Laporan Kebencanaan Geologi 17 Juli 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 17 JULI 2017 (06:00 WIB)


I. SUMMARY:

Hari ini, Senin, 17 Juli 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
 
1. Gunung Api

G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini sering tampak berkabut. Saat gunung tampak jelas, teramati hembusan asap kawah berwarna putih tipis setinggi 200 m di atas kawah puncak. Secara visual dan instrumental melalui rekaman seismograf teramati erupsi/letusan sebanyak 4 kali, abu tebal tekanan kuat mencapai ketinggian 500-1000 m di atas puncak, condong ditiup angin berkecepatan sedang ke arah Tenggara dan Timur. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng Selatan, Tenggara, dan Timur. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. 
Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Kode ORANGE, terbit Tanggal 16 Juli 2017 Pukul 22:49 WIB, terkait erupsi yang terjadi. Ketinggian kepulan abu vulkanik tidak teramati karena tertutup kabut, kolom abu letusan ke arah Timur Dan Tenggara.

G. Dieng:
Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Kawah Sileri (1879 m dpl) merupakan salah satu kawah yang paling aktif diantara 20 kawah yang ada di dataran tinggi Gunungapi Dieng. Kawah ini selalu digenangi air dan terletak di lembah serta diapit oleh beberapa puncak. Pasca erupsi freatik pukul 11:54:24 WIB Tanggal 02 Juni 2017 yang mencapai ketinggian 150 m dari permukaan kawah dari kemarin sampai pagi ini kawah tampak jelas melalui rekaman CCTV. Saat ini asap kawah putih tipis sampai tebal mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 70 m di atas permukaan kawah. Angin bertiup ke arah Utara dan Timurlaut. Tinggi bualan lumpur hitam 0,5 m.
Hasil pengukuran terakhir kimia fisika kawah:- Tanggal 11 Juli 2017: Suhu kawah Sileri: 54.7-55.5°C, pH air 6.45, gas di udara: CO2 0.04%vol, SO2 0.1 ppmv.
Hasil monitoring suhu:- Suhu Tanah di sekitar kawah SileriMin: 61.6°C, Max: 61.7°C, Rata2: 61.6°C- Suhu kawah SileriMin: 91.8°C, Max: 92.2°C, Rata2: 92.0°C
Rekomendasi:
- Masyarakat tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang karena adanya ancaman bahaya gas beracun CO2 dan H2S di atas ambang batas yang berbahaya bagi kehidupan.
- Bagi wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata Kawah Sileri disarankan tidak terlalu mendekat dalam jarak 100 m dari tepi kawah untuk  menghindari adanya peningkatan aktivitas vulkanik dan dampak letusan freatik berupa semburan uap dan lumpur panas yang mungkin terjadi setiap saat. Masyarakat dan pengunjung diharapkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.
VONA:
Pasca erupsi freatik, VONA tidak terbit karena kegiatan Kawah Sileri tidak mengeluarkan abu yang dilontarkan ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 400 m dari puncak, dominan condong ke arah Selatan. Letusan terbesar terjadi sebanyak 26 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 0.5-24 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode ORANGE, terbit 16 Juli 2017 pukul 06:24 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual cerah hingga mendung. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 300-600 m dari puncak, condong ke arah Timur. Letusan yang terekam sebanyak 98 kali.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir Kode ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.

G. Sangeangapi
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Sangeangapi (1949 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 15 Juli 2017 pukul 11:54 WITA. Kolom abu erupsi berwarna kelabu, tekanan sedang mencapai ketinggian 200 m dari puncak, condong ke arah Barat. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan cuaca cerah. Secara visual teramati asap kawah berwarna kelabu tipis dengan tinggi maksimum mencapai 600 m condong me arah Barat Dan Baratlaut. Dalam 24 jam terakhir, belum terekam lagi letusan eksplosif seperti pada 15 juli lalu.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat di sekitar G. Sangeangapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari pusat aktivitas G. Sangeangapi.(2) Masyarakat di sekitar G. Sangeangapi dan pengunjung/wisatawan agar mewaspadai bahaya aliran piroklastik serta tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di daerah di antara Lembah Sori Wala dan Sori Mantau hingga mencapai pantai, serta pada  Lembah Sori Boro dan Sori Oi.
(3) Masyarakat, petani, pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas pada semua lembah sungai yang berhulu dari pusat aktivitas/puncak G. Sangeangapi untuk menghindari potensi ancaman bahaya aliran lahar yang mungkin terjadi pada saat hujan
VONA:
Terakhir Kode ORANGE, terbit 16 Juli 2017 pukul 17:18 WITA terkait dengan emisi gas dan kepulan abu vulkanik setinggi 250 m di atas permukaan laut atau 250 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juli  2017 relatif meningkat dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juni 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari sumatera sampai Papua berpotensi terjadinya gerakan tanah, namun wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara . Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat , pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, 
2. Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, 

Penyebab:
Gerakan tanah diperkirakan  akibat  kemiringan lereng yang terjal, penataan air permukaan yang kurang baik, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak :
1. Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Palasa Kabupaten Parigi Moutong, mengakibatkan longsor di desa Lambori jalur Ogomojolo – pangas sehingga jalan Trans Sulawesi Palu – Manado putus.
2. Longsor di daerah Dusun Gunong Kurak Desa Mentigi Kecamatan Membalong. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa Bumi di selatan Namrole Buru Selatan , Maluku.
Informasi Gempa Bumi;
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu,  16 Juli 2017, pukul 10:35:38 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat  3,87 LS dan 126,76 BT dengan magnitudo 4,4 SR pada kedalaman 18 km berjarak 5 km selatan Namrole  Pulau Buru, Maluku.
Kondisi Geologi Daerah Terdekat;
Gempabumi berada di laut (selatan Pulau Buru). Daerah di sekitar pusat gempabumi yaitu Pulau Buru tersusun oleh batuan malihan berumur Pra Tersier yang relatif solid dan padat, namun endapan aluvium di sepanjang pantai  yang bersifat urai, lepas, dan belum kompak akan memperkuat efek getaran, sehingga rawan terhadap goncangan gempabumi.
Dampak Gempa Bumi;
Belum ada laporan mengenai kerusakan atau pun korban jiwa.
Penyebab Gempa Bumi;
Diperkirakan berasosiasi dengan sesar di lokasi tersebut. 
Rekomendasi;
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.
• Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1 termasuk *Dieng. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak sering berkabut. Saat jelas, teramati kepulan asap kawah puncak berwarna Putih tipis setinggi 200 m di atas puncak. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 4 kali, kepulan abu tebal tekanan sedang-kuat mencapai ketinggian 500-1000 m dari puncak condong ditiup angin ke arah Tenggara dan Timur. Teramati guguran lava meluncur sej,auh 500-1000 m ke lereng Selatan, Tenggara, dan Timur. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran terakhir 26 Juni 2017 volume kubah lava yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 1,68 juta m3. Sampai sekarang kubah lava masih tumbuh secara perlahan dan volumenya menjadi sekitar 2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dieng.
Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaitu Kawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.
Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai menurun. Saat ini teramati asap putih tipis mengepul mencapai ketinggian 7,0 m. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Timurlaut. Bualan lumpur hitam mencapai ketinggian 0,5 m.
- Tanggal 11 Juli 2017: Suhu kawah Sileri: 54.7-55.5°C, pH air 6.45, gas di udara: CO2 0.04%vol, SO2 0.1 ppmv.
Hasil monitoring suhu:- Suhu Tanah di sekitar kawah SileriMin: 61.3°C, Max: 61.4°C, Rata2: 61.3°C- Suhu kawah SileriMin: 92.6°C, Max: 92.8°C, Rata2: 92.7°C
Sedangkan hasil ukur parameter kimia fisika Pada Tanggal 05 Juli 2017 di tepi Kawah Timbang adalah Suhu maksimum 57,4°C dan CO2 maksimum 0,26%vol masih di bawah ambang batas.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan kawah-kawah di Dieng secara intensif dan melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, dan POLRI) di tiga kabupaten (Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang) maupun melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat setempat untuk meredakan kepanikan pasca erupsi freatik.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah-berkabut. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 400 m dari puncak, condong ke arah Selatan. Letusan terbesar terekam sebanyak 26 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0.5-24 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi cerah hingga mendung/hujan. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 300-600 m dari puncak, condong ke Timur.  Letusan terekam tanggal:-14 Juli 2017 terjadi sebanyak 71 kali-15 Juli 2017 terjadi sebanyak 69 kali

* Gunungapi Sangeangapi.
Gunungapi Sangeangapi (1949 m dpl) di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya bertipe efusif (aliran) maupun eksplosif (lontaran). Letusan terbesar terakhir kali terjadi pada 30 Mei 2014 dimana ketinggian kolom abu mencapai ketinggian 12-14 km di atas permukaandi laut. Pasca letusan tersebut, aktivitas Sangeangapi belum sepenuhnya normal atau belum kembali ke kondisi kesetimbangannya. Oleh karena itu, status Level II (Waspada) dipertahankan. Setelah itu, aktivitas efusif berupa aliran lava terus terjadi dan dalam satu tahun terakhir indikasi aliran lava secara periodik dapat diamati melaui citra satelit Modis (NASA). 
Pada tanggal 15 Juli 2017 pukul 11:54 WITA G. Sangeangapi mengalami letusan eksplosif minor. Kolom abu kepulan asap kawah berwarna kelabu, tekanan sedang mencapai ketinggian 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Barat.
Hasil pengamatan dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan cuaca cerah. Secara visual teramati asap kawah berwarna kelabu tipis dengan tinggi maksimum mencapai 500 m condong ke arah Barat. Pengamatan seismik merekam 72 kali Gempa Tremor Harmonik, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam dan 1 kali Gempa Tektonik Lokal.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 16 Juli 2017 Pukul 22:36 WIB. Kolom abu letusan tidak teramati karena tertutup kabut.
(2) G. Dieng,Pasca erupsi freatik VONA tidak terbit karena kegiatan Kawah Sileri tidak menghasilkan semburan abu ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 16 Juli 2017 pukul 06:24 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Barat.
(4) G. Ibu, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
(5) G. Sangeangapi,VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 16 Juli 2017 pukul 17:18 WITA terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2199 m di atas permukaan laut atau 250 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan Juli  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Namun  di Wilayah Timur Indonesia seperti Papua, Maluku dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat dan selatan;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian barat, utara, dan selatan; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :
1. Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah*,  
2. Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung*,    
3. Kabupaten Aceh jaya Provinsi Aceh,  
4.  Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah,  
5. Kabupaten Bangli, provinsi Bali,  
6. Kabupaten Berau, Kalimantan Tengah,  
7. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah,
8. Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh,
9. Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur,
10. Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh ,
11. Kabupaten Nias, Provinsi Sumatra Utara,  
12. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,  
13. Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat2

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah
Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Palasa Kabupaten Parigi Moutong, mengakibatkan longsor di desa Lambori jalur Ogomojolo – pangas sehingga jalan Trans Sulawesi Palu – Manado putus, Sabtu (15/7).Camat Palasa H Nurizal MS saat dikonfirmasi via telepon mengatakan, musibah longsor terjadi sekira pukul 05.00 wita, setelah hujan deras yang mengguyur kecamatan Palasa semalaman yaitu sejak pukul 03.00 dinihari. Akibatnya, jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan  Palu – Manado lumpuh untuk sementara.Kata Camat, terjadi antrean puluhan kendaraan bermotor dari berbagai jenis terjebak macet. Pemerintah kecamatan dan dibantu masyarakat setempat, maupun pihak kepolisian  serta Babinsa berusaha menghilangkan material longsor seperti batu, ranting pohon dan lumpur.Nurizal menyebutkan, setelah melakukan koordinasi dengan dinas PU, sejumlah alat berat didatangkan ke lokasi kejadian dan membersihkan material longsor. Ada empat alat berat yang didatangkan seperti, dua loder, dan dua ekscavator.Lokasi yang terkena longsor merupakan daerah yang biasa dilewati air, karena tidak adanya drainase dan hujan sangat lebat sehingga terjadi longsor. Musibah longsor hingga menutup badan jalan merupakan yang pertama terjadi di Kecamatan Palasa.
Sumber : 
http://radarsultengonline.com/2017/07/16/longsor-trans-sulawesi-palu-manado-putus/  
Jenis gerakan tanah diperkirakan longsoran. Faktor pengontrol gerakan tanah adalah drainase yang kurang baik serta, pemotongan lereng dan kemiringan lereng terlalu terjal serta dipicu hujan deras.
Rekomendasi :
• Memperbaiki sistem drainase lereng, agar air tidak menjenuhi lereng
• Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas serta pengguna jalan di sekitar lokasi bencana harus selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat maupun setelah terjadinya hujan deras dengan durasi yang lama,
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan,
• Pemasangan rambu-rambu rawan longsor pada daerah yang rawan longsor/runtuhan batu, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalan ini terutama pada saat musim hujan,
• Membuat penahan lereng
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor 
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat

2. Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung
Tak hanya air menggenangi rumah warga di sejumlah titik di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Beredar kabar di facebook, telah  terjadi longsor di daerah Dusun Gunong Kurak Desa Mentigi Kecamatan Membalong. 
Sumber:
http://belitung.tribunnews.com/2017/07/16/gunong-kurak-mentigi-longsor-akses-jalan-tertutup 
Jenis gerakan tanah diperkirakan longsoran. Gerakan tanah ini dipicu hujan deras yang berlangsung lama dan dikontrol oleh kelerengan yang terjal.
Rekomendasi :
• Memperbaiki sistem drainase lereng, agar air tidak menjenuhi lereng
• Masyarakat hendaknya mewaspadai potensi longsoran susulan mengingat hujan masih terjadi
• Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas serta pengguna jalan di sekitar lokasi bencana harus selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat maupun setelah terjadinya hujan deras dengan durasi yang lama,
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan dengan mewaspadai potensi longsoran susulan
• Pemasangan rambu-rambu rawan longsor pada daerah yang rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalan ini terutama pada saat musim hujan,
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor 
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.



Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi



<Berita Terkini>