Laporan Kebencanaan Geologi 17 Mei 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 17 MEI 2017 (06:00 WIB)


I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu, 17 Mei 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:


1. Gunung Api.

G. Sinabung: 
Status  Level IV (Awas), secara visual dari kemarin sampai pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi  erupsi letusan sebanyak 3 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 2300-3000 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah tenggara, timur, dan timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi tidak diikuti oleh guguran lava dan awan panas guguran/letusan.Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi: 

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Kode ORANGE, terbit Tanggal 16 Mei 2017 Pukul 10:58 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 4760 m dari permukaan laut atau 2300 m dari puncak. Condong ditiup angin ke arah tenggara-timur.

G. Dukono:
Status Level II (Waspada), erupsi secara menerus terjadi. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong ke arah timur. Letusan terbesar terjadi sebanyak 20 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Kode ORANGE, terbit 14 Mei 2017 pukul 07:23 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.

G. Lokon:
Tingkat aktivitas Gunungapi Lokon sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 50-100 m di atas kawah puncak. Arah angin ke utara dan barat. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vulkanik. Dari kemarin terekam gempa:-Vulkanik Dalam (9 kali)-Vulkanik Dangkal (27 kali)-Hembusan (14 kali)-Amplitudo dominan tremor menerus 3 mm.Biasanya peningkatan gempa vulkanik akan segera diikuti letusan abu.

Rekomendasi:

Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (Pusat aktivitas vulkanik)

VONA:

Kode YELLOW, terbit 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA terkait dengan peningkatan aktivitas kegempaan G. Lokon dimana secara visual belum menunjukkan terjadinya erupsi.
Masyarakat/wisatawan/pendaki agar mematuhi Peta Kawasan Rawan (KRB) dari Badan Geologi.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah.

Pada bulan Mei 2017, Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan mei 2017 di seluruh wilayah Indonesia menujukan pola distribusi curah hujan masih tetap tinggi seperti bulan April 2017. Gerakan Tanah diperkirakan masih terjadi dari  Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa, mengingat masih tingginya curah hujan, pertumbuhan dan alih fungsi lahan cukup masif diwilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.


Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan2. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat

Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal, kurang vegetasi di bagian hulu, , material pelapukan yang mudah luruh dan jenuh air, gerkan tanah / longsor lama terulang kembali

Dampak:

1. Jalan Tertutup longsor dan akses lalu lintas terputus di Kabupaten Ogan  Komering Ulu

2. Akses jalan terputus dan 4200 warga terisolasi di Sunjung, Sumatera Barat

Pengiriman Tim Tanggap Darurat :
1. Kabupaten Luwuh Timur, Sulawesi Selatan:
a. Menindaklanjuti , Kejadian Gerakan Tanah / Tanah Longsor pada tanggal 12 Mei 2017 di Kabupaten Luwuh Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Geologi mengirimkan Tim Tanggap Darurat  pada tanggal 13 Mei 2017.
b. Perkembangan kerja sampai dengan 17 Mei 2017, 

i. Tim Tanggap Darurat telah melakukan koordinasi dengan BPBD  Kabupaten Luwu dan Tim masih melakukan kegiatan pemeriksaan di lokasi bencana.

ii. Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa Gerakan tanah /Tanah longsor yang terjadi merupakan gerakan tanah tipe nendatan/ amblesan dan longsoran bahan rombakan. Longsoran ini bergerak cepat melalui kemiringan lereng yang terjal, berawal dari hujan deras tiada henti semalam yang mengakibatkan lereng jenuh air. Air meresap masuk kedalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air,sehingga bobot masatanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak menjadi longsor besar melalui bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusun lava basal. Selanjutnya material longsor ini menerjang badan jalan raya dan beberapa rumah di tepi jalan raya.

c. Tim Telah menyampaikan hasil sementara pemeriksaan dan melakukan sosialisasi kepada BPBD Kabupaten Luwu. 


2. Kabupaten Bandung Barat , Jawa Barat:
a. Terjadi retakan tanah  yangberpotensi berkembang menjadi  gerakan tanah di Kampungpondok datar, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rancabali. Mengingat keretakan terus terjadi sejak tanggal 5 Mei 2017 berpotensi mengancam 36 rumah dengan 45 Kepala Keluarga dan 139 jiwa, BPBD Kabupaten Bandung Barat meminta kajian segera kondisi tersebut kepada Badan Geologi.
b. Tim Tanggap Darurat , Badan Geologi sedang melaksanakan pemeriksaan di lapangan  sampai dengan tanggal 16 Mi 2017  .

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

II. DETAIL

1. Gunung Api.

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon*, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 


*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 3 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 2300-3000 m, condong ditiup angin ke arah tenggara, timur, dan timurlaut. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi tidak diikuti guguran lava dan awan panas letusan/guguran.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 0,5 juta m3 atau 521.536 m3. (Ukuran Panjang = 106 m, Lebar = 152.8 m, Tebal = 32,2 m, pengukuran 21 April 2017)
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah timur. Letusan terbesar terjadi sebanyak 20 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*G. Lokon.
Gunungapi Lokon terletak sebelah barat Kota Tomohon Sulawesi Utara. Gunungapi ini cukup aktif dan sering erupsi bertipe letusan yang kadang-kadang diikuti luncuran awan panas. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual sampai pagi ini gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 50-100 m di atas kawah puncak. Arah angin utara dan barat. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vuljanik Lokon. Dari kemari hingga pagi ini pukul 06:00 WITA terekam dan teramati kegempaan:-Vulkanik Dalam 9 kali-Vulkanik Dangkal 27 kali-Hembusan 14 kali-Amplitudo dominan tremor menerus 3 mm.Meskipun letusan belum terjadi dan tidak dapat dipastikan, tetapi probabilitas untuk terjadi letusan masih tinggi.
Koordinasi dengan Pemda dan BPBD Tomohon maupun pihak terkait lainnya termasuk stakeholders penerbangan telah dan terus dilakukan untuk meminimalisir risiko bencana.
Rekomendasi:Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (pusat aktivitas vulkanik)
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG, 

- Air Nav, 

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin, 

- VAAC Tokyo, 

- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 16 Mei 2017 pukul 10:58 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 4760 m di atas permukaan laut atau 2300 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah tenggara dan timur.
(2) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 14 Mei 2017 pukul 07:23 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah timur.
(3) G. Lokon, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA dengan kode warna YELLOW terkait peningkatan gempa vulkanik dan setiap saat dapat diikuti letusan abu. Sampai pagi ini belum diikuti letusan. Angin bertiup ke arah utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.



2. Gerakan Tanah.

Pada bulan Mei 2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di 1. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan*, 2. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat*,3. Kabupaten Merangin , Jambi, 4, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, 5. Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, 6. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, 7. Kabupaten Kampar, Riau, 8.Kabupaten Nagan Raya, Aceh , 9. Kota Samarinda, Kalimantan Timur, 10.Kabupaten  Luwu timur, Sulawesi Selatan, 11. Kabupaten Tuban Jawa Timur, 12. Kabupaten  Aceh Barat, Aceh, 13. Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, 14. Tangerang Selatan, Banten.


*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan.
Gerakan tanah terjadi di ruas Jalan Kabupaten tepatnya berada di Desa Sukaraja, Kec.Mekakau Ilir yang menghubungkan dengan Kec. Pulau Beringin.  Kejadian ini terjadi pada beberapa bulan lalu dan sudah diperbaiki, namun kembali longsor pada hari Senin 15 Mei 2017. Longsor sepanjang 10 meter dengan kedalaman 4 meter, berdampak akses jalan terputus karena sebagian besar jalan terkena longsor.

Sumber : http://sumsel.tribunnews.com/2017/05/15/jalan-longsor-membuat-warga-takut-melintas-bahkan-ada-yang-memutar-balik-arah 

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran bahan rombakan. Kemiringan lereng yang terjal , hujan deras dengan durasi yang cukup lama dan material pelapukan yang mudah luruh dan jenuh air diduga menjadi penyebab gerakan tanah.

Rekomendasi :

• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada, karena daerah tersebut termasuk daerah rawan longsor.

• Memelihara vegetasi di bagian bawah lereng sebagai penahan material longsoran.

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Agar memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah. 

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.


2. Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat

Gerakan tanah terjadi di akses jalan yang menghubungkan Muaro Sijunjung ke Nagari Silokek dan Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Kejadian ini terjadi pada hari Senin, 15 Mei 2017. Mengakibatkan Akses jalan penghubung lumpuh total  tidak bisa dilalui kendaraan dan sedikitnya 4200 warga terisolasi.

Sumber : http://m.viva.co.id/berita/nasional/915634-ribuan-warga-nbsp-di-sijunjung-terisolasi-nbsp-akibat-longsor 

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran yang disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang cukup lama serta erosi sungai.

Rekomendasi :

• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada, karena daerah tersebut termasuk daerah rawan longsor.

• Memelihara vegetasi di bagian bawah lereng sebagai penahan material longsoran.

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Agar memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah. 

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat


3. Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan

Progres perkembangan hasil pemeriksaan hingga tanggal 17 Mei 2017

Lokasi

Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 12 Mei 2017 sekitar pukul 05.30 WITA di Jalur Jalan Raya Sulawesi Poros Tenggara. Lokasi gerakan tanah terletak pada koordinat 020 36” 17.2” LS dan 1200 54” 57,21” BT, ketinggian sekitar 242 meter diatas muka laut, terjadi setelah hujan deras semalam, mengakibatkan 7 orang tewas, 1 unit kendaraan roda dua tertimpa material longsor mengakibatkan 7 (tujuh) orang meninggal dunia, 10 (sepuluh) luka luka, 10 (sepuluh) rumah yang berada ditepi jalan raya ini terlanda longsoran dan lalu lintas terputus selama sehari.

Morfologi/Geologi

Morfologi daerah bencana merupakan bagian dari perbukitan Maliwowo (345 m), perbukitan bergelombang kasar, kemiringan sekitar 12 – 580. pada bagian atas lereng terdapat alur alur sungai diantaranya muncul rembasan air dan cukup besar debitnya. Sedangkan badan jalan raya relatif datar, terletak di bagian bawah lereng terjal ini dengan lebar sekitar 10 meter.Batuan penyusun lokasi bencana terdiri dari batuan ultrabasic dan aluvial. Aluvial terdiri dari pasir, kerikil, kerakal hingga boulder terdapat di lereng bagian bawah sekitar jalan raya. Batuan ultrabasic di lereng terjal, banyak didominasi oleh lava basal berwarna abu abu – abu abu kehitaman, kekerasan sedang, hancur sudah terkekarkan dan telah mengalami pelapukan kuat berupa lempung pasiran berkerikil ukuran halus hingga kerakal tebal 1 – 4 meter.
Jenis Gerakan Tanah dan Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah 
Gerakan tanah /Tanah longsor yang terjadi merupakan gerakan tanah tipe nendatan/ amblesan dan longsoran bahan rombakan

Longsoran ini bergerak cepat melalui keniringan lereng yang terjal, berawal dari hujan deras tiada henti semalam yang mengakibatkan lereng jenuh air. Air meresap masuk kedalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air,sehingga bobot masatanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak menjadi longsor besar melalui bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusun lava basal. Selanjutnya material longsorini menerjang badan jalanraya dan beberapa rumah di tepi jalan raya.

Rekomendasi

 Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di ata slereng maupun di sepanjang jalanraya

 Perlu dibuat penguat lereng tebing 

 Pembersihan material longsoran

 Perlu ditanam pohon yang kuat untuk menahan lereng

 Perlu kewaspadaan masyarakat yang tinggal di sekitar tebing terutama pada saat hujan deras berlangsung lama agar mengungsi

 Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah pada JalurJalan Raya Sulawesi Poros Tenggara khususnya bagi pengguna jalan di sekitar lokasi bencana maupun pemukiman disisi tebing yang terjal

 Perlu dipasang rambu-rambu longsor

 

Salam hormat

Ego Syahrial

 

<kembali>