Laporan Kebencanaan Geologi 20 Mei 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 20 MEI 2017 (06:00 WIB)

 

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu, 20 Mei 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:

 

1. Gunung Api.

G. Sinabung:

Status  Level IV (Awas), secara visual dari kemarin sampai pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi  erupsi letusan sebanyak 6 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 1000-4000 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah baratlaut, tenggara, dan timur. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi diikuti oleh guguran lava yang meluncur sejauh 700-1000 m ke tenggara dan timur dan tidak diikuti awan panas guguran/letusan.

Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Kode ORANGE, terbit Tanggal 20 Mei 2017 Pukul 04:52 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 5960 m dari permukaan laut atau 3500 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah tenggara dan timur.

G. Dukono:

Status Level II (Waspada), erupsi secara menerus terjadi. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 500-700 m dari puncak, condong ke arah barat dan selatan. Letusan terbesar terjadi sebanyak 42 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Kode ORANGE, terbit 20 Mei 2017 pukul 06:40 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke barat.

G. Lokon:

Tingkat aktivitas Gunungapi Lokon sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 25-100 m di atas kawah puncak. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vulkanik. Biasanya peningkatan gempa vulkanik akan segera diikuti letusan abu. Dari kemarin terekam gempa vulkanik:

-Vulkanik Dalam (7 kali)

-Vulkanik Dangkal (16 kali)

-Hembusan (46 kali)

-Amplitudo dominan tremor menerus 1 mm.

Jumlah gempa vulkanik agak menurun dibandingkan Tanggal 14 Mei 2017.

Rekomendasi:

Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (Pusat aktivitas vulkanik)

VONA:

Kode YELLOW, terbit 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA terkait dengan peningkatan aktivitas kegempaan G. Lokon dimana secara visual belum menunjukkan terjadinya erupsi.

Masyarakat/wisatawan/pendaki agar mematuhi Peta Kawasan Rawan (KRB) dari Badan Geologi.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah

Pada bulan Mei 2017, Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Mei 2017 di seluruh wilayah Indonesia menujukan pola distribusi curah hujan masih tetap tinggi seperti bulan April 2017. Gerakan Tanah diperkirakan masih terjadi dari  Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa, mengingat masih tingginya curah hujan, pertumbuhan dan alih fungsi lahan cukup masif diwilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1. Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

2. Kabupaten Pesisir Barat, Lampung

3. Kabupaten  Seluma, Bengkulu

Penyebab:

Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal dan pemotongan jalan yang belum memenuhi kaidah pemotongan yang tepat,  kurang vegetasi pada bagian atas tebing jalan, material pelapukan yang mudah luruh dan jenuh air.

Dampak:

Longsor menutup badan jalan mengakibatkan lalu lintas kendaraan terhambat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.

Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi

Gempa Bumi di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 19 Mei 2017, pukul 18:44:03 WIB. Pusat gempa bumi berada pada koordinat 1.12°LS dan 126.86° BT dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 10 km berjarak 105 km barat laut Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Kondisi Geologi Daerah Terdekat:

Pusat gempa bumi berada di Laut Maluku. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Kuarter, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan sedimen Tersier yang terlapukkan diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.

Dampak Gempa Bumi:

Guncangan gempa bumi tidak dirasakan. Sampai tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat guncangan gempa bumi ini.

Penyebab Gempa Bumi:

Berdasarkan posisi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi ini disebabkan aktivitas Sesar Sorong yang menerus hingga Laut Maluku.

Rekomendasi:

Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan  waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, walaupun pusat gempanya berada di laut namun energi gempa ini tidak cukup kuat untuk menimbulkan tsunami.

 

II. DETAIL

 

1. Gunung Api.

 

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut);

b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon*, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan

c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.

*Gunungapi Sinabung.

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 5 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 1000-4000 m, condong ditiup angin ke arah baratlaut dan timur. Tidak  terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi diikuti guguran lava meluncur sejauh 700-1000 m ke lereng selatan dan tenggara serta tidak diikuti guguran lava dan awan panas letusan/guguran.

Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan  adalah sekitar 0,5 juta m3 atau 521.536 m3. (Ukuran Panjang = 106 m, Lebar = 152.8 m, Tebal = 32,2 m, pengukuran 21 April 2017)

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-700 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 42 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*G. Lokon.

Gunungapi Lokon terletak sebelah barat Kota Tomohon Sulawesi Utara. Gunungapi ini cukup aktif dan sering erupsi bertipe letusan yang kadang-kadang diikuti luncuran awan panas. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual sampai pagi ini gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 25-100 m di atas kawah puncak. Arah angin utara dan barat. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vulkanik yang biasanya segera diikuti oleh letusan abu. Dari kemarin hingga pagi ini pukul 06:00 WITA terekam dan teramati kegempaan:

-Vulkanik Dalam 7 kali

-Vulkanik Dangkal 26 kali

-Hembusan 46 kali

-Amplitudo dominan tremor menerus 1 mm.

Jumlah gempa vulkanik agak menurun dibandingkan Tanggal 14 Mei 2017. Meskipun letusan belum terjadi dan tidak dapat dipastikan, tetapi probabilitas untuk terjadi letusan masih tinggi.

Koordinasi dengan Pemda dan BPBD Tomohon maupun pihak terkait lainnya termasuk stakeholders penerbangan telah dan terus dilakukan untuk meminimalisir risiko bencana.

Rekomendasi:

Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (pusat aktivitas vulkanik)

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG,

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin,

- VAAC Tokyo,

- dll

*VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 20 Mei 2017 pukul 04:52 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 5960 m di atas permukaan laut atau 3500 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah tenggara dan timur.

(2) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 20 Mei 2017 pukul 06:40 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah barat.

(3) G. Lokon, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA dengan kode warna YELLOW terkait peningkatan gempa vulkanik dan setiap saat dapat diikuti letusan abu. Sampai pagi ini belum diikuti letusan. Angin bertiup ke arah utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah

Pada bulan Mei 2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di 1. Kabupaten  Goa, Sulawesi Selatan*, 2. Kabupaten Pesisir Barat, Lampung*, 3. Kabupaten Seluma, Bengkulu *, 4.Minahasa, Sulawesi Utara, 5.  Kabupaten Buleleng, Bali, 6. Kabupaten Gowa, Sulawesi Utara, 7. Asahan, Sumatera Utara, 8. Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, 9. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, 10. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, 11. Kabupaten Merangin , Jambi, 12. Kabupaten Lampung Barat, Lampung.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

Longsor terjadi di jalan poros Tombolopao, tepatnya di Dusun Baraya, Desa Mamampang, Kabupaten Gowa, pada hari Kamis 18 Mei 2017 sekitar pukul 06.00 WITA. Material longsoran menutup badan jalan di Dusun Baraya yang menyebabkan terputusnya akses Gowa-Sinjai.

Sumber:http://beritakotamakassar.fajar.co.id/berita/2017/05/19/longsor-di-tombolopao-putus-akses-gowa-sinjai/

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran. Gerakan tanah ini dikontrol oleh tebing jalan dengan kemiringan curam, serta tanah pelapukan yang tebal dan gembur dan dipicu curah hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang cukup lama.

Rekomendasi:

• Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada terhadap potensi longsoran.

• Dalam membersihkan material gerakan tanah/ tanah longsor harap waspada terhadap potensi longsor susulan. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan

• Pemasangan tembok penahan lereng

• Tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan

• Perbaikan saluran drainase agar aliran air tidak mudah menjenuhi lereng

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dan mejauhi material atau lereng yang longsor.

 

2. Kabupaten Pesisir Barat, Lampung

Terjadi longsor jalan lintas Liwa-Krui-Bengkulu di Tebing Bukit Pal 7 Pekon Labuhan mandi, Kecamatan Waykrui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, pada Kamis 18 Mei 2017 pukul 15.00 WIB. Longsor itu material tanah dan pohon besar yang menutup badan jalan menyebabkan kemacetan lalu lintas. Longsor disebabkan oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Sumber:http://www.jpnn.com/news/longsor-sebabkan-macet-hingga-belasan-kilometer

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran tanah dan jatuhan batu. Gerakan tanah ini dikontrol oleh tebing jalan dengan kemiringan curam, struktur geologi yang intensive dan tanah pelapukan yang tebal dan gembur dan dipicu curah hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang cukup lama.

Rekomendasi:

• Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada terhadap potensi longsoran.

• Dalam membersihkan material gerakan tanah/ tanah longsor harap waspada terhadap potensi longsor susulan. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan

• Pemasangan tembok penahan lereng

• Tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan

• Perbaikan saluran drainase agar aliran air tidak mudah menjenuhi lereng

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Daerah ini sering terjadi longsoran sehingga perlu dipasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dan mejauhi material atau lereng yang longsor.

 

3. Kabupaten  Seluma, Bengkulu

Longsor terjadi di jalan lintas barat (Jalinbar) Kabupaten Seluma, Bengkulu-Lampung, tepatnya di Desa Air Teras, Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu, pada tanggal 19 Mei 2017 pukul 03.00 WIB. Menyebabkan tertutupnya menutupi setengah badan jalan. Longsor terjadi karena hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang menerjang Kabupaten Seluma.

Sumber:http://www.bengkulunews.co.id/diterjang-longsor-jalinbar-bengkulu-lampung-nyaris-putus

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran tanah. Gerakan tanah ini dikontrol oleh tebing jalan dengan kemiringan curam dan tanah pelapukan yang tebal dan gembur dan dipicu curah hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang cukup lama.

Rekomendasi:

• Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada terhadap potensi longsoran.

• Dalam membersihkan material gerakan tanah/ tanah longsor harap waspada terhadap potensi longsor susulan. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan

• Tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Daerah ini sering terjadi longsoran sehingga perlu dipasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dan mejauhi material atau lereng yang longsor.

 

Salam hormat

Ego Syahrial

 

<kembali>