Badan Geologi Berpartisipasi Pada Roadshow Dan Seminar Ke-7 Peringatan Hari Nusantara Ke-15 Di Universitas Andalas, Padang

Badan Geologi Berpartisipasi Pada Roadshow Dan Seminar Ke-7 Peringatan Hari Nusantara Ke-15 Di Universitas Andalas, Padang

 

Kementerian ESDM sebagai Ketua Pelaksana Hari Nusantara ke-15 kembali menggelar roadshow pameran dan seminar di Universitas Andalas, Sumatera Barat, Padang. Universitas Andalas menjadi tuan rumah roadshow seminar dan pameran Hari Nusantara ke-15 tahun 2015, Kamis (12/11). Subtema seminar dipilih "Kita perkuat koordinasi dalam mitigasi bencana di Indonesia" mengingat potensi kebencanaan gempa bumi dan tsunami yang besar di kawasan Sumatera Barat.

Staf Ahli Menteri ESDM bidang Komunikasi dan Sosial Kemasyarakatan, Ronggo Kuncahyo, mewakili Menteri ESDM Sudirman Said, membuka roadshow yang bertemakan "Dengan Semangat Hari Nusantara Kita Perkuat Koordinasi dalam Mitigasi Bemcana di Indonesia" ini. Hadir pula dalam roadshow ini adalah Staf Ahli Kebencanaan Kementerian ESDM Surono dan Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial, yang menjadi keynote speaker membuka seminar.


badangeologiberpastisipasipadaroadshowdanseminarke7peringatanharnus

Salah satu tugas Kementerian ESDM melalui Badan Geologi adalah menangani masalah kebencaan geologi melalui kegiatan mitigasi bencana geologi. "Kami dari KESDM melalui Badan Geologi berupaya semaksimal mungkin untuk menekan korban jiwa dan harta benda akibat bencana geologi, tsunami, letusan gunung api, dan tanah longsor", demikian diungkapkan Staf Ahli Kebencanaan KESDM Surono saat memberikan paparan mengenai Bencana Geologi di Sumatera.


Di Pulau Sumatera terdapat 87 gunung api, dan 4 diantaranya gunung api aktif di Pulau Sumatera Barat (G. Kerinci, G. Marapi, G. Talang dan G. Tandikat). "Di keempat gunung api aktif tersebut sudah ada pos pengamatan gunung api dari KESDM sehingga mitigasinya bisa lebih akurat dan optimal, papar Surono. Di Sumatera potensi bencana geologinya memang besar karena tanah geologinya lebih unik dikarenakan lempeng sesarnya lebih cepat geraknya dibanding selatan Jawa.

"Potensi gempa di Sumbar bisa di darat dan dilaut. Kalau daerah sudah pernah dilanda gempa dan tsunami pasti akan terjadi gempa dan tsunami lagi, tapi tidak perlu takut, kita harus selalu waspada saja", ucap Surono.

Kewenangan dari KESDM yaitu mengadakan penelitian untuk mengidentifikasi potensi bencana, pemantauan juga peringatan dini apabila terjadi gempa. Evakuasi dan pengungsian diberikan setelah ada rekomendasi oleh lembaga lain seperti BNPB, pemerintah daerah. "Kalau mitigasi bencana tanpa riset sama dengan kita mengidentifikasi gajah tapi mata kita ditutup", ujar Surono.

Letusan gunung api dan bencana geologi tidak bisa kita hentikan. "yang bisa kita rekayasa adalah masyarakatnya. Masyarakatnya bisa kita didik, bangunan yang dibangun harus yang tahan gempa sehingga kita bisa mengurangi resiko dari bencana tersebut", tutup Surono mengakhiri sambutannya.

 

badangeologiberpastisipasipadaroadshowdanseminarke7peringatanharnus1 

Dalam sambutan Menteri ESDM yang dibacakan oleh Ronggo Kuncahyo, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki tatanan geologis yang unik, yakni berada pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia. "Lempeng Australia bergerak aktif ke utara, lempeng Eurasia relatif stabil, dan lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah barat," jelas Ronggo. Pertemuan ketiga lempeng tersebut membawa potensi sumber daya geologi yang melimpah yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup masyarakat dan perekonomian Indonesia. "Konsekuensi dari pertemuan tiga lempeng tersebut banyak dijumpai jebakan mineral logam dan non logam, serta minyak dan gas bumi," sebut Ronggo.

Namun di sisi lain, interaksi dari ketiga lempeng aktif tersebut membentuk zona subduksi di lepas pantai dari Sumatera sampai Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan beberapa patahan aktif di dasar laut dan daratan. "Aktivitas zona subduksi dan sesar aktif dapat menyebabkan gempa bumi dan juga membuat Indonesia mempunyai 127 gunung api aktif atau sekitar 13% jumlah gunung api dunia. Selain itu, zona subduksi membentuk morfologi dengan kemiringan sedang hingga terjal yang memicu tanah longsor dengan atau tanpa diikuti banjir bandang," lanjut Ronggo.

Wilayah Sumatera Barat sendiri merupakan wilayah yang rawan akan bencana geologi. Contohnya adalah Gempa Padang pada 2009 silam yang menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa serta kerusakan sarana dan prasarana yang tidak sedikit. Di samping itu, terdapat pula empat gunung api aktif. "Potensi bencana alam di Sumatera Barat tersebut mendorong Kementerian ESDM untuk bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk menyelenggarakan seminar dan pameran ini sebagai salah satu upaya mitigasi kebencanaan untuk saat ini dan di masa depan," sebut Ronggo.

 

(Joko Parwata)