Perkembangan Terkini Aktivitas Gunung Agung (1 Desember 2017 21:00 Wita)

gagung29nov

Berikut ini kami sampaikan evaluasi aktivitas Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali berdasarkan data pengamatan dari berbagai parameter:

A. Analisis Data Pemantauan 

  1. Visual
    • Setelah mengalami swarm (rentetan) gempa vulkanik pada periode September-Oktober 2017, akhirnya sejak tanggal 21 November 2017 pada pukul 17:05 WITA fase erupsi Gunung Agung dimulai ditandai dengan semburan abu vulkanik setinggi 700 m di atas puncak. Pasca erupsi tersebut, erupsi selanjutnya terjadi kembali pada 25 November 2017 pada pukul 17:20 WITA dengan ketinggian mencapai 1500 m di atas puncak. Pada tanggal 26 dan 27 November 2017 erupsi terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 3000 m di atas puncak. Pada tanggal 28 November 2017 erupsi terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 4000 m di atas puncak. Ketinggian maksimum kolom abu tersebut dilaporkan oleh Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) melebihi dari tinggi asap yang teramati di darat, hal ini dimungkinkan karena ketinggian asap yang dilaporkan oleh PVMBG adalah ketinggian asap saat masih bergerak vertikal (belum terpecah). Pada tanggal 29 November 2017 erupsi terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 2000 m di atas puncak. Sejak tanggal 30 September 2017 hingga hari ini teramati asap tampak berwarna putih dengan ketinggian maksimum mencapai 2000 m di atas puncak.

    • Pada malam hari, hingga malam ini, teramati sinar api yang memancar dari kawah Gunung Agung. Teramatinya sinar api (glow) di atas kawah Gunung Agung dimungkinkan terjadi karena adanya lava bertemperatur tinggi di dalam kawah. Intensitas cahaya dari lava terpantul pada kolom asap menyebabkan fenomena sinar api ini teramati.

    • Aliran lahar telah terjadi pasca erupsi Gunung Agung dan utamanya mengalir pada sungai-sungai di sektor selatan Gunung Agung di antaranya di Tukad Yehsa, Tukad Sabuh dan Tukad Beliaung maupun di sektor utara Gunung Agung yaitu di Tukad Bara. Dampak dari aliran lahar ini tidak mengakibatkan korban jiwa. Namun demikian, lahar berdampak pada beberapa rumah, jalan dan areal pesawahan.

  2. Seismik

    • Kegempaan masih didominasi dengan kemunculan gempa-gempa dengan konten frekuensi tinggi termasuk gempa vulkanik dalam maupun dangkal. Hal ini mengindikasikan masih adanya pergerakan magma di kedalaman. Saat ini jumlah gempa vulkanik tidak lagi sebanyak periode September-Oktober 2017. Hal ini terjadi karena jalur magma menuju ke permukaan sudah lebih terbuka. Meskipun jumlahnya tidak banyak namun tidak berarti bahwa aktivitas vulkanik telah mereda. Gempa vulkanik yang terekam mengindikasikan bahwa akumulasi tekanan magma di Gunung Agung masih terjadi dan mampu untuk menghasilkan erupsi.

    • Tremor menerus dengan amplitudo di atas background hingga overscale (melebihi batas kemampuan alat untuk merekam) terus terekam sejak 28 November 2017 hingga hari ini (1 Desember 2017). Hal ini mengindikasikan adanya intensitas aktivitas yang tinggi di dekat permukaan berupa emisi gas dan/atau abu.

    • Gempa-gempa frekuensi rendah (low-frequency) beberapa kali terekam dan hal ini berkaitan dengan pergerakan fluida magmatik ke permukaan.

  3. Deformasi
    • Hasil pengukuran GPS tidak merekam adanya pola inflasi yang jelas menjelang terjadinya erupsi 21 dan 25 November 2017. Hal ini berbeda dengan pola yang ditunjukkan oleh GPS sebelum terjadinya swarm (rentetan gempa vulkanik) pada periode September-Oktober 2017. Saat itu GPS menunjukkan terjadinya inflasi beberapa sentimeter di tubuh Gunung Agung sejak Agustus 2017 hingga pertengahan September 2017.

    • Pola yang ditunjukkan oleh pengukuran tiltmeter yaitu berupa inflasi sebelum terjadinya erupsi dan deflasi setelah erupsi berlangsung, dimana hal ini umum teramati di gunungapi lainnya. 

  4. Geokimia
    • Hasil uji laboratorium pada abu vulkanik yang dihasilkan oleh erupsi pembuka 21 November 2017 menunjukkan adanya kandungan juvenile (material magma baru). Material abu juga teridentifikasi berasal dari material lava erupsi 1963. Berdasarkan hasil uji laboratorium ini, dapat disimpulkan bahwa erupsi pertama Gunung Agung terjadi secara freatomagmatik. Erupsi ini dapat terjadi ketika magma baru berinteraksi dengan air pada sistem aquifer di bawah kawah Gunung Agung.

    • Sebelum terjadi erupsi 21 November 2017, gas CO2 dapat terukur dengan konsentrasi yang tinggi oleh peralatan MultiGAS yang diterbangkan dengan menggunakan Drone. Namun demikian, konsentrasi gas SO2 saat itu belum terukur. Pasca erupsi 21 November 2017 hingga hari ini konsentrasi gas SO2 masih secara konsisten terus terukur. Konsentrasi SO2 teramati cukp tinggi pada periode tanggal 26-27 November 2017, setelah itu konsentrasi SO2 terukur relatif menurun.

  5. Penginderaan Jauh Satelit
    • Data satelit secara konsisten merekam titik panas (hotspot) pada tanggal 27, 28 dan 29 November 2017 dengan temperatur berkisar 286.6-298.8 +/- 6 derajat celsius dengan daya maksimum mencapai 97 megawatt. Nilai temperatur yang terekam satelit mesti dilihat sebagai estimasi minimum dimana nilai sesungguhnya dapat lebih tinggi, kemungkinan dapat berada pada kisaran 900-1200 derajat celsius, berdasarkan perbandingan dengan lava dari erupsi 1963 di Gunung Agung.

    • Data satelit juga mengindikasikan bahwa erupsi efusif (aliran lava ke permukaan) masih terjadi di dalam kawah.

    • Erupsi efusif ini berimplikasi pada penambahan volume lava di dalam kawah dengan estimasi volume lava saat ini mencapai sekitar 20 juta meter kubik atau sepertiga dari volume total kawah.

B. Kesimpulan 
  1. Berdasarkan analisis data multi-parameter, dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini (1 Desember 2017) aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi dan masih berada dalam fase erupsi. Oleh karena itu, status Gunung Agung hingga saat ini masih berada pada Level IV (Awas). Masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari Kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari Kawah Gunung Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual/terbaru.

  2. Masih aman untuk berwisata di Bali selama tidak memasuki Zona Perkiraan Bahaya tersebut di atas.

Kementerian ESDM 
Badan Geologi 
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

   

<Berita Terkini>