Konferensi Pers Terkait Kontribusi Sektor Badan Geologi Dalam Upaya Pemulihan Dampak Gempa Bumi Di Pidie Jaya, Aceh.

Konferensi Pers Terkait Kontribusi Sektor Badan Geologi Dalam Upaya

Pemulihan Dampak Gempa Bumi Di Pidie Jaya, Aceh.

 

1. Tim Tanggap Darurat Badan Geologi

Tim Tanggap Darurat Badan Geologi yang dipimpin Kepala Badan Geologi  telah berada di Pidie sejak 8 Desember 2016 dan telah melakukan pemeriksaan, penelitian dan pemetaan daerah terdampak yang digunakan sebagai rekomendasi teksnis untuk penanganan paska bencana khususnya terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi serta upaya untuk meningkatkan mitigasi dan Tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarjkat secara langsung untuk memberikan pengetahuan dan rasa aman terkait dengan bencana gempa bumi serta malakukan pemetaan akibat kejadian gempabumi Pidie Jaya, meliputi kerusakan geologi (pergeseran tanah/retakan tanah, likuifaksi, longsoran) dan kerusakan bangunan, mengidentifikasi karateristik tanah melalui pengukuran mikro tremor menggunakan peralatan seismograf portable, memberikan rekomendasi teknis berkaitan dengan kerusakan geologi kepada Pemerintah Provinsi/Kabupaten sebagai acuan dalam menyusun rencana rehabilitasi dan rekontruksi untuk upaya pengurangan resiko bencana dimasa yang akan datang, memberi rasa aman secara psikologi kepada masyarakat di daerah bencana melalui sosialisasi secara langsung.

2. Hasil Pemeriksaan Lapangan

Kejadian gempa bumi Pidie Jaya akibat pergerakan sessar aktif mendatar berarah barat laut garis tenggara. Daerah bencana tersusun oleh endapan kuarter yang telah lapuk, terjadi retakan tanah yang bmengakibatkan kerusakan jalan dan bangunan di daerah lumpangtiga (Kabupaten Pidie, Ulim, Tringgading, Panterajabarat, Meunasah Balik, pantai Manohara, terjadi likuifaksi yang mengakibatkan berkurangnya daya dukung tanah akibat material dan cairan yang terdapat didalam tanah muncul kepermukaan tanah. Lokasi likuifaksi tersebar di Ulim, Panteraja, panteraja barat, Meunasah Balik, pantai Manohara, kerusakan bangunan disebabkan bangunan yang dirancang tidak tahan gempabumi (non engineering building) dan dibangun pada endapan aluvial yang jenuh air, proses likuifaksi dan retakan tanah.

3. Rekomendasi Teknis

Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan. Gempabumi susulan yang terjadi dan dapat dirasakan akan semakin mengecil energinya, bangunan vital, strategi bangunan vital (perkantoran, ruko, pasar, sekolah dll) dibangun mengikuti kaidah-kaidah bangunan tahan gempabumi, dihindari membangun pada endapan aluvial dan tanah yang urug dan tidak memenuhi persyaratan teknis, karena rawan terhadap goncangan gempabumi, bangunan yang terletak pada zona liquifaksi dapat dibangun kembali dengan menerapkan kaidah bangunan tahan gempabumi, bangunan yang terletak pada zona retakan tanah dalam dimensi besar dan panjang agar digeser sekitar 20 meter dari retakan utama seperti masjid Quba Jami, belum dilakukan upaya mitigasi gempabumi terutama yang berkaitan dengan upaya peningkatan kapasitas masyarakat melalui sosialisasi simulasi dan pelatihan penanggulangan bencana. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten  Pidie Jaya agar melaksanakan kegiatan tersebut secara reguler, agar Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya segera merevisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) berdasarkan peta kawasan rawan bencana geologi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi  Kementerian ESDM.

konferensipersterkaitkontribusisektorbadangeologidalamupayapemulihandampakgempabumidipidiejayaacehPress Conference Kepala Badan Geologi Terkait Kontribusi Sektor Badan Geologi Dalam Upaya Pemulihan Dampak Gempa Bumi Di Pidie Jaya, Aceh Selasa (20/12/16)

 konferensipersterkaitkontribusisektorbadangeologidalamupayapemulihandampakgempabumidipidiejayaaceh1

 

TIM AIR TANAH BADAN GEOLOGI

Tim Air tanah telah melakukan koordinasi dengan Dinas ESDM Pemerintah Provinsi Aceh terkait instalasi dan pengeboran air tanah, telah melakukan pemboran 12 sumur di 10 Desa di Pidie Jaya untuk 15 ribu jiwa. 9 sumur telah beroperasi, 3 sumur sedang proses pemboran, melakukan survei tambahan untuk penambahan 3 sumur bor di Desa Plantok Teunon, Desa Tampoe dan Desa Mee Tedeuk, pemanfaatan sumur bor air tanah dangkal telah dilaporkan oleh Plt Gubernur Aceh dalam rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menko PMK Puan Maharani di Kantor Gubernur Aceh.

konferensipersterkaitkontribusisektorbadangeologidalamupayapemulihandampakgempabumidipidiejayaaceh2

 

Sumber    : Joko Parwata

Pengirim : Lilies Marie

 

 

<kembali>