Laporan Kebencanaan Geologi 08 April 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 8 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih intensitas tebal, tekanan lemah setinggi  50-500 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan, barat dan barat daya.  Melalui rekaman seismograf pada 7 April 2018 tercatat:- 14 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - sedang setinggi 100 -  400  m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal  7 April 2018 tercatat:- 9 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 6 kali Gempa Tektonik Jauh- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Tanggal 8 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 6 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung  yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 500-900 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara. Melalui seismograf tanggal 7 April 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Letusan-  1 kali Tektonik Lokal- 2 kali Tektonik Jauh- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-24 mm (dominan 4 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 7 April 2018 tercatat:- 90 kali Gempa Letusan- 56 kali Gempa Hembusan- 23 kali Gempa Tremor Harmonik-1 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun. 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret   2018,   relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi  yang  dipicuh  curah hujan sebelum dan saat terjadinys gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan arus lalulintas dari dua arah, baik dari Jatinangor menuju Sumedang, maupun arah Sumedang menuju Jatinangor di Kabupaten Sumedang (Provinsi Jawa Barat) terganggu.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Kejadian gempa bumi 7 April 2018
1). Gempa bumi di Sumba Tengah, NTT

Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu tanggal 7 April 2018, pukul  03:19:25 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 9,5° LS dan 120,02° BT, dengan magnitudo 5 SR pada kedalaman 71 Km, berjarak 36 km tenggara Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Gempa bumi berpusat di darat di sebelah utara Pulau Sumba. Daerah lain yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah bagian selatan Pulau Flores. Pulau Sumba bagian utara disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter sedangkan daerah selatan Pulau Flores didominasi batuan vulkanik Kuarter. Goncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter karena bersifat urai, lepas, tidak kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan akibat aktivitas subduksi yaitu penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Dampak gempa bumi:Berdasarkan BMKG, goncangan gempa bumi dirasakan di Waingapu dengan intensitas III MMI. Belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa.

2). Gempa bumi di tenggara Boven Digoel, Papua
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada tanggal 7 April 2018 , Jam 12:48:43 WIB dengan magnitudo 6,4 SR dengan pusat gempa berada pada koordinat 142,53° BT dan 5,89° LS, kedalaman 124 km arah 243 km tenggara Bovendigoel, Papua. 
Kondisi Geologi:Pusat gempa bumi berada di darat. Daerah dekat dengan pusat gempa bumi tersusun oleh Batuan ultramafik Pratersier dengan lereng terjal, Batuan karbonat dan gunungapi berumur Tersier dan Batuan Kuarter yang bersifat lepas dan berpotensi pencairan lahan di beberapa dataran. Pada daerah yang disusun oleh endapan Kuarter diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Dampak Gempa Bumi:Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa.
Penyebab Gempa Bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif yang berarah Barat timur di Papua. 
Rekomendasi:• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. •  Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu* G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih intensitas tebal, tekanan lemah setinggi  50-500 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan, barat dan barat daya.  Melalui rekaman seismograf pada 7 April 2018 tercatat:- 14 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, namun  pada tanggal 6 April 2018 pukul 01.37 terjadi erupsi dengan ketinggian abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - sedang setinggi 100 -  400  m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal  7 April 2018 tercatat:- 9 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 6 kali Gempa Tektonik Jauh- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Tanggal 8 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 6 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 500-900 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara. Melalui seismograf tanggal 7 April 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Letusan-  1 kali Tektonik Lokal- 2 kali Tektonik Jauh- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-24 mm (dominan 4 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 7 April 2018 tercatat:- 90 kali Gempa Letusan- 56 kali Gempa Hembusan- 23 kali Gempa Tremor Harmonik-1 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2018 pukul 09:28 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret 2018  akan  relaif potensinya menurun di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat*, 2. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan,  3. Kabupaten Aceh Timur, Aceh*, 4.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, 5.Kota Tanggerang, Provinsi Banten, 6. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 7. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur,8. Kabupaten  Subang, Provinsi Jawa Barat, 9. Kabupaten  Lampung Barat, Provinsi Lampung, 10. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, 11.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,  12.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 13. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY, 14. Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Longsoran tanah menutupi badan jalan di Jalan Raya Bandung – Sumedang, tepatnya di wilayah Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Sabtu (7/4/2018). Longsoran tanah yang menutupi jalan tersebut menghambat arus lalulintas dari dua arah, baik dari Jatinangor menuju Sumedang, maupun arah Sumedang menuju Jatinangor. 
Sumber: http://jabar.tribunnews.com/2018/04/07/breaking-news-longsoran-tanah-di-pamulihan-tutupi-badan-jalan-jalur-bandung-sumedang-macet-total.
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng  yang terjal, aliran air permukaan yang tidak terkendali, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Normalisasi arus lalu lintas dengan segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan.
• Pembersihan material longsoran agar dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan. Kegiatan ini hendaknya tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan. 
• Pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya tanah longsor.
• Penataan dan perbaikan sistem pengaliran air permukaan (Drainase) dengan mengarahkan aliran air melalui saluran yang kedap. 
• Pelandaian lereng dengan mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing tersebut.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.


Bandung, 08 April 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini