terjadi di Kampung Jlagran RT 01/RW 01, Desa Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017 mengakibatkan tiga orang tewas2. Gerakan tanah terjadi di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017. mengakibatkan sejumlah bangunan rusak, fasilitas umum rusak.3. Gerakan tanah terjadi di Dusun Bukul, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Terjadi pada hari selasa, 28 November 2017, pukul 16.15 wib. mengakibatkan akses jalan raya Ponorogo – Pacitan tertutup material longsoran4. Gerakan tanah terjadi di Kampung Pasirmala, Desa Selagedang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.  Gerakan tanah ini terjadi pada Selasa, 28 November 2017. mengakibatkan 4 (empat) rumah rusak.5. Gerakan tanah terjadi di Kampung Pasirkalili, Desa Sukabungah, Kecamatan Campaka Mulya,  Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, terjadi pada Selasa, 28 November 2017 mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak, 7 (tujuh) rumah terancam, 9 (sembilan) hektare sawah rusak.6. Gerakan tanah terjadi di Kecamatan Sindangbarang, Leles dan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terjadi pada hari Selasa, tanggal 28 November 2017. mengakibatkan puluhan rumah rusak, jembatan terputus, jalan utama tertimbun material longsoran.7. Gerakan tanah terjadi di RT 05/ RW 02, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kabupaten Semarang. Provinsi Jawa Tengah.Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017 pukul 14.30 WIB. mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak.8. Gerakan tanah terjadi di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh; Ciaul Pasir, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole; Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum; Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017. mengakibatkan jalan tertutup longsoran9. Gerakan tanah terjadi di Jalan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, dan di Jalan Seyegan-Godean, Dusun Klaci, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017 mengakibatkan1 (satu) rumah rusak; di Kecamatan Godean jalan tertimbun material longsoran.10. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi pada (29/11/2017).sekitar pukul 02.00 dini , di rumah warga Desa Soko Agung RT 04/ RW 02, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah mengakibatkan1 orang meninggal dunia, dan 1 orang mengalami luka-luka.11. Gerakan tanah / tanah longsor pada   tebing setinggi 25 meter di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur pada 29 November 2017 mengakibatkan permukiman terancam dan irigasi terputus12. Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi pada  Selasa (28/11/2017) malam sekitar pukul 20.00 WIB di Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah pada Rabu (29/11/2017) pagi.  mengakibatkan 3 tewas dan 1 terluka13. Gerakan tanah / tanah longsor menimpah ruas jalan nasional Padang – Bengkulu, tepatnya di Bukit Ransam, dan  di Duku, Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat  pada , Rabu (29/11/2017) mengakibatkan jalan terputus dan satu orang luka.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 1500-2000 m di atas puncak condong kearah barat-baratdaya. Pada pukul 17:25 WITA terjadi letusan dengan kolom dan tinggi asap tidak teramati karena gunung tertutup kabut.Rekaman seismograf Tanggal 29 Nopember 2017 tercatat:- 23 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 9 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 4 kali Gempa Tektonik Jauh- 1 kali Gempa Letusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 2 mm
Tanggal 30 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dan 93 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu teramati setinggi 1500-2000 m diatas puncak. Teramati guguran lava sejauh 700-2000 m ke arah timur-tenggara, serta 1 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2000 m mengarah ke timur, tenggara.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur-tenggara. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-12,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati 2 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 400-900 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah utara-selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 29 November 2017 tercatat:- 106 kali gempa letusan- 69 kali gempa Hembusan- 32 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 29 Nopember 2017 tercatat:- 35 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Tornilo
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.VONA terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 09:33 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan-baratdaya.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Nopember 2017 pukul 06:40 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


II. DETAIL
 
2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta*,
2. Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta*, 
3. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur*,
4. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*,
5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*,
6. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*,
7. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah*,
8. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*,
9. Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta*,
10. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah*,
11. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur*.
12. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah*,
13. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat*,
14. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, 
15. Kabupaten  Wonogiri, Jawa Tengah, 
16. Kabupaten  Lebak, Provinsi Banten, 
17. Kabupaten. Kulon Progo, DI Yogyakarta, 
18. Kota Sungaipenuh, Provinsi Jambi, 
19. Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 
20. Kota Yogyakarta, DIY, 
21. Kabupaten Jember,  Provinsi  Jawa Timur, 
22. Kabupaten Tuban, Provinsi Jatim,
23. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat,
24. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat,
25. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara,   
26. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 
27. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, 
28. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
29. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, 
30. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, 
31. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, 
32. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur,
33. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 
34. Kota Padang, Sumatera Barat, 
35. Kabupaten Solok, Sumatera Barat , 
36. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta,
37. Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur, 
38. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
39. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan,
40. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan,
41. Kabupaten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat, 
42. Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur,
43. Kabupaten Badung, Provinsi Bali,
44. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, 
45. Kabupaten  Gunungkidul, Provinsi  DI Yogyakarta, 
46. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Gerakan tanah terjadi di Kampung Jlagran RT 01/RW 01, Desa Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah istimewa Yogyakarta, terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017. Dampak dari gerakan tanah ini mengakibatkan 3 (tiga) orang meninggal dunia.
Sumber : http://m.liputan6.com/regional/read/3178935/nenek-dan-cucu-korban-longsor-yogya-tewas-dalam-posisi-berpelukan?
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil.
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.
• Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.

2. Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gerakan tanah terjadi di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017. Gerakan tanah ini mengakibatkan 43 titik longsoran, sejumlah bangunan rusak, fasilitas umum rusak.
Sumber : http://m.liputan6.com/regional/read/3179023/hujan-deras-43-titik-longsor-dan-56-pohon-tumbang-di-bantul?
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama.
Rekomendasi : 
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Warga yang terdampak harap segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.

3. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.
Gerakan tanah terjadi di Dusun Bukul, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Terjadi pada hari selasa, 28 November 2017, pukul 16.15 wib. Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah ini mengakibatkan akses jalan raya Ponorogo – Pacitan tertutup material longsoran dengan panjang 50 meter.
Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2017/11/28/tertutup-longsor-setinggi-25-meter-jalur-ponorogo-pacitan-ditutup-total.
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil.
Rekomendasi : 
• Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Material longsoran yang menutup jalan agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Memasang rambu-rambu peringatan rawan longsor.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

4. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
Gerakan tanah terjadi di Kampung Pasirmala, Desa Selagedang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.  Gerakan tanah ini terjadi pada Selasa, 28 November 2017, Gerakan tanah ini mengakibatkan 4 (empat) rumah rusak.Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/11/28/p04mv0415-6-kecamatan-di-cianjur-dilanda-longsor-dan-pergerakan-tanah.
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil. 
Rekomendasi : 
• Material longsoran agar segera dibersihkan.
• Agar masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di wilayah ini lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan.
• Warga yang terdampak harap segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
Gerakan tanah terjadi di Kampung Pasirkalili, Desa Sukabungah, Kecamatan Campaka Mulya,  Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017. Gerakan tanah ini mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak, 7 (tujuh) rumah terancam, 9 (sembilan) hektare sawah rusak.
Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/11/28/p04mv0415-6-kecamatan-di-cianjur-dilanda-longsor-dan-pergerakan-tanah.
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil.
Rekomendasi : 
• Agar masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di wilayah ini lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan.
• Warga yang terdampak harap segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

6. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
Gerakan tanah terjadi di Kecamatan Sindangbarang, Leles dan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terjadi pada hari Selasa, tanggal 28 November 2017. Gerakan tanah ini mengakibatkan puluhan rumah rusak, jembatan terputus, jalan utama tertimbun material longsoran.
Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/11/28/p04mv0415-6-kecamatan-di-cianjur-dilanda-longsor-dan-pergerakan-tanah.
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil. 
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Perbaikan drainase untuk memperlancar aliran air permukaan. Dibuat drainase yang memadai agar air tidak menjenuhi lereng serta material longsoran dibersihkan. 
• Jangan mendirikan permukiman di bawah tebing yang terjal.
• Pemotongan lereng untuk mendirikan perumahan agar memperhatikan kestabilan lereng dan agar dikonsultasikan dengan ahlinya.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dan dalam pengerjaan pembersihan jangan pada saat hujan dan setelah hujan.

7. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Gerakan tanah terjadi di RT 05/ RW 02, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kabupaten Semarang. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017 pukul 14.30 WIB. Gerakan tanah ini  mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak.
Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2017/11/28/bencana-longsor-bikin-rumah-warga-di-candisari-semarang-menggantung
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama.
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan.
• Dibuat tembok penahan tebing di bagian atas dan bawah lereng dengan pondasi harus dalam sampai batuan dasar yang stabil.
• Jangan mendirikan permukiman di bawah tebing yang terjal.
• Pemukiman seharusnya memiliki jarak dari sungai berkisar kurang lebih 50 meter.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dan dalam pengerjaan pembersihan jangan pada saat hujan dan setelah hujan.

8. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Gerakan tanah terjadi di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh; Ciaul Pasir, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole; Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum; Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017, gerakan tanah ini mengakibatkan akses jalan di  Ciaul Pasir, Kecamatan Cikole tertutup material longsoran.
Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/11/28/p04od9366-bencana-longsor-terjang-lima-titik-kota-sukabumi.
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil.
Rekomendasi : 
• Agar masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan. Dibuat drainase yang memadai agar air tidak menjenuhi lereng serta material longsoran dibersihkan. 
• Jangan mendirikan permukiman di bawah tebing yang terjal.
• Material longsoran agar segera dibersihkan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

9. Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gerakan tanah terjadi di Jalan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, dan di Jalan Seyegan-Godean, Dusun Klaci, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017, gerakan tanah di Kecamatan Prambanan mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak; di Kecamatan Godean jalan tertimbun material longsoran.
Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/11/28/p04m6p282-ada-tiga-titik-longsor-dan-lima-pohon-tumbang-di-sleman
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil.
Rekomendasi : 
• Agar masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan. Dibuat drainase yang memadai agar air tidak menjenuhi lereng serta material longsoran dibersihkan. 
• Jangan mendirikan permukiman di bawah tebing yang terjal.
• Material longsoran agar segera dibersihkan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.
• Memasang rambu peringatan rawan longsor.

10. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi pada (29/11/2017).sekitar pukul 02.00 dini , saat hujan deras yang mengguyur Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah sejak beberapa hari terakhir . Akibatnya 1 orang meninggal dunia, dan 1 orang mengalami luka-luka. Tebing setinggi sekitar 15 meter ambrol dini hari tadi dan menimpa rumah milik Budi Wiyono (60), warga Desa Soko Agung RT 04/ RW 02, Kecamatan Bagelen. Pemilik rumah Budi Wiyono meninggal dunia dalam kejadian tersebut, sedangkan istrinya Sumarni (58) selamat dan hanya mengalami luka ringan.
Sumber :https://news.detik.com/jawatengah/3747631/longsor-terjang-rumah-warga-di-purworejo-1-orang-tewas
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah  yang berasal dari lereng bukit, materialnya menimbun pemukiman di bawah lereng. Penyebab gerakan tanah adalah pelapukan tanah yang tebal, kemiringan lereng yang terjal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Segera membersihkan material longsoran dan pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Masyarakat yang terkena dampak diharapkan dievakuasi ke tempat yang lebih aman;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat

11. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah / tanah longsor pada   tebing setinggi 25 meter di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari,  Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dan mengancam rumah warga yang hanya beberapa meter dari tebing, sehingga mereka terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya. Longsor tersebut diawali oleh tingginya curah hujan. selama 15 hari hujan terus, kadang sampai malam, bahkan kadang sampai pagi. Tanah longsor juga menutup sungai yang biasa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan irigasi yang mengaliri sawah dengan luas sekitar 12 hektare dan kolam warga di daerah itu. Di sejumlah ruas bukit dekat perkampungan warga tersebut, juga sudah ada beberapa retakan yang salah satunya berupa  retakan dengan lebar 12 sentimeter dan panjang hingga 15 meter. Dikhawatirkan, retakan itu bisa memicu terjadinya longsor susulan.
Sumber https://www.antaranews.com/berita/667906/tebing-setinggi-25-meter-di-blitar-longsor

12. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi pada  Selasa (28/11/2017) malam sekitar pukul 20.00 WIB di saat hujan mengguyur deras-derasnya mengakibatkan tiga  warga ditemukan tidak bernyawa tertimbun longsoran tanah di Dlempih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Rabu (29/11/2017) pagi.  Keduanya merupakan ibu dan anak masing-masing Suyati, 65, dan Sri, 40, warga Dusun Bengle RT 002/RW 005 Desa Dlepih, dan  warga  bernama Wagiyah,75, alamat Dusun Nglencung RT 02 RW 08 Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Seorang lagi mengalami luka berat atas nama Sudarno, warga Dusun Nglencung, Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Kejadian diawali saat warga  mendengar suara ledakan keras dari atas bukit kemudian disusul bunyi bergemuruh. Tak berselang lama, warga berlarian menyelamatkan diri.  Warga yang dievakuasi  sebanyak 1.100 jiwa di Desa Dlepih. Para pengungsi sudah berangsur berkurang karena mereka kembali ke rumahnya masing-masing ada 480 jiwa
Sumber  :
http://www.solopos.com/2017/11/29/ibu-anak-meninggal-berpelukan-tertimbun-longsor-di-tirtomoyo-wonogiri-872790
https://www.jawapos.com/read/2017/11/29/171493/korban-meninggal-akibat-longsor-wonogiri-bertambah
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan yang berasal dari lereng bukit, materialnya menimbun pemukiman di bawah lereng. Penyebab gerakan tanah adalah pelapukan tanah yang tebal, kemiringan lereng yang terjal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Segera membersihkan material longsoran dan pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Masyarakat yang terkena dampak diharapkan dievakuasi ke tempat yang lebih aman;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

13. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat
Gerakan tanah / tanah longsor menimpah ruas jalan nasional Padang – Bengkulu, tepatnya di Bukit Ransam, Pesisir Selatan pada , Rabu (29/11/2017). Longsor terjadi akibat tingginya curah hujan beberapa hari belakangan. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, longsor membuat arus transportasi Padang-Bengkulu lumpuh beberapa jam. Longsor sangat cepat terjadi, dan menimbun badan jalan yang mengakibatkan arus lalulintas lumpuh. Sementara di Duku, Kecamatan Koto XI Tarusan, sepanjang 30 meter bahu jalan dan beton pengaman terban digerus banjir, namun sejauh ini belum menganggu arus lalulintas.
Sumber http://hariansinggalang.co.id/jalan-padang-bengkulu-longsor/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan yang materialnya menimbun bahu jalan. Penyebab gerakan tanah adalah pelapukan tanah yang tebal, kemiringan lereng yang terjal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan.
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.



Bandung; 30 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani