Laporan Kebencanaan Geologi 14 Mei 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
Hari ini, Senin 14 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga berkabut, teramati asap kawah berwarna putih sedang - kelabu dengan ketinggian 200-400 m diatas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah baratlaut dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Mei 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 13 Mei 2018 tercatat:- 7 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 3 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal 14 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung  yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Mei 2018 pukul 18.26 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual cerah terkadang tertutup kabut. Teramati asap kawa utama dengan ketinggian 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Mei 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Guguran- 1 kali Gempa Hybrid- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Pemerintah Daerah dan masyarakat pada umumnya agar segera melakukan upaya penanggulangan bahaya abu vulkanik agar gangguan kesehatan dan kerugian yang lain akibat abu vulkanik dapat diminimalisir.- Letusan freatik masih mungkin terjadi kembali di waktu yang akan datang. Masyarakat yang bermukim di sekitar G. Merapi untuk selalu waspada dan mengantisipasi bahaya abu.- Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar di luar radius 2 km, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 700-900 m di atas puncak. . Teramati 3 kali letusan dengan tinggi kolom asap 700-900 m di atas puncak berwarna putih dan kelabu. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 13 Mei 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Mei 2018 pukul 06:57 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur. Melalui seismograf tanggal 13 Mei 2018 tercatat:- 97kali Gempa Letusan- 77 kali Gempa Hembusan- 26 kali Gempa Guguran- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (1 kali diantaranya terasa pada skala I MMI)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei  2018 yang dibandingkan bulan  April  2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1.  Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta2.  Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Penyebab :Penyebab gerakan tanah diduga akibat ketidak hati hatian saat menambang pasir dan kondisi tanah pelapukan yang labil dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan satu meninggal dunia dan satu luka di lokasi penambangan pasir di Kabupaten Sleman (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta); lalu lintas terganggu di Kabupaten Aceh Utara (Provinsi Aceh).
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempabumi di Kep. Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara      Informasi Gempa bumi:Gempabumi terjadi pada hari Minggu, tanggal 13 Mei 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 22:33:33 WIB, pusat gempa berada pada koordinat 5,24° LU dan 125,56°BT dengan magnituda 5,3 SR pada kedalaman 147 km, berjarak 180 km Timurlaut  Kepulauan Sangihe-Sulut. Sedangkan menurut 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Wilayah Kabupaten Sangihe Talaud dan sekitarnya, yang terdekat dengan pusat gempabumi disusun oleh batuan aluvium dan vulkanik berumur Kuarter, batuan sedimen berumur Tersier dan batuan pra-Tersier. Batuan vulkanik Kuarter dan aluvium bersifat urai/lepas sehingga memperkuat efek goncangan gempabumi.
Penyebab gempa bumi: Gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas sesar pada zona punggungan Mayu yang terbentuk akibat tumbukan antar lempeng luat Maluku dengan busur Sangihe dan Halmahera.
Dampak gempa bumi:Sampai saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan  bangunan ataupun korban jiwa yang disebabkan gempa bumi ini. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setemoat.-  Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang energinya lebih kecil.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga berkabut, teramati asap kawah berwarna putih sedang - kelabu dengan ketinggian 200-400 m diatas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah baratlaut dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Mei 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif menurun. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 15 April 2018 pukul 15:03 WITA terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaansecara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 13 Mei 2018 tercatat:- 7 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 3 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal 14 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Gunung Merapi secara administratsi terletak di Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. G. Merapi (2913 m dpl) mengalami letusan freatik tanggal 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB. Kolom asap letusan setinggi 5500 m di atas puncak. Letusan ini merupakan letusan freatik yang ke 7 paska erupsi 2010 berselang 4 tahun sejak letusan freatik terakhir pada tanggal 20 April 2014.
Dari kemarin hingga pagi ini visual cerah terkadang tertutup kabut. Teramati asap kawa utama dengan ketinggian 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Mei 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Guguran- 1 kali Gempa Hybrid- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten  tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 700-900 m di atas puncak. . Teramati 3 kali letusan dengan tinggi kolom asap 700-900 m di atas puncak berwarna putih dan kelabu. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 13 Mei 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur. Melalui seismograf tanggal 13 Mei 2018 tercatat:- 97kali Gempa Letusan- 77 kali Gempa Hembusan- 26 kali Gempa Guguran- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (1 kali diantaranya terasa pada skala I MMI)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Mei 2018 pukul 18.26 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.
(3) G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.
(4) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Mei 2018 pukul 06:57 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(5) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Mei 2018 yang dibandingkan bulan  April 2018  akan  relatif potensinya sama  di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta*, 2.Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh*, 3. Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, 4.Kabupaten Minahasa Selatan , Provinsi Sulawesi Utara , 5.Kabupaten Minahasa , Provinsi Sulawesi Utara.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Sleman, Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta
Seorang penambang pasir, Marjuki (35) tewas setelah tertimbun longsoran tebing di Kali Boyong, Candi Binangun, Pakem, Sleman. Marjuki tertimbun material longsor setinggi 2 meter bersama seorang rekan sesama penambang, Seniman (40).
Peristiwa tersebut terjadi siang tadi sekitar pukul 11.30 WIB. Saat kejadian kedua korban yang merupakan warga Donoharjo, Ngaglik itu beraktivitas seperti biasa menambang pasir secara manual di bantaran Kali Boyong. Nahas, tiba-tiba tebing yang mereka tambang longsor dan langsung menimbun keduanya. 
Sumber:https://news.detik.com/jawatengah/4017661/2-penambang-di-merapi-tertimbun-tebing-longsor-1-tewas
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah penutup yang labil dan gangguan pada lereng. Tipe gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Lhokseumawe, Sabtu Tanggal 12 Mei 2018 sekira jam 17.00 Wib, Hujan yang sangat deras mengguyur perbatasan Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah, hujan yang disertai petir menyelimuti kawasan gunung salak.
Akibatnya telah menyebabkan terjadi longsor yang menutupi jalan lintas kabupaten tepatnya di kawasan Gunung Sala (Kilometer 31) dari arah Krueng Geukueh. Kondisi jalan lebar hanya tinggal 2,5 Meter, ini terjadi akibat tertimbun longsoran tanah dan batu yang jatuh dari tebing ketinggian 20-30 meter.
Sumber:https://steemit.com/indonesia/@tajubanba/longsor-di-jalan-kabupaten-aceh-utara-bener-meriah-or-or-landslide-in-north-aceh-regency-road-bener-meriah
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah penutup yang labil, kemiringan lereng yang terjal. Hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah. Tipe gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran.
• Masyarakat agar tidak beraktivitas di sekitar lereng yang rentan terjadi gerakan tanah.
• Tidak melakukan pemotongan lereng  tanpa mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.
• Memasang rambu-rambu peringatan bahaya longsor untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat dalam penanganan gerakan tanah.




Bandung, 14 Mei 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini