Laporan Kebencanaan Geologi 15 Mei 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 15 MEI 2017 (06:00 WIB)


I. SUMMARY:
Hari ini, Senin, 15 Mei 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:

1. Gunung Api

 
G. Sinabung: 
Status  Level IV (Awas), secara visual dari kemarin sampai pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi  erupsi letusan sebanyak 4 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 700-2500 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah timur. Tidak terdengar suara dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi tidak diikuti oleh guguran lava dan awan panas guguran/letusan. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi: 

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Kode ORANGE, terbit Tanggal 14 Mei 2017 Pukul 13:16 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 4960 m dari permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Condong ditiup angin ke arah timur.


G. Dukono:
Status Level II (Waspada), erupsi secara menerus terjadi. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 400-600 m dari puncak, condong ke arah timur dan utara. Letusan terbesar terjadi sebanyak 63 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Kode ORANGE, terbit 14 Mei 2017 pukul 06:29 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.

Masyarakat/wisatawan/pendaki agar mematuhi Peta Kawasan Rawan (KRB) dari Badan Geologi. 
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

 
Pada bulan Mei 2017, Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan mei 2017 di seluruh wilayah Indonesia menujukan pola distribusi curah hujan masih tetap tinggi seperti bulan April 2017. Gerakan Tanah diperkirakan masih terjadi dari  Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa, mengingat masih tingginya curah hujan, pertumbuhan dan alih fungsi lahan cukup masif diwilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.


Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kota Kendari, Sulawesi Tenggara2. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat3. KAbupaten Kampar, Riau

Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, tebing jalan yang dipotong  tidak sesuai kaidah pemotongan yang baik, kurang vegetasi di bagian hulu, rumah dibangun di bawah tebing, sifat tanah yang gembur, berbatu dan lepas  

 Dampak:

1. 1 rumah rusak di Kota Kendari

2. Jalan tidak dapat dilalui kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dan 500 kepala Keluarga terisolasi di Sijunjung, Sumatera Barat

3. Jalan Terputus di Kampar, Riau

Menindaklanjuti , Kejadian Gerakan Tanah / Tanah Longsor pada tanggal 12 Mei 2017 di Kabupaten Luwuh Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Geologi mengirimkan Tim Tanggap Darurat  pada tanggal 13 Mei 2017. Perkembangan kerja sampai dengan 14 Mei 2017, Tim Tanggap Darurat telah melakukan koordinasi dengan BPBD  Kabupaten Luwu dan mulai melakukan kegiatan pemeriksaan di lokasi bencana.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

 
1. Gunung Api


Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 


*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 4 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 700-2500 m, condong ditiup angin ke arah timur. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi tidak diikuti guguran lava dan awan panas letusan/guguran.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan jmadalah sekitar 0,5 juta m3 atau 521.536 m3. (Ukuran Panjang = 106 m, Lebar = 152.8 m, Tebal = 32,2 m, pengukuran 21 April 2017)
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 400-600 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah timur dan utara. Letusan terbesar terjadi sebanyak 63 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG, 

- Air Nav, 

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin, 

- VAAC Tokyo, 

- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 14 Mei 2017 pukul 13:16 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah timur.
(2) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 14 Mei 2017 pukul 06:29 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah timur.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah


Pada bulan Mei 2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di 1. Kota Kendari, Sulawesi Tenggara*, 2. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat*, 3. Kabupaten Kampar, Riau*, 4.Kabupaten Nagan Raya, Aceh , 5. Kota Samarinda, Kalimantan Timur*, 6.Kabupaten  Luwu timur, Sulawesi Selatan, 7. Kabupaten Tuban Jawa Timur, 8. Kabupaten  Aceh Barat, Aceh, 9. Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, 10. Tangerang Selatan, Banten , 11. Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, 12. Kabupaten Lebong, Bengkulu, 13. Kabupaten Way Kanan, Lampung ,14.Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ,15. Kota Depok, Jawa Barat .

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 


1.  Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Gerakan tanah terjadi di RW 03 RT 03 Kelurahan Gunung Jati, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada hari Minggu, 14 Mei 2017 sekitar pukul 06.30 WITA. Gerakan tanah terjadi pada tebing di atas rumah yang mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak. Sumber : https://zonasultra.com/hujan-deras-akibatkan-pohon-tumbang-dan-tanah-longsor-di-kendari.html
Penyebab gerakan tanah diperkirakan kemiringan lereng yang terjal dan dipicu curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi: 

• Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.

• Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih lama. 

• Tidak mendirikan bangunan terlalu dekat dengan tebing 

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat


2. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat

Gerakan tanah dan banjir bandang terjadi di Kecamatan Tanjunggadang, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat pada hari Jum’at, 12 Mei 2017 sekitar pukul 23.00 WIB. Banjir bandang melanda pemukiman di Jorong Pasar, Kenagarian Pulasan sedangkan gerakan tanah terjadi pada 17 titik di Kenagarian Pulasan, 10 titik berada di jalan menuju Jorong Batangkati dan Jorong Padanglaweh, mengakibatkan 500 kepala keluarga terisolasi. Penyebab gerakan tanah dipicu curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

Sumber: : http://news.padek.co/detail/a/84444?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Penyebab gerakan tanah dipicu curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi: 

• Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan di sepanjang alur lembah sungai agar selalu meningkatkan kewaspadaan  terutama pada saat dan setelah turun hujan, dan 

• Perlu kesiapsiagaan dan kewaspadaan apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama maka masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan di sepanjang alur lembah sungai agar segera sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman. 

• Pemasangan rambu rawan bencana longsor pada daerah jalur jalan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan.

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat


3.  Kabupaten Kampar, Riau

Gerakan tanah terjadi di Desa Balung, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada hari Jum’at, 12 Mei 2017, malam hari. Gerakan tanah terjadi pada tebing yang menyebabkan tertutupnya badan jalan penghubung Desa Balung dengan Kenegarian Tanjung Belit sehingga lalu lintas jalur jalan tersebut terputus. 

Sumber : https://www.goriau.com/berita/peristiwa/banyak-terjadi-longsor-jalan-balungtanjung-belit-dalam-kondisi-darurat.html

Penyebab gerakan tanah diperkirakan kemiringan lereng yang terjal dan dipicu curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.  
Rekomendasi: 

• Segera membersihkan material longsoran karena material longsoran tersebut berpotensi menjadi longsor susulan. Pembersihan material longsoran jangan dilakukan pada saat dan setelah hujan.

• Setiap pengendara yang melintas jalan tersebut agar lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman longsor susulan, terutama  pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama. 

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat


Salam hormat

Ego Syahrial

 

<kembali>