Laporan Kebencanaan Geologi 06 Juni 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu 6 Juni 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 50-200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara, dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 5 Juni 2018 tercatat:
- 13 kali gempa Hembusan
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan timur. Rekaman seismograf tanggal 5 Juni 2018 tercatat:
- 6 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 6 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2018 pukul 07:07 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat daya.
G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis-sedang dengan ketinggian 30 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 5 Juni 2018 tercatat:
- 15 kali gempa Guguran
- 4 kali gempa Hembusan
- 4 kali gempa Tektonik Jauh
- 2 kali gempa Fase Banyak
Rekomendasi :
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi  3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 200-300 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 300 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut. Melalui seismograf tanggal 5 Juni 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-12 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Juni 2018 pukul 16:33 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara. Melalui seismograf tanggal 5 Juni 2018 tercatat:
- 45 kali gempa Letusan
- 52 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2018 yang dibandingkan bulan  Mei 2018,   umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali di wilayah Sulawesi dan Maluku. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatera Selatan.
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak :Gerakan tanah /tanah longsor mengakibatkan akses Jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Muaraenim dengan Kabupaten Lahat terputus di Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatera Selatan.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:
Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.
3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Laut Flores, Flores Timur, NTT
     
Informasi Gempa Bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, tanggal 5 Juni 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 01:24:37 WIB, pusat gempa berada di laut pada koordinat 7.17° LS dan 123.27°BT dengan magnituda 5.6 SR pada kedalaman 636 km, berjarak 131 km timurlaut Flores Timur, NTT.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:
Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi disusun oleh batuan berumur Pra Tersier, batuan sedimen Tersier, batuan vulkanik Kuarter dan endapan aluvium Resen yang bersifat urai/lepas sehingga bisa memperkuat efek goncangan gempabumi.
Penyebab gempa bumi:
Diperkirakan akibat aktivitas  subduksi lempeng Indo-Australia.
Dampak gempabumi:
Belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan. Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunungapi Lewotolo, gempa tidak dirasakan disana.
Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:
(1)Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang energinya lebih kecil dari gempa bumi utama.
II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.
c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);
d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 50-200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara, dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 5 Juni 2018 tercatat:
- 13 kali gempa Hembusan
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan timur. Rekaman seismograf tanggal 5 Juni 2018 tercatat:
- 6 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 6 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis-sedang dengan ketinggian 30 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 5 Juni 2018 tercatat:
- 15 kali gempa Guguran
- 4 kali gempa Hembusan
- 4 kali gempa Tektonik Jauh
- 2 kali gempa Fase Banyak
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 200-300 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 300 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut. Melalui seismograf tanggal 5 Juni 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-12 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara. Melalui seismograf tanggal 5 Juni 2018 tercatat:
- 45 kali gempa Letusan
- 52 kali gempa Hembusan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.
(2) G. Agung, Bali.
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2018 pukul 07:07 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat daya.
(3) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi  3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. 
(4) G. Dukono, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Juni 2018 pukul 16:33 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(5) G. Ibu, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
Bandung, 6 Juni 2018
PVMBG, Badan Geologi, KESDM
Kasbani

Berita Terkini
Hari ini, Minggu 20 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Teramati letusan dengan tinggi 700 meter dari atas puncak pada pukul 09:00 WIB. Melalui rekaman seismograf pada 19 Mei 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum antara 2-90 mm (dominan 25 mm)
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 09:11 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke barat laut.
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap teramati berwarna putih hingga kelabu tinggi 1000 meter dari atas puncak dengan tekanan lemah dan intensitas tipis hingga tebal. Teramati letusan dengan tinggi 1000 meter dari atas puncak pada pukul 17:19 WITA. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan barat. Rekaman seismograf tanggal 19 Mei 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 6 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.
G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 19 Mei 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :
- Pemerintah Daerah dan masyarakat pada umumnya agar segera melakukan upaya penanggulangan bahaya abu vulkanik agar gangguan kesehatan dan kerugian yang lain akibat abu vulkanik dapat diminimalisir.
- Letusan freatik masih mungkin terjadi kembali di waktu yang akan datang. Masyarakat yang bermukim di sekitar G. Merapi untuk selalu waspada dan mengantisipasi bahaya abu.
- Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar di luar radius 2 km, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
VONA:
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait penurunan potensi terjadinya erupsi.
G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga tebal dengan ketinggian 500-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 19 Mei 2018 tercatat:
- 2 kali gempa Letusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-20 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 18:55 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 19 Mei 2018 tercatat:
- 83 kali Gempa Letusan
- 31 kali Gempa Hembusan
- 19 kali Gempa Guguran
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei  2018 yang dibandingkan bulan  April  2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kota Ambon, Provinsi Maluku
2. Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara
3. Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan
Penyebab :  Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, sarang dan mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air,vegetasi yang kurang,dipicu curah hujan yang tinggi
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan 2 rumah warga rusak di Desa Soya, Kec. Sirimau, 1 rumah warga rusak di Desa Halong Batu-Batu, Kec. Baguala serta Jalan raya yang menghubungkan antara Kota Ambon dengan Kec. Leitimur Selatan rusak terkena longsor di beberapa tempat, sebagian terputus dan tidak bisa dilalui di Kota Ambon (Provinsi Maluku);tebing setinggi 5 meter dan lebar 3 meter longsor dan menutup akses jalan Kabupaten dari Pangururan-Ronggur Nihuta dan arah sebaliknya, sehingga jalan terputus di Kabupaten Samosir (Provinsi Sumatra Utara);tebing longsor dan material longsor menutupi badan jalan, hingga jalan raya putus tak bisa lagi diakses kendaraan di Kabupaten Enrekang (Provinsi Sulawesi Selatan)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
3. Gempa Bumi
1) Gempa Bumi di baratdaya Sumba Baratdaya, NTT                                             
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 19 Mei 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul: 21:03:03 WIB, pusat gempa bumi berada pada koordinat 11,47°LS dan 117,42°BT dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 10 km, pada jarak 287 km baratdaya Sumba Baratdaya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa  bumi:
Daerah paling dekat dengan pusat gempa bumi tersusun dari batuan vulkanik dan batugamping berumur Tersier. Batuan berumur Tersier yang belum terdeformasi dan belum lapuk pada umumnya bersifat keras, kuat dan kompak. 
Dampak gempa bumi:
Belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan. Informasi dari Pos PGA Rinjani tidak merasakan adanya gempa bumi ini. 
Gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Penyebab gempa bumi:
Diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Australia ke bawah busur kepulauan Nusa Tenggara.
2) Gempa bumi di perairan barat daya Seluma, Bengkulu
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 20 Mei 2018, pukul 02:08 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,41° BT dan 4,31° LS, dengan magnitudo 5,4 SR pada kedalaman 31 km, berjarak 44 km barat daya Seluma, Bengkulu. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,32° BT dan 4,34° LS dengan magnitudo M4,5 dan kedalaman 58 km. Menurut USGS, Amerika menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,409° BT dan 4,365° LS pada kedalaman 64,5 km dengan magnitudo M5,0.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu  pesisir barat Provinsi Bengkulu yang disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier serta batuan sedimen dan endapan gunungapi berumur Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan. 
Penyebab gempa bumi:
Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut. 
Dampak gempa bumi:
Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Dempo di Pagar Alam, Sumatera Selatan dan PGA Kaba di Rejanglebong, Bengkulu, intensitas guncangan di kedua lokasi tersebut sebesar I-II MMI. Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Bengkulu, Kepahiang, dan Lebong dengan intensitas II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.
II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.
c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Teramati letusan dengan tinggi 700 meter dari atas puncak pada pukul 09:00 WIB. Melalui rekaman seismograf pada 19 Mei 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum antara 2-90 mm (dominan 25 mm)
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 30 April 2018 pukul 22:45 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap teramati berwarna putih hingga kelabu tinggi 1000 meter dari atas puncak dengan tekanan lemah dan intensitas tipis hingga tebal. Teramati letusan dengan tinggi 1000 meter dari atas puncak pada pukul 17:19 WITA. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan barat. Rekaman seismograf tanggal 19 Mei 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 6 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Gunung Merapi secara administratsi terletak di Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. G. Merapi (2913 m dpl) mengalami letusan freatik tanggal 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB. Kolom asap letusan setinggi 5500 m di atas puncak. Letusan ini merupakan letusan freatik yang ke 7 paska erupsi 2010 berselang 4 tahun sejak letusan freatik terakhir pada tanggal 20 April 2014.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 19 Mei 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga tebal dengan ketinggian 500-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 19 Mei 2018 tercatat:
- 2 kali gempa Letusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-20 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 19 Mei 2018 tercatat:
- 83 kali Gempa Letusan
- 31 kali Gempa Hembusan
- 19 kali Gempa Guguran
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 09:11 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke barat laut.
(2) G. Agung, Bali.
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.
(3) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait penurunan potensi terjadinya erupsi.
(4) G. Dukono, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 18:55 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(5) G. Ibu, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Mei 2018 yang dibandingkan bulan  April 2018  akan  relatif potensinya sama  di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kota Ambon, Provinsi Maluku*, 2.Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara*, 3.Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan*, 4.Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan, 5.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 6. Kabupaten Enrekang,  Provinsi Sulawesi Selatan, 7.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 8.Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, 9.Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan, 10. Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara, 11.Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan.
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1. Kota Ambon, Provinsi  Maluku
Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu, 19 Mei 2018 di wilayah Kota Ambon dan sekitarnya, setelah kawasan ini diguyur hujan deras beberapa hari terakhir dan mengakibatkan :2 rumah warga rusak di Desa Soya, Kec. Sirimau, 1 rumah warga rusak di Desa Halong Batu-Batu, Kec. Baguala,jalan raya yang menghubungkan antara Kota Ambon dengan Kec. Leitimur Selatan rusak terkena longsor di beberapa tempat, sebagian terputus dan tidak bisa dilalui antara lain di ruas jalan yang menghubungkan Desa Kayu Putih – Desa Soya badan jalan longsor sepanjang     4 meter, di ruas jalan di Kawasan Asawang, Negeri Kilang badan jalan hanya 1 meter yang bisa dilalui  dan di Ruas jalan di Negeri Naku dan Negeri Kilang, Leitimur Selatan, sehingga akses ke desa lainnya terancam, 
Sumber:https://www.antaranews.com/berita/711432/tanah-longsor-mulai-melanda-ambon
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, sarang dan mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air,vegetasi yang kurang,dipicu curah hujan yang tinggi
2. Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara
Peristiwa longsor terjadi di Sitimurun, Kecamatan Ronggur Nihuta pada jalan raya yang menghubungkan Kecamatan Ronggur Nihuta dengan Pangururan, karena hujan deras yang mengguyur Kabupaten Samosir, pada hari Jumat 18 Mei 2018, berakibat tebing setinggi 5 meter dan lebar 3 meter longsor. Akibatnya material tanah tersebut menutup akses jalan Kabupaten dari Pangururan-Ronggur Nihuta dan arah sebaliknya, sehingga jalan terputus
Sumber:http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2018/05/18/37489/tebing_jalan_ronggur_nihuta_samosir_longsor_akses_jalan_terputus/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, sarang dan mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air,vegetasi yang kurang,dipicu curah hujan yang tinggi
3.Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan
Peristiwa longsor terjadi pada jalan raya antara Kecamatan Bungin dan Kota Enrekang di kawasan perbukitan Gn Latimojong, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan pada hari Jumat 18 Mei 2018, usai hujan deras mengguyur sehingga tebing longsor dan material longsor menutupi badan jalan, hingga jalan raya antara Kecamatan Bungin dan Kota Enrekang putus tak bisa lagi diakses kendaraan.
Sumber :https://makassar.sindonews.com/read/9247/4/longsor-isolasi-warga-di-kecamatan-bungin-enrekang-1526637916
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, sarang dan mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air,vegetasi yang kurang,dipicu curah hujan yang tinggi
Rekomendasi :
Material longsoran segera dibersihkan 
Perlu pelandaian lereng dan penanaman pohon kuat berakar dalam
Perlu pembuatan dinding penahan lereng dan penataan air beserta drainasenya secara permanen
Jalan raya yang segera diperbaiki dengan perkuatan fondasi sampai lapisan keras.
Perlu pemasangan rambu-rambu kebencanaan
Jalan raya yang segera diperbaiki dengan perkuatan fondasi sampai lapisan keras, karena warga harus memutar sejauh 10 km untuk hindari longsor.
Perlu pengalihan lalu lintas ke jalan alternatif yang lebih pendek.
Rumah warga yang taludnya runtuh segera diperbaiki dengan fondasi yang kuat sampai lapisan yang keras disertai dengan drainase rumah tangga yang baik
Perlu kesiapsiagaan warga, sementara warga agar mengungsi ke tempat yang aman
Jalan raya yang segera diperbaiki dengan cut and fill, dan perkuatan fondasi sampai lapisan keras.
Perlu sosialisasi kepada aparat dan warga terkait ancaman longsor dan gejala gejalanya sebagai upaya mitigasi gerakan tanah.
Bandung, 20 Mei 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani