Pandangan Baru Magmatisme Dan Vulkanisme Terhadap Geodinamika Sumatra Bagian Tengah

Dalam kegiatan kolokium pusat survey geologi yang diselenggarakan pada tanggal 27 November 2018 dengan mengangkat tema “Penyediaan Data Dasar Kebumian untuk Menjawab Isu Strategis Nasional”, Bidang geosains mengangkat salah suatu tema yang tidak kalah menarik khusunya dalam penelitian scientific yaitu mengenai “Pandangan Baru Magmatisme dan Vulkanisme terhadap Sumatra Bagian Tengah”. Penelitian yang dilakukan Bidang Geosains ini sesuai dengan tugas dan fungsi Pusat Survei Geologi terkait dengan pengembangan metode laboratorium dan survei geologi untuk menghasilkan pandangan baru dan konsep baru di Bidang Kebumian.

Berbicara mengenai pandangan baru di Sumatra bagian tengah tidak terlepas dari Pulau Sumatra yang menyimpan sejarah tektonik dan geologi yang panjang sejak Pra-Tersier hingga saat ini (resen). Pulau Sumatra tersusun sedikitnya atas 4 (empat) mintakat yaitu Woyla, Blok Sumatra Barat, Sibumasu, dan Malaya Timur; juga setidaknya terdapat 2 (dua) batas suture yang membatasi mintakat tersebut yaitu Bentong – Raub Suture, dan Median Sumatra Suture. Interaksi antar mintakat – mintakat tersebut menyebabkan terjadinya proses magmatisme dan vulkanisme. Magmatisme yang terjadi menghasilkan batolit – batolit granit sepanjang Pulau Sumatra yang terbentuk dari mulai umur Trias sampai dengan Miosen, sedangkan vulkanisme membentuk busur vulkanik dari Miosen sampai dengan Kuarter.

Hasil kegiatan penelitian di Sumatra bagian tengah yang merupakan gabungan tim geokronologi dan Petrologi – geokimia, Bidang Geosains ini menghasilkan pandangan baru terhadap geodinamika Sumatra bagian tengah. Pertama, terkait dengan magmatisme di Sumatra bagian tengah yaitu : pandangan baru mengenai temuan batolit granite tipe – A di daerah Sijunjung, Sumatra Barat dan Pulau Karimun, Kepulauan Riau. Temuan batolit granit tipe – A ini dapat menjadi bahan evaluasi terhadap tatanan tektonik di Sumatra bagian tengah pada Pra-Tersier (Perem – Trias) sebagai daerah post collisional atau continental rifting. Penemuan batolit granit tipe – A ini juga dapat menjadi jalur keberadan sumber daya unsur tanah jarang (REE), khususnya pada batuan primer sebagai komoditi di masa yang akan datang.

 gbr1

Lokasi granite tipe – A yang berumur Trias dengan tektur megakristaline yang ditemukan di Pulau Karimun, Kepulauan Riau.

Kedua, terkait dengan vulkanisme di Sumatra bagian tengah yaitu : terdapat temuan data baru letusan pembentuk 7km kaldera Masurai di Sumatra yang terjadi pada 33,000 tahun calBP dengan skala VEI 5, tipe letusan colossal ultraplinian, menghasilkan minimal 27.7 km3 total volume endapan aliran, skala 12.04 DRE. Dalam hal ini dijelaskan pula mengenai tahapan letusan yang terjadi pada kaldera Masurai yaitu, tahap awal letusan adalah erupsi ultraplinian dengan kolom erupsi >25km dengan skala pengaruh stratosfer sangat tinggi menghasilkan endapan ignimbrit fase 1 kemudian diikuti oleh runtuhnya “atap magma” membentuk ignimbrit fase 2 (diperkirakan sekitar 12 jam proses erupsi).

 gbr2

 

Kenampakan morfologi kaldera Masurai dan ditemukannya jejak letusan Gunung Masurai

Melihat kondisi keilmuan kebumian saat ini, kegiatan penelitian yang bersifat hulu perlu digalakkan kembali, karena perkembangan keilmuan kebumian di International saat ini tidak mengesampingkan ilmu di luar geologi dan tidak hanya sekedar ilmu yang bermanfaat secara langsung di dunia industri. Maka dari itu Badan Geologi, khususnya Pusat Survei Geologi sebagai basis para ahli di bidang kebumian harus membuka pemikiran untuk berkolaborasi dengan para ahli keilmuan lainnya agar dapat menghasilkan suatu kontribusi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Penyusun : Tim Geokronologi dan Tim Petrologi – Geokimia Bidang Geosains, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi