Laporan Kebencanaan Geologi 10 April 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 10 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih intensitas tebal, tekanan lemah setinggi  100-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan, barat dan barat daya.  Melalui rekaman seismograf pada 9 April 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Low Frekuensi
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi  50  m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat, timur laut dan timur. Rekaman seismograf tanggal  9 April 2018 tercatat:- 13 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal 10 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung  yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 9 April 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Letusan- 2 kali Tektonik Jauh- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Sampai pagi ini laporan kegiatan G. Ibu tanggal 9 belum masuk, data laporan terakhir tanggal 8 April secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 8  April 2018 tercatat:- 106 kali Gempa Letusan- 58 kali Gempa Hembusan- 29 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret   2018,   relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat 2. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi  yang  dipicuh  curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  2 ha sawah rusak dan akses transportasi terhambat  di Kabupaten Sumedang (Provinsi Jawa Barat ); akses lalu lintas terhambat di Kota Pagaralam (Provinsi Sumatera Selatan)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Perairan Selatan Banten 
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Senin, 9 April 2018, pukul 18:46:31 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 105.50° BT dan 7.08° LS, sebesar 5.0 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 101 km barat daya Lebak, Banten. Berdasarkan USGS, Amerika Serikat, gempa bumi berpusat di koordinat 105,537° BT dan 6,971° LS, pada kedalaman 65,4 km, dengan kekuatan sebesar M4,9.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Daerah di sekitar pusat gempa bumi yang terlanda guncangan gempa bumi disusun oleh endapan Kuarter berupa endapan aluvial pantai, endapan aluvial sungai, endapan rombakan gunungapi, dan batuan sedimen Tersier yang sebagian telah mengalami pelapukan. Batuan sedimen berumur Tersier yang mengalami pelapukan dan endapan Kuarter pada umumnya bersifat urai dan belum kompak (unconsolidated), sehingga dapat memperkuat efek guncangan gempabumi.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut. 
Dampak gempa bumi:Guncangan gempa bumi tidak dirasakan di Pos Pengamatan G. (PGA) Krakatau di Pasauran, namun terekam pada intensitas I MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan atau korban jiwa.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih intensitas tebal, tekanan lemah setinggi  100-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan, barat dan barat daya.  Melalui rekaman seismograf pada 9 April 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Low Frekuensi
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, namun  pada tanggal 6 April 2018 pukul 01.37 terjadi erupsi dengan ketinggian abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi  50  m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat, timur laut dan timur. Rekaman seismograf tanggal  9 April 2018 tercatat:- 13 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal 10 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 9 April 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Letusan- 2 kali Tektonik Jauh- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Sampai pagi ini laporan kegiatan G. Ibu tanggal 9 belum masuk, data laporan terakhir tanggal 8 April secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 8  April 2018 tercatat:- 106 kali Gempa Letusan- 58 kali Gempa Hembusan- 29 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret 2018  akan  relaif potensinya menurun di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat*, 2. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan*, 3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,  4.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,  5. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 6. Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau, 7. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 8. Kebumen, Provinsi Jawa Tengah,  9. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, 10. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan,  11. Kabupaten Aceh Timur, Aceh, 12.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, 13.Kota Tanggerang, Provinsi Banten, 14. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 15. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur,16. Kabupaten  Subang, Provinsi Jawa Barat, 17. Kabupaten  Lampung Barat, Provinsi Lampung, 18. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Hujan deras yang turun sejak Minggu 8 April pagi memicu longsor di areal persawahan di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Hujan juga menyebabkan timbunan tanah proyek jalan tol Cisumdawu di Kecamatan Pamulihan.  Longsoran tanah bercampur lumpur ini  menutup Jalan Raya Bandung-Cirebon. Hujan deras memicu longsor di areal persawahan seluas 2 hektare.. Karena tanaman padinya rusak, petani mengalami kerugian cukup besar. Selain lahan sawah, tanah longsor juga menutup dan merusak saluran air bersih yang mengalir ke rumah-rumah. Akibatnya, air pun kotor karena bercampur tanah. Beberapa kendaraan terjebak lumpur sehingga tidak bisa bergerak. Untuk bisa melintasi longsoran ini kendaraan harus didorong. Tidak adanya penahan tanah membuat air hujan menggerus longsor hingga ke jalan raya. Akibat kejadian ini, lalu lintas dari Bandung menuju Sumedang dan sebaliknya macet sepanjang empat kilometer. Guna mengurai kemacetan polisi pun mengarahkan kendaraan untuk melaju bergantian.
Sumber :https://www.liputan6.com/news/read/3437497/hujan-deras-picu-longsor-di-sumedang
Penyebab longsor diduga akibat hujan deras yang terjadi secara terus menerus, menimpa areal pesawahan dengan kemiringan lereng yang terjal. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.


2. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan 
Tercatat sepanjang tahun 2018 ini kawasan Gunung Dempo sudah empat kali mengalami tanah longsor. Bahkan beberapa titik berada dikawasan permukiman warga. Tidak hanya itu dijalur objek wisata andalan Kota Pagaralam tersebut juga sangat rawan longsor. Seperti yang terjadi pagi ini, Senin (9/4/2018) sekitar pukul 08.00 WIB. Batu besar seukuran mobil longsor dan menutupi akses jalan dari Villa Kabupaten Lahat menuju Apderling III. Batu besar yang menutupi badan jalan tersebut merupakan materil longsor dari atas tebing disisi kiri jalan. Tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut.
Sumber :http://palembang.tribunnews.com/2018/04/09/breaking-news-gunung-dempo-pagaralam-longsor-bongkahan-batu-berukuran-mobil-bergelimpangan.
Penyebab longsor diduga akibat hujan deras yang terjadi secara terus menerus, menimpa tebing dengan kemiringan lereng yang terjal dengan batuan yang mudah lepas. Tipe gerakan tanah merupakan jatuhan batuan (Rock Fall).
Rekomendasi
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan;
• Menata aliran permukaan/drainase pada lereng tersebut dengan saluran yang kedap air;
• Penggarap sawah untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan;
• Pemakai jalan untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor/jatuhan batuan susulan;
• Memasang rambu rambu daerah rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.


Bandung, 10 April 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini