Laporan Kebencanaan Geologi 06 Desember 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY: 

Hari ini, Rabu 06 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih tipis tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 1500-2000 m di atas puncak condong kearah barat dan timur. Pada malam hari  teramati sebentar sinar api dari lava pijar di kawah puncak. Pada hari ini tidak terjadi erupsi eksplosif dan terekam tremor over scale .pada Pukul 14:41 WITA sekama 18 menit dan Pukul 16:26 WITA selama 24 menit. Rekaman seismograf Tanggal 05 Desember 2017 tercatat:- 12 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal- Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.- 44 kali Low Frequency.- 6 kali Gempa Hembusan.- 1 kali Tremor Harmonik.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 1 mm.
Tanggal 06 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Hembusan- 8 kali Gempa Low Frequency.- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 3 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Nihil Tektonik Lokal.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 6 kali erupsi letusan dan 48 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak gunung tertutup kabut. Erupsi tidak disertai guguran lava dan awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Desember 2017 Pukul 14:14 WIB, terkait letusan selama 231 detik. Puncak tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati tertutup kabut hingga jelas. Angin bertiup lemah ke arah timur. Tinggi kolom abu tebal tekanan sedang 200-400 m. Melalui rekaman seismograf terekam: -Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 4 mm).- Gempa letusan nihil.- Vulkanik Dalam nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tampak tertutup kabut. Asap kelabu tebal tekanan sedang tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 05 Desember 2017 tercatat:- 91 kali gempa letusan- 81 kali gempa Hembusan- 33 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis 10-20 m. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 05 Desember 2017 tercatat:- 27 kali Gempa Hembusan- Nihil Tremor Harmonik.- Nihil Gempa Fase Banyak.- Nihil Gempa Tornilo.- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal.- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam- Nihil Tektonik Lokal.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  November  2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah / tanah longsor terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.
2. Kabupaten Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah.
3. Kabupaten Tapanuli Tengah , Provinsi Sumatera Utara.
4. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
5. Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh.
6. Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.
7. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.
8. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.
9. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah 

Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng dan tebing sungai, tingkat pelapukan yang tinggi, pondasi bangunan tidak kuat, tidak ada didinding penahan erosi,  drainase tidak berfungsi, kurangnya vegetasi berakar kuat dibagian atas tebing dan dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah 

Dampak
1. Gerakan tanah di jalan lintas Tarutung-Sibolga di kawasan perbukitan Desa Adiankoting, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara hari Senin, 4 Desember 2017 menghambat lalu lintas
2. Gerakan tanah di Jembatan Sungai Kedungbener, Desa Bojongsari, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah pada hari Senin, 4 Desember 2017 mengakibatkan perkampungan warga dan badan jembatan menjadi terancam
3. Gerakan tanah di Kelurahan Pondok Batu Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, , Selasa (5/12/2017) mengakibatkan sebuah rumah rusak total
4. Gerakan tanah Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari , Semarang, Provinsi Jawa Tengah pada Selasa (5/12/2017) sekitar pukul 15.30 WIB  mengakibatkan rumah terancam roboh
5. Gerakan tanah di  Jalan Provinsi yang menghubungkan Lokop Serbejadi dan Pining, Gayo Lues, di kawasan Rampah, Kecamatan Lokop Serbejadi, Aceh Timur pada  Selasa 5 Desember 2017 sekitar  pukul 15.00 waktu setempat mengakibatkan jalan tersebut belum bisa dilalui, dan beberapa desa di Lokop Serbejadi terisolir. 
6. Gerakan tanah di  kawasan Jalan Mahoni, Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa (5/12/2017)  sejak dinihari mengakibatkan satu sekolah  SMP rusak.
7. Gerakan tanah Pura Taman di Banjar Kedui, Desa Tembuku, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali   pada Senin (4/12/2017) sore sekitar pukul 17.00 wita  mengakibatkan sebuah pura rusak
8. Gerakan tanah di  Jalan Lintas Sumatera  Sibolga–Tarutung di Km 25 Desa Naga Timbul kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatera Utara hingga siang ini, Selasa (5/12/2017), masih tertutup oleh timbunan tanah longsor dan lalu lintas terhambat
9. Gerakan tanah di jembatan penghubung antar desa yaitu jembatan layan Kali Gosek, Desa Pantirejo, Kecamatan Kesesi , Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah pada hari  Sabtu (2/12/2017)  mengakibatkan  jembatan terputus dan Desa Pantirejo terancam terisolir.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi

Gempa bumi di  baratlaut  Halmahera, Maluku Utara
Informasi Gempa Bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Selasa 5 Desember 2017, pukul 19:14:23 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 2.31°LS dan 126.84° BT dengan magnitudo 5.1 SR pada kedalaman 10 km berjarak 134 km  baratlaut Halmahera - Maluku utara
Kondisi Geologi Daerah Terdekat:
Pusat gempa bumi berada di Laut . Daerah yang terdekat dengan pusat gempabumi sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Kuarter, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan sedimen Tersier yang terlapukkan diperkirakan goncangan gempabumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempabumi.
Dampak Gempabumi: Sampai laporan ini dibuat belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat guncangan gempa bumi ini. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, walaupun pusat gempanya berada di laut, energi gempa ini tidak cukup kuat untuk menimbulkan tsunami.
Penyebab Gempa Bumi:
Berdasarkan posisi dan kedalamannya, kejadian gempabumi ini disebabkan aktivitas  subduksi punggungan Mayu di wilayah tersebut.
Rekomendasi;
- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
- Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih tipis tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 1500-2000 m di atas puncak condong kearah barat dan timur. Pada malam hari teramati sinar api dari lava pijar di kawah puncak. Hari ini tidak terjadi letusan. Terekam tremor over scale pada Pukul 14:41 WITA selama 18 menit dan pada Pukul 16:26 WITA selama 24 menit.Rekaman seismograf pada Tanggal 05 Desember 2017 tercatat:- 12 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihik Gempa Tektonik Lokal- Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.- 44 kali Low Frequency- 5 kali Gempa Hembusan.- 1 kali Tremor Harmonik.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 1 mm.
Tanggal 06 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Hembusan- 8 kali Gempa Low Frequency.- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 3 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)- Nihil Tektonik Lokal.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 6 kali erupsi letusan dan 48 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Erupsi tidak disertai guguran lava dan awan panas guguran.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup tampak jelas hingga berkabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Erupsi berupa hembusan menerus kolom abu tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang teramati 200-400 m dari puncak. Melalui rekaman seismograf terekam:- Tremor terkait hembusan abu menerus dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 4 mm).- Gempa Letusan nihil.- Vulkanik Dalam nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunung tampak berkabut dan secara visual hembusan asap kawah berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang tidak dapat diamati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 05 Desember 2017 tercatat:- 91 kali Gempa Letusan- 81 kali Gempa Hembusan- 33 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 10-25 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 05 Desember 2017 tercatat:- 27 kali Gempa Hembusan- Nihil Tremor Harmonik.- Nihil Gempa Tornilo- Nihil Gempa Fase Banyak.- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam- Nihil Tektonik Lokal.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.VONA terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Desember 2017 Pukul 14:14 WIB, terkait  letusan selama 231 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan November     2017 , pada bulan Desember   2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara*, 
2. Kabupaten Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah*, 
3. Kabupaten Tapanuli Tengah , Provinsi Sumatera Utara*, 
4. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah*,
5. Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh*,
6. Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur*,
7. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali*,
8. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara*, 
9. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah*, 
10. Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, 
11. Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 
12. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara,   
13. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, 
14. Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan, 
15. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur,   
16.  Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah , 
17.  Kota Sabang, Provinsi Aceh, 
18.  Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, 
19. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 
20. Kabupaten Bangkalan (Madura) , Provinsi Jawa Timur, 
21. Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, 
22. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, 
23. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh, 
24. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,
25.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur,
26. Kota Lhokseumawe , Provinsi Aceh, 
27. Kabupaten Indramayu, Provinsi  Jawa Barat, 
28. Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, 
29. Kabupaten Bireun, Provinsi  Aceh, 
30. Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, 
31. Kabupaten Pacitan, Provinsi  Jawa Timur, 
32. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
33. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
34. Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Tapanuli Utara,  Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di jalan lintas Tarutung-Sibolga di kawasan perbukitan Desa Adiankoting, Kec. Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada hari Senin, 4 Desember 2017 sekitar pukul 23.00 WIB. Gerakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing tepi jalan dan menghambat lalu lintas . 
Sumber berita: http://medan.tribunnews.com/2017/12/05/cuaca-buruk-jalan-lintas-sibolga-tarutung-longsor-seperti-ini
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang curam dan curah hujan yang tinggi. Dampaknya, arus lalulintas macet total akibat jalan yang tertimbun material longsoran.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
• Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalulintas kembali lancar.
• Membuat pelandaian pada lereng atau memberi jenjang/sengkedan agar kestabilan lereng meningkat.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.

2. Kabupaten Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah
Gerakan tanah  tanah longsor terjadi di samping Jembatan Sungai Kedungbener Dukuh Kedungbajul, Desa Bojongsari, Kec. Alian, Kab. Kebumen, Jawa Tengah pada hari Senin, 4 Desember 2017. Gerakan tanah berupa longsoran tanah pada bagian tanggul tebing Sungai Kedungbener yang pernah longsor pada akhir Oktober 2017 lalu. Akibat gerakan tanah ini, perkampungan warga dan badan jembatan menjadi terancam. 
Sumber: http://krjogja.com/web/news/read/51329/Pengikisan_Tanggul_Tebing_Jembatan_Kedungbener_Parah
Penyebab gerakan tanah diduga karena erosi arus Sungai Serawai, tebing yang curam, serta tanggul yang sudah rusak sebelumnya.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di sekitar jembatan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
• Segera memperbaiki tanggul tebing sungai yang rusak agar mampu menahan erosi dari aliran Sungai Kedungbener.
• Menghindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah hingga tanggul diperbaiki dan dinyatakan aman oleh pemerintah setempat.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Agar masyarakat mengikuti arahan pemerintah setempat dan instansi yang berwenang.

3. Kabupaten Tapanuli Tengah , Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah / tanah longsor di Kelurahan Pondok Batu Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, , Selasa (5/12). Akibatnya  sebuah rumah rusak total ditimbun longsor. Pemilik rumah, Eva Hutabarat saat ditemui awak media menceritakan, tanda-tanda longsor akan terjadi sudah terlihat sejak kemarin dengan  tanah dari bukit yang berdekatan dengan rumah kediamannya, mulai berjatuhan.
Sumber  :https://news.akurat.co/id-92814-read-satu-rumah-di-tapteng-tertimbun-longsor
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng, tingkat pelapukan yang tinggi,   serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Warga yang terdampak harap segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Membangun dinding penahan tebing agar stabil dengan pondosi mencapai batuan / tanah yang keras dan stabil.
• Agar tidak membangun pemukiman di dekat tebing  / lereng.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

4. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan Tanah /  Tanah longsor kembali terjadi di wilayah Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari Semarang, pada Selasa (5/12/2017). Kali ini tanah longsor merusak talud yang menopang rumah Mulanto (50) yang berada di bantaran saluran air wilayah setempat. Kejadian berlangsung sekitar pukul 15.30 WIB dan akibatnya ruangan belakang rumah atau dapur terancam roboh. Tanah longsor  terjadi diawali dengan retaknya talud pada permukaan tanah yang dihuni Mulanto akibat  terjadinya  hujan berturut-turut , retakan semakin meregang.
Sumber  : http://www.krjogja.com/web/news/read/51452/Candisari_Langganan_Longsor_Koramil_Siaga
Penyebab  diperkirakan erosi sungai, talud sungai yang tidak kuat, tanah pelapukan yang labil dan curah hujan yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi  : 
• Warga yang terdampak harap segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan.
• Dibuat tembok penahan tebing di bagian atas dan bawah tebing sungai dan  pondasi harus dalam sampai batuan dasar yang stabil.
• Tidak  mendirikan permukiman di dekat bantaran sungai serta pemukiman seharusnya memiliki jarak dari sungai berkisar kurang lebih 50 meter.
• Jika terjadi retakan agara segera menutup retakan dengan lempung bercampur dengan pasir.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

5. Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh
Gerakan Tanah / Tanah Longsor di  Jalan Provinsi yang menghubungkan Lokop Serbejadi dan Pining, Gayo Lues, tepatnya di kawasan Rampah, Kecamatan Lokop Serbejadi, Aceh Timur pada  Selasa 5 Desember 2017 sekitar  pukul 15.00 waktu setempat. Longsor ini terjadi karena meluapnya anak sungai. Tinggi timbunan longsor mencapai 9 meter dan menutupi  lebih dari 50 meter badan jalan. Hingga berita ini diterbitkan jalan tersebut belum bisa dilalui, dan mengakibatkan beberapa desa di Lokop Serbejadi terisolir. 
Sumber  :https://lintasgayo.co/2017/12/05/longsor-parah-terjadi-di-jalan-pining-lokop-serbejadi
Penyebabnya  diperkirakan akibat erosi sungai dan limpahan material erosi sungai  menimbun jalan dan dipicuh oleh  curah hujan yang tinggi . 
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di wilayah ini lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya limpasan dan genangan air dan material hasil erosi sungai.
• Membangun bangunan pengelak aliran sunngai agar air tidak menggenangi jalan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan dengan tetap waspada peningkatan debit sungai akibat masih tingginya curah hujan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

6. Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur
Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di  kawasan Jalan Mahoni, Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa (5/12/2017) . Dampaknya  dua  ruang kelas di SMP ITCI Maridan berikut satu ruangan perpustakaan juga mengalami kerusakan. Dugaan sementara, penyebabnya adalah hujan dengan intensitas tinggi  juga disertai petir dan angin kencang yang terjadi sejak dinihari, pada kemiringan daerah yang mencapai 90 derajat.   Kedalaman longsor mencapai 3 meter dengan panjang 27 meter. Longsor terjadi 
Sumber  : https://www.kalamanthana.com/2017/12/05/longsor-hantam-smp-itci-maridan-ruang-kelas-perpustakaan-rusak/
Penyebabnya diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal dan sekolah dibangun di bawah tebing  pelapukan tanah yang tebal, hujan dengan intensitas tinggi sejak dinihari
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Warga yang terdampak harap segera mengungsi ke tempat yang lebih aman dan tidak menggunakan sekolah untuk sementara.
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Membangun dinding penahan tebing agar stabil dengan pondosi mencapai batuan / tanah yang keras dan stabil.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

7. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
Gerakan tanah / tanah longsor pada tebing tanah yang labil dan tak kuat menahan derasnya guyuran hujan sejak beberapa hari terakhir menimpah Pura Taman di Banjar Kedui, Desa Tembuku.  Diduga longsor terjadi pada Senin (4/12) sore sekitar pukul 17.00 wita  dengan   lokasi pura dekat  dengan Sungai Barong. Akibat kejadian itu empat bangunan palinggih yang rusak terkena material longsoran tebing yakni palinggih sanggaran, gedong penyimpenan, bale pelik dan palinggih ngerurah. Selain itu, bangunan bale pesamuhan yang ada di tengah-tengah areal pura juga rusak dan mengalami retak pada bagian lantai akibat hantaman longsor. 
Sumber  : http://www.balipost.com/news/2017/12/05/30513/Empat-Pelinggih-Pura-Taman-Hancur...html
Penyebab diperkirakan akibat rumah ibadah dibangun dekat dengan lereng / tebing, tanah pelapukan yang tebal yang labil , kurang vegetasi di atas tebing dan dipicuh oleh curah hujan yang terjadi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah
Rekomendasi  : 
• Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Material longsoran yang menutup jalan agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan dan mengatur saluran air  agar tidak  melimpas ke tebing rawan longsor.
• Memelihara vegetasi di atas lereng.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

8. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah / tanah longsor di  Jalan Lintas Sumatera  Sibolga–Tarutung di Km 25 Desa Naga Timbul kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah (Tapteng) hingga siang ini, Selasa (5/12/2017), masih tertutup oleh timbunan tanah longsor. Akibatnya, arus lalulintas di daerah itu sampai kini masih terganggu, dan antrian panjang kenderaan bermotor baik dari arah Sibolga menuju Tarutung dan sebaliknya pun tidak dapat dihindari. Berbagai upaya dilakukan oleh warga setempat dibantu pihak kepolisian, untuk menggali tumpukan tanah di badan jalan dengan seadanya tanpa harus menggunakan alat berat. selain di Desa Naga Timbul Tapanuli Tengah, bencana longsor perbukitan akibat tingginya curah hujan juga terjadi di Adian Koting, masih termasuk jalur dari Jalinsum Sibolga–Tarutung.  
Sumber  : http://www.rri.co.id/post/berita/464260/daerah/warga_dan_polisi_bersihkan_tanah_longsor_di_jalinsum_tapteng.html
Penyebab gerakan tanah diakibatkan kemiringan lereng yang terjal, pelapukan tanah yang tebal serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi pada waktu dan saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi  :
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang dapat  menimpa petugas kebersihan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Melakukan penguatan pada lereng;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

9. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah 
Cuaca ekstrem dengan hujan lebat dan angin kencang, yang terjadi selama sepekan terakhir di Kabupaten Pekalongan, mengakibatkan salah satu jembatan penghubung antar desa yaitu jembatan Layan Kali Gosek Desa Pantirejo, Kecamatan Kesesi , Kabupaten Pekalongan  ambles dan nyaris putus.  Jembatan tersebut merupakan jembatan vital di Desa Pantirejo, yakni sebagai penghubung antar Desa dan Kecamatan lain mengakibatkan pemukiman  warga terancam terisolir. Hari  Sabtu (2/12/2017) lalu, terjadi banjir bandang di Sungai Gosek, dan menggerus tebing sungai hingga mengakibatkan pondasi pada jembatan Layan Kali Gosek longsor. Sehingga kondisi jembatan miring disebelah ujung Desa Bulaksari Sragi.
Sumber  : https://radarsemarang.com/2017/12/05/jembatan-layan-nyaris-putus/
Penyebab diperkirakan erosi  sungai  pada pondasi jembatan, tanah pelapukan yang labil dan mudah tererosi, pondasi jembatan yang  tidak kuat dan  dipicuh oleh curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi :
• Agar segera dibangun jembatan sementara  untuk melancarkan arus lalu lintas anatar Desa dan agar warga tidak terisolir.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Membangun pondasi jembatan  mencapai batuan / tanah yang keras dan stabil.
• Membangun bangunan pengelak arus / aliran sungai di bawah pondasi jembatan.
• Mengatur drainase air agar aliran air permukaan tidak mengarah ke tubuh jembatan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.



Bali,06 Desember 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani