Laporan Kebencanaan Geologi 30 Juni 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 30 Juni 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis-sedang dan ketinggian sekitar 50-200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, barat dan tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 29 Juni 2018 tercatat:- 29 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu-waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati emisi gas menerus berwarna putih  dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal. Tinggi kolom asap sekitar 2000 m dari atas puncak. Teramati sinar api di atas puncak kawah. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 9 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vukanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 5-10 mm (dominan 5 mm)
Tanggal 30 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Juni 2018 pukul 15:01 WITA, terkait emisi gas menerus disertai hujan abu tipis sejak pukul 10:30 WITA dengan ketinggian kolom abu maksimal sekitar 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m dari atas puncak. Angin bertiup ke arah barat dan baratdaya.

G. Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunung tertutup kabut. Teramati sinar api pada malam hari dengan ketinggian 100-200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah sedang ke arah utara, barat dan selatan. Rekaman seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 275 kali gempa Letusan- 385 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Low Frequency- 37 kali gempa Vulkanik Dangkal- 24 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Tremor Harmonik- 21 kali Tremor
Secara kegempaan masih didominasi oleh jenis gempa Vulkanik yang menunjukkan adanya suplai magma, serta jenis gempa Hembusan yang menunjukkan aktivitas di permukaan berupa keluarnya asap/gas vulkanik. 
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Juni 2018 pukul 14:42 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna kelabu dengan ketinggian kolom asap setinggi 605 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih intensitas sedang higga tebal dengan tinggi sekitar 50 m dari atas puncak.Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara,baratlaut dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 29 Juni 2018 tercatat:- 7 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 1 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan timurlaut. Melalui seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 6 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-24 mm (dominan 4 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Juni 2018 pukul 15:56 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 66 kali gempa Letusan- 48 kali gempa Hembusan- 23 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Terasa intensitas MMI I pada pkl. 08:36:04 WIT
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 Juni 2018 pukul 09:44 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2018 yang dibandingkan bulan  Mei 2018,   umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali di wilayah Sulawesi dan Maluku. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Enrekang , Provinsi Sulawesi Selatan2. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan3. Kota Ambon, Provinsi Maluku4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencan
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan  satu rumah  ambruk  dan akses jalan terhambat di Kabupaten Enrekang (Provinsi Sulawesi Selatan) ;akses jalan terhambat di beberapa objek wisata di Lolai, Kabupaten Toraja Utara, (Provinsi Sulawesi Selatan) , di Kota Ambon, Provinsi Maluku dan di Kabupaten Magelang (Provinsi Jawa Tengah)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
1) Gempa bumi di Barat Laut Pulau Morotai, Maluku Utara
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 29 Juni 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 06:35:27 WIB, pusat gempa berada pada koordinat 2,51° LU dan 128,39°BT dengan magnituda 5,3 SR pada kedalaman 227 km berjarak 16 km Barat Laut Pulau Morotai, Maluku Utara.
Kondisi geologi daerah terdekat:Pusat gempa bumi berada di darat, daerah sekitar terdekat pusat gempa bumi tersusun oleh batuan geunung api berumur Tersier dan batuan karbonat berumur Kuarter. Pada batuan yang telah mengalami pelapukan, belum kompak dan bersifat lepas akan memperkuat memperkuat efek goncangan gempa sehingga akan lebih dirasakan.
Penyebab Gempa bumi:Diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan aktivitas subduksi Lempeng Pasifik. 
Dampak Gempa bumi:Belum ada laporan mengenai kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

2) Gempa Bumi di tenggara Bovendigoel, Papua      
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 29 Juni 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 08:55:28 WIB, pusat gempa berada pada koordinat 5,98°LS dan 142,59°BT dengan magnituda 5,2 SR pada kedalaman 10 km berjarak 250 km tenggara Bovendigoel, Papua.
Kondisi geologi daerah terdekat:Pusat gempa bumi ini berada di darat Negara Papua Nugini, daerah sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh batuan sedimen, batuan gunungapi dan batuan beku berumut Kuarter. Pada batuan yang telah mengalami pelapukan, belum kompak dan bersifat lepas akan memperkuat efek goncangan gempa sehingga akan lebih dirasakan.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan sesar aktif daerah setempat. 
Dampak gempa bumi:Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

3) Gempa bumi di barat laut Maluku Tenggara Barat, Maluku
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 29 Juni 2018, pukul 15:39:57 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 129,82° BT dan 7,03° LS, dengan magnitudo 5,0SR pada kedalaman 150 km, berjarak 180 km barat laut Maluku Tenggara Barat, Maluku.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di laut, tepatnya di sebelah barat laut Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi tersusun oleh endapan permukaan, dan batuan sedimen berumur Kuarter, serta batuan ketidakselarasan berumur Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan Kuarter diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi. 
Penyebab gempa bumi:Siperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Austrlaia di Laut Banda. 
Dampak gempa bumi:Belum ada laporan adanya kerusakan maupun korban jiwa. 
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis-sedang dan ketinggian sekitar 50-200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, barat dan tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 29 Juni 2018 tercatat:- 29 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati emisi gas menerus berwarna putih  dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal. Tinggi kolom asap sekitar 2000 m dari atas puncak. Teramati sinar api di atas puncak kawah. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 9 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vukanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 5-10 mm (dominan 5 mm)
Tanggal 30 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali gempa Hembusan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Anak Krakatau secara visual sering tertutup kabut, apabila cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 - 100 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 - 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 - 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Anak Krakatau dari tanggal 18 - 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018 , gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100 - 200 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunung tertutup kabut. Teramati sinar api pada malam hari dengan ketinggian 100-200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah sedang ke arah utara, barat dan selatan. Rekaman seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 275 kali gempa Letusan- 385 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Low Frequency- 37 kali gempa Vulkanik Dangkal- 24 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Tremor Harmonik- 21 kali Tremor
Secara kegempaan masih didominasi oleh jenis gempa Vulkanik yang menunjukkan adanya suplai magma, serta jenis gempa Hembusan yang menunjukkan aktivitas di permukaan berupa keluarnya asap/gas vulkanik. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih intensitas sedang higga tebal dengan tinggi sekitar 50 m dari atas puncak.Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara,baratlaut dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 29 Juni 2018 tercatat:- 7 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 1 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan timurlaut. Melalui seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 6 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-24 mm (dominan 4 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui seismograf tanggal 29 Juni 2018 tercatat:- 66 kali gempa Letusan- 48 kali gempa Hembusan- 23 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Terasa intensitas MMI I pada pkl. 08:36:04 WIT
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Juni 2018 pukul 15:01 WITA, terkait emisi gas menerus disertai hujan abu tipis sejak pukul 10:30 WITA dengan ketinggian kolom abu maksimal sekitar 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m dari atas puncak. Angin bertiup ke arah barat dan baratdaya.
(3) G. Anak Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Juni 2018 pukul 14:42 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna kelabu dengan ketinggian kolom asap setinggi 605 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Juni 2018 pukul 15:56 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 Juni 2018 pukul 00:44 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Juni 2018 yang dibandingkan bulan  Mei 2018  akan  cenderung menurun potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1. Kabupaten Enrekang , Provinsi Sulawesi Selatan*, 2. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan*, 3. Kota Ambon, Provinsi Maluku*, 4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah*, 5.Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, 6.Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, 7. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 8. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, 9 Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat, 10. Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 11. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 12. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, 13. Kabupaten Engrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, 14. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, 15. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, 16. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 17.Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, 18.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 19.Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, 20.Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Enrekang , Provinsi Sulawesi Selatan
Hujan deras terus mengguyur wilayah Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang sejak Rabu (27/6/2018). Hal tersebut mengakibatkan terjadi bencana tanah longsor di Kelurahan Tominawa, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Kamis (28/6/2018) dini hari. Rumah milik, Jihad, warga di Kelurahan Tominawa, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, ambruk tertimpa material tanah longsor. Sekadar diketahui, dua hari belakangan ini Kabupaten Enrekang terus diguyur hujan dengan intensitas cukup deras. Sebelumnya banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan sarana umum di Kabere, Kecamatan Cendana dan tanah longsor yang menutup akses transportasi di kecamatan Maiwa dan Bungin.
Sumber : https://makassar.sindonews.com/read/10475/4/ditimpa-longsor-rumah-warga-di-baraka-enrekang-ambruk-1530198416
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

2. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Bencana longsor terjadi di Lembang Benteng Mamulli, Kecamatan Kapalapitu, Kamis (28/6/2018). Akibatnya, akses jalan menuju beberapa objek wisata di Lolai, Toraja Utara, Sulawesi selatan jadi tertutup. Saat ini sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. 
Sumber: http://www.wartaonline.net/longsor-tutup-akses-menuju-sejumlah-objek-wisata/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat Kelerengan , tanah  pelapukan yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi

3. Kota Ambon, Provinsi Maluku
Wilayah Kota Ambon diterjang bencana banjir dan longsor. Bencana ini dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Jumat (29/6/2018) dini hari. ,longsor terjadi di kawasan Karang Panjang. Material longsor menutup sebagian ruas jalan. Kendaaran pribadi maupun angkutan umum yang hendak melintas dianjurankan ektra hati-hati di karenakan kawasan tersebut . Tidak ada korban jiwa dalam longsor yang terjadi..
Sumber : http://globalindo.co/ambon-diterjang-banjir-dan-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat Kelerengan, tanah  pelapukan yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi.

4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Bencana tanah longsor terjadi di Dusun Sengi, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Selasa (26/6/2018) malam kemarin sekitar pukul 21.15 WIB. Tebing setinggi 15 meter longsor mengakibatkan jalan antar dusun tertutup. Hujan mengguyur wilayah Dusun Sengi sedari pukul 15.00 WIB sore. Akibat hujan yang terus mendera, lapisan tanah di sekitar TKP pun gembur dan adanya peningkatan pembuangan air dari area persawahan yang berada lebih tinggi. BPBD bersama dengan warga setempat melakukan pembersihan material longsor yang menutup sumber aliran air irigasi agar air tidak meluap dan memperparah kerusakan.
Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2018/06/28/tebing-setinggi-15-meter-di-magelang-longsor-tutup-irigasi-dan-jalan-dusun
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan  dan batuan/tanah yang dipicu oleh curah hujan yang tinggi
Rekomendasi :
• Area longsoran segera dibersihkan dan rumah diperbaiki dan diberi perkuatan tebing penahan lereng dengan  fondasi mencapai tanah yang keras.
• Perlu kewaspadaan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi bencana, mengingat cuaca masih hujan, bila perlu mengungsi jika masih terjadi hujan lebat;
• Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta  menata aliran air permukaan. 
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana khususnya pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.




Jakarta, 30 Juni 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM


Kasbani


Berita Terkini