Tenaga Matahari Sebagai Sumber Listrik Terbarukan

Tenaga Matahari Sebagai Sumber Listrik Terbarukan

Setiap hari manusia sangat memerlukan energi listrik sebagai suatu kebutuhan, terutama ketika menggunakan alat-alat elektronik. Namun karena besarnya daya pakai masyarakat terhadap energi listrik lambat laun sebagai sumber daya alam, energi listrik yang tidak dapat diperbaharui ketersediaannya makin lama makin menipis. Hingga selanjutnya pemerintah melalui peraturan dan perundang-undangan negara mengingatkan kepada seluruh lapisan masyarakat agar dapat menggunakan energi listrik dengan lebih hemat dan efisien. Upaya tersebut dibarengi pula dengan upaya para ahli dunia untuk menjadikan matahari sebagai sumber pembangkit listrik terbarukan dimana energi yang dihasilkan matahari tidak akan pernah habis dan jauh lebih hemat, efisien, murah, dan tanpa polusi. Berbeda ketika manusia harus menggunakan minyak bumi. Jika energi surya ini dapat dieksploitasi dengan tepat maka dapat berpotensi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia dalam waktu yang lebih lama. Khususnya di beberapa wilayah Indonesia, saat ini telah berdiri beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) seperti di Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Karena sifatnya open source atau tidak didaftarkan dalam hak cipta, pemerintah memberikan izin kepada siapa saja untuk membuat PLTS di daerah lainnya. Pembangkit listrik tenaga panas matahari sendiri merupakan rangkaian kaca-kaca besar yang mengkonsentrasikan cahaya matahari ke satu garis atau satu titik. Panas yang dihasilkan digunakan untuk menghasilkan uap panas. Sedangkan panasnya, tekanan uap panas yang tinggi berfungsi untuk menjalankan turbin yang menghasilkan listrik. Terutama di daerah yang banyak disinari matahari, PLTS dapat menjamin pembagian besar produksi listrik. Pada tahun 2015 berdasarkan proyeksi dari tingkat arus hanya 354 MW, total pemasangan pembangkit tenaga panas matahari akan melampaui 5000 MW dan diperkirakan di tahun 2020 penambahan kapasitas akan naik sampai 4500 MW setiap tahunnya dengan total pemasangan kapasitas PLTS di seluruh dunia mencapai 30.000 MW setidaknya dapat mencukupi daya energi listrik untuk 30 juta rumah. Setidaknya sebanyak 120.000 Tera Watt tenaga surya dapat diserap bumi. Kemudian untuk proses kerjanya, pembangkit listrik tenaga surya ini mampu memproduksi uap dengan ladang cermin yag digunakan untuk menggerakkan turbin biasanya untuk penggunaan pembangkit listrik tenaga surya yang berskala besar, sedangkan untuk mengubah sinar matahari menjadi energi listrik digunakan photovoltaic namun skalanya lebih kecil. Sementara dalam aplikasinya, tenaga surya berfungsi sebagai penerangan di rumah, penerangan lampu jalan, sumber listrik untuk instalasi wirelees, radio pemancar, perangkat komunikasi, signal kereta api dan kapal, sebagai portable power supply, dan sebagai sumber tenaga untuk perangkat satelit. Kelebihan dari panel surya sangat ramah lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim serta mudah dipasang dan memiliki biaya pemeliharaan yang sangat rendah karena tidak ada bagian yang bergerak. Termasuk tidak memberikan kontribusi terhadap polusi suara dan masa pakai yang panjang bisa mencapai 20-30 tahun. Namun ada pula kekurangan dalam mengaplikasikannya seperti : Panel surya masih relatif mahal disamping perlu adanya peningkatan secara signifikan karena banyak sinar matahari terbuang sia-sia dan berubah jadi panas. Rata-rata panel surya saat ini mencapai efisensi kurang dari 20%. Jika tidak terpasang dengan baik dapat terjadi over-heating pada panel surya. Tidak hanya itu, kekurangan lainnya dari panel surya ialah bahan-bahannya terbuat dari bahan (silicon, selenium, cadmium, dan sulfur heksafluorida) yang tidak ramah lingkungan.

tenagamatahari

Perinsip Kerja Tenaga Surya ( sumber : http://tlts.wordpress.com)

Diakui bagi mayoritas masyarakat Indonesia panel surya belum bisa menjadi energi alternatif yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dikarenakan biaya alat dan instalasinya yang masih mahal. Karena itu, saat ini panel surya lebih pantas digunakan untuk keperluan instansi, kantor pemerintahan, sekolah atau badan-badan pelayanan masyarakat. Alasannya jika terjadi pemadaman listrik, semua kegiatan tidak akan terganggu tidak sama seperti yang sering dialami sekarang ini. Menurut Direktur Jendral Energi Baru Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rida Mulyana, saat ini Pemerintah Indonesia sedang membuka peluang investasi pembangkit listrik tenaga surya. Alasannya dilihat dari grafik pertumbuhan konsumsi listrik di Indonesia cukup pesat. Rata-rata menurut Rida, pertahun kebutuhan listrik dalam negeri meningkat sekitar tujuh persen. Di tahun 2014 saja, konsumsi listrik domestik mencapai hampir 65 juta MWh. Oleh sebab itu, melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2013, bisa menjadi kabar gembira bagi para investor yang ingin berinfestasi. Sementara itu, Direktur Utama PT.PLN, Nur Pamudji, menilai dengan kondisi iklim di Indonesia yang tropis tidak cocok untuk mengembangkan PLTS, masalahnya sinar matahari yang efektif untuk dijadikan pembangkit listrik hanya bersinar dengan tenaga penuh selama 3,5 sampai 4 jam. Menurutnya pembangkit listrik tenaga surya cocok untuk daerah yang beriklim sub tropis. Pemerintah sendiri menargetkan penggunaan energi baru terbarukan sebesar sepuluh persen dari peningkatan elektrisitas nasional dapat tercapai. Sekitar 20 GW listrik dalam kurun waktu 15 tahun mendatang akan diproduksi tercakup pula hasil pemanfaatan energi solar. Terkait kebijakan yang telah dikeluarkan dalam rangka mendukung penerapan energi terbarukan, seperti Permen ESDM no 17 tahun 2013 tentang Pembelian Tenaga Listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik serta Hasil Restrukturisasi Kebijakan Tahun 2004 dengan terbitnya Kepmen ESDM Nomor 02 Tahun 2004 tentang Kebijakan Pengembangan Energi terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau). Dari kebijakan tersebut pemerintah mengharapkan dapat menjadi acuan para stakeholders dalam pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi. Semoga di tahun 2025 sumber energi terbarukan diproyeksikan mampu menyumbang 25% dari keseluruhan pemenuhan kebutuhan energi nasional dan hal ini perlu dukungan semua pihak baik pemerintah, akademisi dan masyarakat.

(Lilies Marie/dari berbagai sumber)