Laporan Kebencanaan Geologi 07 April 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 7 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Pada tanggal 6 April 2018 pukul 16.07 telah terjadi erupsi dengan kolom asap letusan berwarna kelabu,  ketinggian  mencapai 7460 m diatas permukaan laut atau sekitar 5000 m diatas puncak. Letusan ini diikuti oleh awan panas letusan yang mengarah ke arah selatan – barat dengan jarak luncuran sekitar 3500 m, abu letusan tersebar ke arah selatan – barat. Gempa letusan terekam dari pukul 16.07 s/d 19.55. Sebelum letusan  asap kawah teramati berwarna putih intensitas tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 50 - 500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, dan utara. Melalui rekaman seismograf pada 6 April 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan-  85 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 6 April 2018 pukul  01:37 WITA telah terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak (3642 m di atas permukaan laut) dimana abu teramati berwarna kelabu, condong ke arah Barat,  kemarin hingga pagi ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis  setinggi 50 - 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah - sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 6 April 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 5 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal 7 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung  yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 500-900 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 6 April 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Letusan- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 09:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 6 April 2018 tercatat:- 84 kali Gempa Letusan- 38 kali Gempa Hembusan- 24 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret   2018,   relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan2. Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi  yang  dipicuh  curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah dan penggalian yang tidak berhati hati dan mengabaikan keselamatan kerja serta  . 
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan satu unit rumah rusak dan akses jalan  terganggu  di  Kabupaten Tana Toraja (Provinsi Sulawesi Selatan); satu orang meninggal dunia di Kabupaten Aceh Timur (Provinsi Aceh)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Timur laut Memberamo Tengah, Papua
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 6 April 2018, pukul 14:47:02 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat Gempa bumi berada pada koordinat 1.53°LS dan 138.52°BT, dengan magnitudo 5,4 SR pada kedalaman 94 km, berjarak 96 km Timurlaut Memberamo Tengah, Papua. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di laut. Kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan melanda wilayah yang tersusun oleh batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen, batuan gunungapi, batuan beku  dan batuan malihan. Goncangan gempa bumi akan terasa pada batuan endapan kuarter dan batuan tersier terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan, sehingga rentan terhadap goncangan Gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Sesar mendatar di darat berarah barat timur.
Dampak gempa bumi:Menurut informasi yang didapatkan dari BMKG, gempa bumi ini dirasakan dengan intensitas sebesar III pada skala MMI di Sarmi. Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari Pemerintah Daerah setempat. - Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut)* sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G.Agung (Bali)* sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Pada tanggal 6 April 2018 pukul 16.07 telah terjadi erupsi dengan kolom asap letusan berwarna kelabu,  ketinggian  mencapai 7460 m diatas permukaan laut atau sekitar 5000 m diatas puncak. Letusan ini diikuti oleh awan panas letusan yang mengarah ke arah selatan – barat dengan jarak luncuran sekitar 3500 m, abu letusan tersebar ke arah selatan – barat. Gempa letusan terekam dari pukul 16.07 s/d 19.55. Sebelum letusan  asap kawah teramati berwarna putih intensitas tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 50 - 500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, dan utara. Melalui rekaman seismograf pada 6 April 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan-  85 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, namun  pada tanggal 6 April 2018 pukul 01.37 terjadi erupsi dengan ketinggian abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Pada tanggal 6 April 2018 pukul  01:37 WITA telah terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak (3642 m di atas permukaan laut) dimana abu teramati berwarna kelabu, condong ke arah Barat,  kemarin hingga pagi ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis  setinggi 50 - 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah - sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 6 April 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 5 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal  7 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

*Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 500-900 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 6 April 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Letusan- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 6 April 2018 tercatat:- 84 kali Gempa Letusan- 38 kali Gempa Hembusan- 24 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret 2018  akan  relaif potensinya menurun di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan*,  2. Kabupaten Aceh Timur, Aceh*, 3.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, 4.Kota Tanggerang, Provinsi Banten, 5. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 6. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur,7. Kabupaten  Subang, Provinsi Jawa Barat, 8. Kabupaten  Lampung Barat, Provinsi Lampung, 9. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, 10.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,  11.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 12. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY, 13. Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat, 14.  Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,  15.Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (Okus), Provinsi Sumatera Selatan, 16.Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, 17.Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
Longsor kembali terjadi dan merusak satu unit rumah di Jl Tongkonan Ada, Kelurahan Kamali Pentalluan, Kecamatam Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Jumat (6/4/2018). Kejadian terjadi pada pukul 13.30 Wita akibat curah hujan yang tinggi selama beberapa jam, hingga pondasi rumah tidak mampu menahan beban material longsor. Material longsor bergerak ke arah rumah Bapak Semuel Songgo sehingga mengalami kerusakan pada bagian belakang dan mengganggu akses jalan.
Sumber:  http://makassar.tribunnews.com/2018/04/06/1-rumah-di-makale-rusak-akibat-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh
Amiruddin (40), tukang yang sedang membangun bak penampungan air dengan menggali tanah sedalam beberapa meter untuk  pabrik kelapa sawit milik PT Agra Bumi Niaga di Dusun Simpang Rambong, Gampong Alur Pinang, Kecamatan Peunaron, Aceh Timur, meninggal dunia karena tertimbun longsor, Selasa (3/4) sekitar pukul 16.40 WIB.
Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2018/04/05/tukang-pabrik-sawit-meninggal-tertimbun-longsor
Penyebab gerakan tanah  akibat tertimbun tanah galian  bak air yang tidak berhati hati dan  memperhatikan keselamatan kondisi .
Rekomendasi: 
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan;
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik;
• Warga yang bertempat tinggal di atas tebing yang longsor untuk mengungsi ke tempat yg lebih aman, dan warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air;
• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


Bandung, 07 April 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini