Laporan Kebencanaan Geologi 04 Desember 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY: 

Hari ini, Senin 04 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 500-1000 m di atas puncak condong kearah tenggara dan timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari lava pijar di kawah puncak. Pada hari ini tidak terjadi erupsi eksplosif dan tidak terekam tremor over scale.Rekaman seismograf Tanggal 3 Desember 2017 tercatat:- 8kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 17 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.- 17 kali Low Frequency.- 4 kali Gempa Hembusan.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm dominan 1 mm.
Tanggal 04 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Low Frequency.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Nihil Tektonik Lokal.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah teramati 100-400 m. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi letusan dan 90 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak gunung tertutup kabut. Guguran lava juga teramati meluncur sejauh 1000-2000 m  ke lereng selatan, tenggara, dan timur. Erupsi tidak disertai oleh awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Desember 2017 Pukul 14:14 WIB, terkait letusan selama 231 detik. Puncak tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm). Secara visual tidak teramati erupsi maksimum. Erupsi menerus dengan mengepulkan kolom abu tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 200-400 m di atas puncak. Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 200-500 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 03 Desember 2017 tercatat:- 83 kali gempa letusan- 24 kali gempa Hembusan- 23 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis 5-50 m. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 03 Desember 2017 tercatat:- 70 kali Gempa Hembusan- 1 kali Tremor Harmonik.- Nihil Gempa Tornilo.- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam- Nihil Tektonik Lokal
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  November  2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1.  Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah 
2.  Kota Sabang, Provinsi Aceh, 
3.  Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. 
4. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah 
5. Kabupaten Bangkalan (Madura) , Provinsi Jawa Timur
6. Kota Subulussalam, Provinsi Aceh
7. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
8. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh 

Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng dan tebing sungai, tingkat pelapukan yang tinggi, drainase tidak berfungsi, pondasi talud yang tidak kuat, kurangnya vegetasi berakar kuat dibagian atas tebing dan dipicuh oleh curah hujn tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah 

Dampak
1. Gerakan tanah di sejumlah titik ruas jalan yang menghubungkan Muara Teweh-Desa Benangin Kecamatan Teweh Timur Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah ( informasi 3 Desember 2017 ) mengakibatkan  akses jalan dan lalu lintas  terhambat
2. Gerakan tanah di ruas jalan tanjakan Cot Murong menuju lokasi wisata Pantai Gapang, Iboih serta Tugu Kilomoter Nol Indonesia, Kota Sabang, Provinsi Aceh ( informasi 3 Desember 2017) mengakibatkan jalan tertimbun dan akses jalan serta  lalu lintas terhambat.
3. Gerakan tanah di Jalan KKA yang merupakan jalan lintas Aceh Utara ke Bener Meriah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh pada Hari Minggu Siang, 3 Desember 2017 mengakibatkan  jalan terputus dan lalu lintas terhambat.
4. Gerakan tanah pada  tebing pemukiman di  kecamatan, Kaloran, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah  pada tanggal 01-12-2017 mengakibatkan 1 rumah warga rusak  tertimpa longsoran.
5. Gerakan tanah di Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi dan  Desa Bandang Laok, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan (Madura) , Provinsi Jawa Timur (Informasi Minggu (3/12/2017)) mengakibatkan rumah warga terancam dan jalan terputus.
6. Gerakan tanah di  ruas jalan nasional Subulussalam-Medan Sumatera Utara di Desa Cepu, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh. (Informasi 3 Desember 2017 )  mengakibatkan satu rumah warga terbawa longsor, beberapa rumah dan penghuninya pindah serta jalan terancam.

7. Gerakan tanah di lokasi pemakaman yang terletak di Gang 45 Kelurahan Sebengkok dan dua rumah  di RT 7 Kelurahan Juata Permai, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara,  imbas  hujan deras yang terjadi sejak pukul 02.00 dini hari, Minggu (3/12/2017)   mengakibatkan pemakaman rusak dan dua rumah rusak berat.
8. Gerakan tanah di badan jalan nasional Bireuen-Takengon di Kilometer 22 Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Bireuen pada Minggu (3/12/2017) pukul 14:00 WIB mengakibatkan kemacetan dan   lalu lintas lumpuh
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih agak tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 500-1000 m di atas puncak condong kearah tenggara dan timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari lava pijar di kawah puncak. Hari ini tidak terjadi letusan. Tidak terekam tremor over scale.Rekaman seismograf pada Tanggal 03 Desember 2017 tercatat:- 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 17 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.- 17 kali Low Frequency- 4 kali Gempa Hembusan.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm dominan 1 mm.
Tanggal 04 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Low Frequency.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Nihil Tektonik Lokal.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah teramati 100-400 m dari puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi letusan dan 90 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 1000-2000 m ke lereng selatan, tenggara, dan timur. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm). Secara visual tidak teramati erupsi dengan kolom abu maksimum. Erupsi dengan kolom abu tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 200-400 m di atas puncak. Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunung tampak jelas dan secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang dengan ketinggian 200-500 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 03 Desember 2017 tercatat:- 83 kali Gempa Letusan- 24 kali Gempa Hembusan- 23 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 5-50 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 03 Desember 2017 tercatat:- 70 kali Gempa Hembusan- 1 kali Tremor Harmonik.- Nihil Gempa Tornilo- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam- Nihil Tektonik Lokal.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.VONA terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Desember 2017 Pukul 14:14 WIB, terkait  letusan selama 231 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan November     2017 , pada bulan Desember   2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.  Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah*, 
2.  Kota Sabang, Provinsi Aceh*, 
3.  Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh*, 
4. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah*, 
5. Kabupaten Bangkalan (Madura) , Provinsi Jawa Timur*, 
6. Kota Subulussalam, Provinsi Aceh*, 
7. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara*, 
8. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh*, 
9. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,
10.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur,
11. Kota Lhokseumawe , Provinsi Aceh, 
12. Kabupaten Indramayu, Provinsi  Jawa Barat, 
13. Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, 
14. Kabupaten Bireun, Provinsi  Aceh, 
15. Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, 
16. Kabupaten Pacitan, Provinsi  Jawa Timur, 
17. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
18. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
19. Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta,   
20. Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 
21. Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 
22.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur,
23.Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
24. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
25. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
26. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah,
27. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
28. Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
29. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
30. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur.
31. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah,
32. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,
33. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, 
34. Kabupaten  Wonogiri, Jawa Tengah, 
35. Kabupaten  Lebak, Provinsi Banten, 
36. Kabupaten. Kulon Progo, DI Yogyakarta, 
37. Kota Sungaipenuh, Provinsi Jambi, 
38. Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 
39. Kota Yogyakarta, DIY.
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.  Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah
Sejumlah titik ruas jalan yang menghubungkan Muara Teweh-Desa Benangin Kecamatan Teweh Timur Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mengalami longsor dan jalan amblas sehingga perlu dilakukan penanganan khusus. Kawasan longsor dan amblas itu ada sekitar lima titik lebih dan terbanyak berada di wilayah Malawaken Kecamatan Teweh Baru hingga Benangin Kecamatan Teweh Timur. Ruas jalan yang mengalami longsor yang cukup parah terjadi dari jembatan Sei Urei di wilayah Desa Sabuh Kecamatan Teweh Timur sampai Benangin.  Camat Teweh Timur, Sudiyono mengakui ruas jalan Muara Teweh - Benangin terjadinya  longsor sudah terjadi dalam sebulan terakhir ditambah tingginya curah hujan di wilayah tersebut, karena aliran air yang deras melintasi jalan tersebut. Ruas jalan yang longsor ini merupakan jalan negara yang menghubungkan wilayah Kabupaten Barito Utara dengan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. 
Sumber berita : 
https://www.antaranews.com/berita/668582/jalan-muara-teweh-benangin-longsor-di-beberapa-titik
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diakibatkan kemiringan lereng yang terjal, pelapukan tanah yang tebal serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali;• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang dapat  menimpa petugas kebersihan;• Memasang rambu peringatan rawan longsor;• Melakukan penguatan pada lereng;• Tidak mendirikan/mengembangkan pemukiman dibawah lereng yang terjal;• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.

2.  Kota Sabang, Provinsi Aceh
Curah  hujan deras sepekan terakhir menyebabkan gerakan tanah / tanah longsor pada ruas jalan Tanjakan Cot Murong menuju lokasi wisata Pantai Gapang, Iboih serta Tugu Kilomoter Nol Indonesia ( informasi pada tanggal 3 Desember 2017) . Dampaknya jalan tertimbun material longsor yang terdiri dari batu batuan maupun tanah. Para pengguna jalan menuju ke kawasan wisata Pantai Gapang, Iboih serta tugu Kilometer Nol diminta agar meningkatkan kewasppadaannya saat melintas jalan Tanjakan Cot Murong Gampong (desa) Iboih, Kecamatan Sukakarya, Sabang Provinsi Aceh. 
Sumber berita :
https://www.antaranews.com/berita/668597/longsor-tutupi-badan-jalan-cot-murong-sabang
https://www.gonews.co/berita/baca/2017/12/03/longsor-di-sabang-tutupi-badan-jalan-cot-murong/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal serta mudah menyerap air, curah hujan yang tinggi. Jenis gerakan tanah merupakan tipe aliran bahan rombakan 
Rekomendasi:
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.• Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3.  Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Akibat tingginya curah hujan menyebabkan gerakan tanah / tanah longsor menimpah kembali  Jalan KKA yang merupakan jalan lintas Aceh Utara ke Bener Meriah: • Pada Minggu (3/12/2017) siang , di KM 32 dan KM 39, yang masih dalam wilayah Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Khusus longsor yang terjadi di KM 39, hampir setengah badan jalan rusak, sehingga kendaraan masih dapat lewat, sedangkan longsor terparah terjadi di KM 32, dimana hampir seluruh badan jalan ambruk, sehingga sangat sulit dilintasi mobil.• Pada Jumat (1/12/2017) sore, jalan lintas tersebut juga longsor, yakni di KM 42, yang juga masih kawasan Nisam, Aceh Utara.
Sumber :
http://aceh.tribunnews.com/2017/12/03/breakingnews-jalan-lintas-kka-longsor-lagi
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal serta mudah menyerap air, curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

4. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah
Hujan dengan intensitas yang tinggi dengan durasi yang panjang  menyebabkan  gerakan tanah / tanah longsor pada  tebing pemukiman sepanjang 12 meter dengan ketinggian 5 meter di  kecamatan, Kaloran, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah  pada tanggal 01-12-2017. Akibatnya  1 rumah warga tertimpa longsoran,namaun tidak ada korban jiwa. 
Sumber  :
http://penanggulangankrisis.kemkes.go.id/Tanah%20Longsor-di-TEMANGGUNG-JAWA%20TENGAH-01-12-2017-32
Penyebab  gerakan tanah diperkirakan akibat  pemukiman terlalu dekat dengan tebing, tanah pelapukan yang tebal serta mudah menyerap air, kurangnya vegetasi berakar kuat dibagian atas tebing dan dipicuh oleh curah hujn tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah berupa longsoran tanah.

5. Kabupaten Bangkalan (Madura) , Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi  di dua desa yaitu di Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi dan di Desa Bandang Laok, Kecamatan Kokop (Informasi Minggu (3/12/2017)) :• Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, pelengsengan penahan sungai ambrol dan sudah mendekati bangunan warga sekitar.• Desa Bandang Laok, Kecamatan Kokop, jembatan yang menghubungkan ke 3 desa, penahan tanahnya labil akibat di gerus air dan untuk sementara tidak bisa di lalui roda empat
Sumber  :
http://www.rri.co.id/post/berita/463644/daerah/dua_desa_di_bangkalan_dilanda_tanah_longsor.html
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat  didinding penahan sungai yang tidak kuat, rumah dibangun dekat tebing sungai, tanah pelapukan yang yang mudah menyerap air dan mudah tererosi, erosi sungai,  drainase air di jalan yang kurang baik menyebakan air melimpas ke jalan, dan dipicuh oleh curah hujan 
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan • Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan.• Dibuat tembok penahan tebing di bagian atas dan bawah lereng dengan pondasi harus dalam sampai batuan dasar yang stabil.• Jangan mendirikan permukiman di di dekat  tebing sungai dan pemukiman seharusnya memiliki jarak dari sungai berkisar kurang lebih 50 meter.• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

6. Kota Subulussalam, Provinsi Aceh
Gerakan tanah  kembali terjadi di dua titik di Desa Cepu, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Akibatnya ruas jalan nasional Subulussalam-Medan Sumatera Utara terancam putus.Tingginya  curah hujan sejak beberapa hari terakhir di wilayah Kota Subulussalam, yang menyebabkan tanah tergerus air. Selain itu, faktor belum adanya saluran drainase di daerah itu menjadi salah satu penyebab longsor di Desa Cepu. Pantauan pada 3 Desember 2017  : 1. Lokasi longsor pertama terjadi sebelah kanan arah Subulussalam menuju Medan dan hampir mendekati badan jalan . Satu unit rumah yang telah dibongkar sebelumnya diinformasikan terbawa longsor dengan kedalaman diperkirakan puluhan meter dan  beberapa rumah penduduk sudah tidak ditempati karena khawatir longsor.2. Titik longsor kedua berada sekitar 30 meter dari yang pertama, meski telah dibangun talut tetapi longsor tetap terjadi dan memakan badan jalan sekitar empat meter dengan kedalaman sekitar lima meter. 
Sumber  :
http://portalsatu.com/read/news/longsor-di-subulussalam-ancam-badan-jalan-nasional-38099
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat  jalan di bangun dekat tebing, tanah pelapukan yang yang mudah menyerap air dan mudah tererosi, drainase air di jalan yang kurang baik menyebakan air melimpas ke jalan, dan dipicuh oleh curah hujan 
Rekomendasi  : 
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah serta tidak memaksakan diri selama situsi belum aman• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan• Segera memperbaiki jalan dengan  mempertimbangkan faktor pengaturan  saluran air air dibawah tubuh jalan.• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat


7. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara Kejadian Banjir dan dua kejadian gerakan tanah di dua lokasi  melanda kota Tarakan  imbas  terjadinya hujan deras yang terjadi sejak pukul 02.00 dini hari, Minggu (3/12/2017)   :
• Lokasi pemakaman yang terletak di Gang 45 Kelurahan Sebengkok, beberapa di antaranya banyak bergeser dari posisi semula.• Dua rumah  di RT 7 Kelurahan Juata Permai rusak parah dan salah satunya hampir rata dengan tanah .
Sumber  :
http://kaltara.prokal.co/read/news/15691-hujan-deras-longsor-ratakan-dua-rumah-warga.html
http://kaltara.prokal.co/read/news/15692-hiii-seremimbas-hujan-deras-kuburan-warga-ikut-longsor.html
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat  pemukiman dan pemakaman di bangun dekat tebing, tanah pelapukan yang yang mudah menyerap air dan mudah tererosi, drainase air di jalan yang kurang baik menyebakan air melimpas  dan menggerus makam, dan dipicuh oleh curah hujan . Jenis gerakan tanah  merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan • Perbaikan saluran drainase kedap untuk memperlancar aliran air permukaan dan tidak membiarkan bergerak mengalir bebas di lereng.• Dibuat tembok penahan tebing di bagian atas dan bawah lereng pemakaman  dengan pondasi harus dalam sampai batuan dasar yang stabil.• Jangan mendirikan permukiman di di dekat  tebing  dan tetap menjaga kelestarian vegetasi diatas tebing• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

8. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh 
Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan amblasnya badan jalan nasional Bireuen-Takengon di Kilometer 22 Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Bireuen  pada Minggu (3/12/2017) pukul 14:00 WIB .Badan jalan yang amblas mencapai  panjang 34 meter lebih dengan lebar 11 meter dan kedalaman 1 meter. Arus lalu lintas dari kedua arah lumpuh total sejak pukul 14.00 WIB dan hingga pukul 21.00 WIB, jalan belum bisa dilewati. Kemacetan dari dua arah terpantau mencapai lima kilometer.
Sumber  :
http://aceh.tribunnews.com/2017/12/03/jalannasional-km-22-krueng-simpo-amblas-bireuen-takengontak-bisa-dilewati 
http://www.ajnn.net/news/jalan-bireuen-takengon-nyaris-putus-dan-amblas/index.html
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat  jalan di bangun dekat tebing, tanah pelapukan yang yang mudah menyerap air dan mudah tererosi, drainase air di jalan yang kurang baik menyebakan air melimpas ke jalan, dan dipicuh oleh curah hujan 
Rekomendasi  : 
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah serta tidak memaksakan diri selama situsi belum aman• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan dan tidak membiarkan air melimpas ke jalan • Membangun dinding penahan erosi dengan harus dalam sampai batuan dasar yang stabil.• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.



Rendang, Bali, 04 Desember 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani