Kondisi Gunung Anak Krakatau Per 30 Desember 2018

Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda, diantara ujung selatan pulau Sumatar dan ujung Barat pulau Jawa, dikenal luas oleh letusan besarnya yang terjadi pada tahun 1883. Letusan 1883 ini membentuk kaldera di bawah permukaan air laut dengan diameter sekitar 7 km.

Mulai tahun 1927 tumbuh kerucut gunungapi baru ditepian lingkar kaldera dan muncul di atas permukaan laut tanggal 29 Desember 1929. Sejak saat itu hingga saat ini Gunung Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar), melalui perselingan fase-fase aktivitas tenang dan erupsi. Gunungapi muda ini sangat aktif. Letusannya terjadi antara 2 sampai 4 tahun sekali. Fase erupsi biasanya berlangsung berbulan-bulan bahkan bisa berlangsung beberapa tahun.

Pada pengukuran yang dilakukan di bulan September 2018, Gunung Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter di atas permukaan laut. Secara morfologi bentuk Gunung Anak Krakatau tidak pernah mempunyai bentuk kerucut yang ideal. Separuh di sisi baratlaut-utara-timur-tenggara relatif stabil sejak pembentukan pertama dan bentukan kerucut dengan kelerengan relatif landai. Sebaliknya, di sisi barat-baratdaya-selatan berubah-ubah sebagai hasil dari aktivitas erupsinya. Hal ini terjadi karena Gunung Anak Krakatau muncul di posisi tepian kaldera, yang sering disebut sebagai ‘ring-dyke’, yaitu terobosan yang muncul karena di tepian kaldera meupakan zona yang relatif lemah sesudah pembentukan kaldera.

Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava. Di fase-fase awal pembentukan, yaitu menjelang muncul di permukaan sampai sekitar 1935, letusan berupa letusan Surtseyan karena posisi kawah masih sangat rendah, yaitu level permukaan air laut. Pada tahun 2016 letusan terjadi tanggal 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Tahun 2018, kembali meletus sejak tanggal 29 Juni 2018 sampai saat ini, sebagaimana biasanya letusan berupa letusan-letusan strombolian.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dipantai dengan pemasangan beberapa stasiun seismik di lereng Gunung Anak Krakatau (KRA) dan juga di lokasi di Pulau Sertung (SRT), di barat daya Gunung Anak Krakatau. Tentu saja stasiun seismik yang dipasang di tubuh Gunung Anak Krakatau akan terdampak langsung letusan apabila terjadi erupsi. Namun demikian, stasiun seismik di Gunung Anak Krakatau penting untuk mendeteksi perubahan fase tenang dan fase erupsi, karena di awal akan tercatat gempa-gempa vulkanik yang berukuran kecil yang sulit tercatat di stasiun seismik yang lebih jauh. Namun demikian, pada saat aktivitas pada level tinggi, stasiun di Pulau Sertung akan mengambil alih karena pada saat aktivitas tinggi, amplitudo kegempaan cukup besar sehingga tercatat di Pulau Sertung dengan jelas.

Hasil Pengamatan Seismik dan Visual periode aktivitas tahun 2018 dapat disarikan sebagai berikut:

Waktu

Keterangan kejadian

s/d Juni 2018

kegempaan dicirikan dengan munculnya gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal

Awal Juli 2018

Diawali dengan hembusan-hembusan asap dari kawah, kemudian diikuti dengan seri letusan-letusan pada tanggal 1 Juli 2018.

Agustus 2018

Aktivitas letusan terus berlangsung dengan jumlah letusan bervariasi dari seratus sampai 400 per hari

September 2018

Bulan September merupakan puncaknya kejadian letusan dengan amplitudo sinyal gempa maksimal dan dengan kejadian letusan-letusan yang terus menerus.

Oktober - November 2018

Fase aktivitas menurun yang ditunjukkan dengan jumlah letusan yang berkurang

22 Desember, 20.56

Rekaman menunjukkan adanya gempa pada pukul 20:55:43. Gempa ini juga tercatat di stasiun seismik Gunung Gede Cianjur. Karena tercatat sampai Gunung Gede, dapat disimpulkan bahwa gempa ini bukan gempa permukaan.

22 Desember, 20.58

Tercatat sinyal-sinyal guguran mulai pukul 20.58.04. Ada kemungkinan bahwa longsor terjadi karena dipicu gempabumi.

22 Desember, 21.03

Stasiun seismik KRA mati. Diperkirakan tertimpa letusan.

24-27 Desember 2018

Terjadi letusan yang menerus disertai ‘dentuman’ gelegar suara letusan yang terdengar sampai di Pos Pasauran. Di level tertinggi, jumlah dentuman mencapai 14 kali per menit ( = sekitar 5 detik sekali terjadi letusan)

26 Desember 2018, pukul 12.15

Mulai letusan-letusan besar dengan diikuti hujan abu.

27 Desember 06.00

Status Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari level Siaga menjadi Waspada, dengan rekomendasi yang semula larangan dalam radius 2 km dari Gunung Anak Krakatau menjadi radius 5km dari Gunung Anak Krakatau.

Radius 5 km di lapangan adalah berada di dalam Komplek Krakatau yang dibatasi P. Rakata, P. Sertung dan P. Panjang.

27 Desember 2018 sekitar jam 23.00

Perubahan sinyal kegempaan yang tiba-tiba mengecil, frekuensi menjadi lebih tinggi. Demikian juga sinyal letusan berkurang. Dan sejak saat ini tidak terdengar lagi dentuman gelegar letusan sampai sekarang. (Press-Release per Jumat 28 Desember 2018, 18.00)

Perubahan adanya dentuman dan tidak ada dentuman karena perubahan posisi pusat letusan dari di atas permukaan laut (udara) ke bawah permukaan laut.

Perubahan dari pola dentuman ke tanpa dentuman dapat terjadi apabila tubuh gunung longsor.

28 Desember 2018, pukul 14.18

Dengan sedikit membaiknya cuaca, teramati bahwa tinggi Gunung Anak Krakatau tinggal 110M dpl dari sebelumnya 338 M dpl. Dan tubuh puncak Gunung Anak Krakatau hilang. (sebagian diletuskan dan menimbulkan hujan abu dan tentunya longsor di tgl 26 Desember)

Tinggi gunung 110 M adalah tinggi dari ‘somma’ Anak Krakatau. Yaitu lingkar punggungan sisa dari Aktivitas erupsi tahun 1950.

29-30 Desember

Letusan-letusan terjadi dengan jumlah yang minim (2 jam sekali). Secara visual, letusan berupa letusan jenis Surtseyan, yaitu magma yang keluar langsung menyentuh air.

Catatan kegempaan menunjukkan penurunan

 gbr1

Grafik RSAM (Real-Time Seismic Amplitude Measurements) periode 1 – 30 Desember 2018 sta Sertung


gbr2
Waveform rekaman seismik sebelum longsoran dan tsunami terjadi, yang terekam di sta Sertung (atas) dan sta Puncak G. Gede (bawah)


gbr3

 KESIMPULAN

  1. Posisi kawah yang berada di permukaan atau sedikit dibawah permukaan air laut menjadikan tipe letusan berubah dari Strombolian ke Surtseyan. Letusan jenis ini tidak akan menimbulkan tsunami karena terjadi dipermukaan air dan material cenderung terlempar ke udara secara total.
  2. Puncak Gunung Anak Krakatau hilang (diletuskan dan runtuh) yaitu seluruh kerucut yang berada di atas dan terjadi sesudah ‘somma’ Anak Krakatau.
  3. Dari posisi ‘somma‘ yang berada di pelataran yang relatif stabil, dan tidak pernah longsor sejak lahir Anak Krakatau, potensi terjadi longsor-besar sangatlah kecil atau hampir tidak ada. Tidak ada potensi tsunami dari proses longsoran.
  4. Namun demikian perlu diingat bahwa struktur geologi di Selat Sunda merupakan struktur aktif dengan sebagian berupa sesar-sesar normal, sehingga reaktivitasi sesar-sesar ini tetap harus diwaspadai.

 

REKOMENDASI

  1. Meskipun ancaman tsunami dari proses longsor sangat kecil, direkomendasikan kepada BMKG untuk melakukan pemasangan ‘tidal-gauge’ di P. Rakata. Pilihan P. Rakata ini berdasarkan pertimbangan dari sebaran struktur geologi yang ada di Selat Sunda dan keberadaan Gunung Anak Krakatau
  2. Status Gunung Anak Krakatau masih Siaga (level 3) dengan rekomendasi untuk tidak memasuki area dalam radius 5 km dari G. Anak Krakatau.
  3. Apabila ada perubahan yang signifikan dalam beberapa hari ke depan, Status Gunung Anak Krakatau akan ditinjau kembali.