Laporan Kebencanaan Geologi 15 Mei 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 15 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga berkabut, teramati asap kawah berwarna putih sedang - kelabu dengan ketinggian 100-300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah utara, baratlaut dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 14 Mei 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Tektonik Jauh- Getaran Tremor menerus (Mikrotremor) dengan amplitudo maksimum antara 2-28 mm (dominan 3).
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati putih tipis dengan ketinggian 50 - 100 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 14 Mei 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 4 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal 15 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung  yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Mei 2018 pukul 18.26 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual cerah terkadang tertutup kabut. Teramati asap kawa utama dengan ketinggian 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratdaya. Melalui rekaman seismograf pada 14 Mei 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Guguran
Rekomendasi :- Pemerintah Daerah dan masyarakat pada umumnya agar segera melakukan upaya penanggulangan bahaya abu vulkanik agar gangguan kesehatan dan kerugian yang lain akibat abu vulkanik dapat diminimalisir.- Letusan freatik masih mungkin terjadi kembali di waktu yang akan datang. Masyarakat yang bermukim di sekitar G. Merapi untuk selalu waspada dan mengantisipasi bahaya abu.- Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar di luar radius 2 km, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 100-300 m di atas puncak. . Teramati 3 kali letusan dengan tinggi kolom asap 100-300 m di atas puncak berwarna putih dan kelabu. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 14 Mei 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Letusan- 2 kali Gempa Tektonik Lokal- 2 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Mei 2018 pukul 06:57 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur. Melalui seismograf tanggal 14 Mei 2018 tercatat:- 103kali Gempa Letusan- 78 kali Gempa Hembusan- 23 kali Gempa Guguran- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei  2018 yang dibandingkan bulan  April  2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1.Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan2.Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara
Penyebab :  Penyebab kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tebal, lahan yang gundul dan penambangan dibagian hulu serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan akses jalan terganggu dan sawah tertimbun material longsor di Kabupaten Sinjai (Provinsi Sulawesi Selatan); di Kabupaten Minahasa Selatan (Provinsi Sulawesi Utara)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga berkabut, teramati asap kawah berwarna putih sedang - kelabu dengan ketinggian 100-300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah utara, baratlaut dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 14 Mei 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Tektonik Jauh- Getaran Tremor menerus (Mikrotremor) dengan amplitudo maksimum antara 2-28 mm (dominan 3).
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif menurun. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 15 April 2018 pukul 15:03 WITA terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaansecara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati putih tipis dengan ketinggian 50 - 100 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 14 Mei 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 4 kali Gempa Tektonik Jauh
Tanggal 15 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Gunung Merapi secara administratsi terletak di Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. G. Merapi (2913 m dpl) mengalami letusan freatik tanggal 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB. Kolom asap letusan setinggi 5500 m di atas puncak. Letusan ini merupakan letusan freatik yang ke 7 paska erupsi 2010 berselang 4 tahun sejak letusan freatik terakhir pada tanggal 20 April 2014.
Dari kemarin hingga pagi ini visual cerah terkadang tertutup kabut. Teramati asap kawa utama dengan ketinggian 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratdaya. Melalui rekaman seismograf pada 14 Mei 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Guguran
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten  tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 100-300 m di atas puncak. . Teramati 3 kali letusan dengan tinggi kolom asap 100-300 m di atas puncak berwarna putih dan kelabu. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 14 Mei 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Letusan- 2 kali Gempa Tektonik Lokal- 2 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur. Melalui seismograf tanggal 14 Mei 2018 tercatat:- 103kali Gempa Letusan- 78 kali Gempa Hembusan- 23 kali Gempa Guguran- 2 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Mei 2018 pukul 18.26 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.
(3) G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.
(4) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Mei 2018 pukul 06:57 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(5) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Mei 2018 yang dibandingkan bulan  April 2018  akan  relatif potensinya sama  di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan*; 2.Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara*, 3.Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 4.Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, 5. Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan
Bencana longsor menutup badan jalan antar kecamatan di Sinjai Selatan, Sinjai Borong dan Sinjai Barat ke Sinjai Tengah atau Jalan Poros Polewali tertimbun sebagian. Dampaknya akses jalan terganggu dan sawah tertimbun material longsor.
Sumber berita:
http://makassar.tribunnews.com/2018/05/14/sawah-terendam-air-jalanan-ditutup-longsor-listrik-padam-di-sinjai;
http://makassar.tribunnews.com/2018/05/14/hati-hati-ada-material-longsoran-di-badan-jalan-palae-sinjai;
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah dan batu pada tebing. Penyebab kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tebal, lahan yang gundul dan penambangan dibagian hulu serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

2.Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara
Dua titik longsor di bagian timur dan barat Desa Tangkuney, Kecamatan Tumpaan, makin besar. Alhasil, selain hampir memutus salah satu akses penghubung Kabupaten Minsel dan Minahasa, Desa Tangkuney terancam terisolir. Longsor itu akibat material jalan yang tidak bagus serta keadaan tanah yang kurang terjaga sehingga saat diguyur hujan deras jalan jadi longsor. Jalur tersebut kini sangat berbahaya bagi pengendara yang melintas. Desa Tungkuney terancam terisolir bila tak segera diatasi. Hujan lebat mengguyur daerah tersebut, longsor susulan sudah pasti terjadi.Material jalan di bagian timur desa sudah amblas ke sungai. Di bagian timur sudah 200 meter yang amblas, sudah sangat sulit apabila dibuatkan tanggul. Terpaksa harus melakukan cutting perkebunan warga agar bisa lewat. 
Sumber :http://manadopostonline.com/read/2018/05/14/Titik-Longsor-Desa-Tangkuney-Makin-Besar-Akses-Penghubung-Minsel-dan-Minahasa-Terancam-Putus/35073
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, material jalan tidak bagus, tidak adanya dinding penahan yang tembus hingga batuan dasar,  tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan aliran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
• Pemakai jalan untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan
• Menata aliran permukaan/drainase pada lereng tersebut dengan saluran yang kedap air
• Membuat dinding penahan yang menembus batuan dasar.
• Masyarakat yang berada disekitar lokasi harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Masyarakat disekitarnya agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
• Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Membuat perkuatan lereng, saluran drainase yang kedap air, serta mengalirkannya menjauh dari lereng yang longsor atau mengevaluasi jalur jalan tersebut mengingat sering terjadi longsor pada jalur ini;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta pengguna jalan harap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Mengkaji ulang aktivitas penambangan yang berada dilokasi tersebut serta mereklamasi bekas penambangan;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.



Bandung, 15 Mei 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini