Laporan Kebencanaan Geologi 01 Februari 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 01 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 31 Januari 2018 tercatat:- 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 6 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm).
Tanggal 01 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)- 2 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.-Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.- Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap di kawah utama dengan ketinggian 100-1100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur dan tenggara. Letusan dengan tinggi kolom abu 1000-1300 m diatas puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah timur, tenggara, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2018 tercatat:- Nihil Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Letusan- 23 kali Gempa Guguran- 13 kali Gempa Low-Frequency- 5 kali Gempa Fase Banyak- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.- Nihil Gempa Vulkanik Dalam.- Nihil Gempa Tektonik Lokal
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Januari 2018 pukul 18:21 WIB, terkait letusan selama 141 detik. Tinggi dan arah kolom abu tidak teramati karena kabut.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan/letusan di kawah utama dengan ketinggian 50-100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Melalui seismograf tanggal 31 Januari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan 6 kali.- Gempa Tektonik Lokal nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2018 pukul 19:27 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Pada 30 Januari 2018 rekorder seismograf merekam :  - 45 kali gempa letusan- 32 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :- Nihil Gempa Fase Banyak- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten2. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  b adan jalan tertutup material longsoran di Kabupaten Lebak (Provinsi Banten); satu rumah terancam di Kabupaten Kulonprogo (Provinsi D.I. Yogyakarta) 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Timurlaut Bima, Nusa Tenggara Barat.
Informasi Umum:Gempabumi terjadi pada hari Rabu, 31 Januari 2018, pukul 07:55:35 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 118.79° BT dan 7,89° LS, dengan  Magnitudo 5,1 SR,  pada kedalaman 30 km, berjarak 63 km timurlaut Bima, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan berdasarkan informasi dari USGS, pusat gempabumi berada pada koordinat 118,743° BT dan 7,883° LS, dengan magnitudo 4,6 mb pada kedalaman 22,6 Km. Gempabumi kedua terjadi di tempat yang sama, pada pukul 09:00:33 WIB,   Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 118.81° BT dan 7,88° LS, dengan  Magnitudo 5,2 SR,  pada kedalaman 26 km, berjarak 64 km timurlaut Bima, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan berdasarkan informasi dari USGS, pusat gempabumi berada pada koordinat 118,791° BT dan 7,863° LS, dengan magnitudo 5,3 mb pada kedalaman 15,2 Km.
Penyebab gempa bumi:diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Flores Back-thrust yang berarah barat-timur, di sebelah utara Pulau Sumbawa. Dampak gempa bumi:Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Berdasarkan Informasi dari PGA Sangeang Api di Bima, gempabumi dirasakan pada skala III MMI. Untuk Gempabumi kedua di Sangeang Api di Bima, gempabumi dirasakan pada skala III MMI. Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas Pemerintah BPPD.• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 31 Januari 2018 tercatat:- 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 6 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm).
Tanggal 01 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)- 2 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100-1100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur dan tenggara. Letusan dengan tinggi kolom abu 1000-1300 m diatas puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur 500-1500 m ke arah timur, tenggara, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Letusan- 23kali Gempa Guguran- 13 kali Gempa Low-Frequency- 5 kali Gempa Fase Banyak- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa  Vulkanik Dangkal- Nihil Gempa  Vulkanik Dalam- Nihil Gempa Tektonik Lokal
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan/letusan di kawah utama dengan ketinggian 50-100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Melalui seismograf tanggal 31 Januari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan 6 kali.- Gempa Tektonik Lokal nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Pada 30 Januari 2018 rekorder seismograf merekam :  - 45 kali gempa letusan- 32 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :- Nihil Gempa Fase Banyak- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:55 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Januari 2018 pukul 08:56 WIB, terkait letusan selama 141 detik. Tinggi dan arah kolom abu tidak teramati karena kabut.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2018 pukul 19:27 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten*, 2.Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta*, 3. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, 4. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 5.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, 6.Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, 7. Kabupaten  Manggarai,  Provinsi Nusa Tenggara Timur , 8.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 9.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur, 10.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 11.Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, 12.Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 13. Kabupaten  Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 14. Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 15.  Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 16.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 17.Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, 18. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, 19.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 20.Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta, 21.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 22. Kabupaten, Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, 23.Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, 24. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I.Yogyakarta, 25.  Kabupaten Blitar, Provinsi  Jawa Timur, 26. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, 27. Kabupaten  Lumajang, Provinsi Jawa Timur, 28. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten 
Gerakan tanah terjadi di kampung Sawah, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten pada Hari Selasa sore, 30 Januari 2018 pukul 18.30 WIB. Gerakan tanah tersebut menyebabkan badan jalan tertutup material longsoran.
Sumber: https://titiknol.co.id/peristiwa/tanah-longsor-di-lebak-akses-jalan-kampung-terputus/
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dari lereng bukit dan material bahan rombakan dari longsoran tersebut menutup badan jalan. Gerakan tanah terjadi karena sifat tanah pelapukan yang mudah menyerap air sehingga jenuh air dan mudah luruh saat terkena air hujan. Terjadinya gerakan tanah juga dipicu oleh adanya curah hujan yang tinggi sebelum terjadi gerakan tanah.

2. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta
Gerakan tanah terjadi di Dusun Tompak, Desa Giripurwo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogopada Hari Senin (30/1/2018) kemarin. Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombaka dari tebing yang mencam 1 rumah warga. Masih berpotensi adanya longsor susulan.
Sumber ; http://m.harianjogja.com/baca/2018/01/31/tebing-belasan-meter-di-girimulyo-longsor-satu-rumah-terancam-roboh-890228?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dari tebing setinggi belasan meter. Gerakan tanah terjadi karena sifat tanah pelapukan yang mudah menyerap air sehingga jenuh air dan mudah luruh saat terkena air hujan. Terjadinya gerakan tanah juga dipicu oleh adanya curah hujan yang tinggi sebelum terjadi gerakan tanah.
Rekomendasi:
- Segera melakukan pembersihan material longsoran yang menimbun badan jalan dengan mengutamakan faktor keselamatan dan meningkatkan kewaspadaan terutama saat terjadi hujan;- Masyarakat yang beraktivitas dan melalui jalan ini dihimbau untuk lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan;- Warga yang tinggal pada rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang lebih aman terutama saat hujan deras dan lama;- Perbaikan saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan;- Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;- Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.



Bandung, 01 Februari 2018
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani