Laporan Kebencanaan Geologi 03 Agustus 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Kamis, 03 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak jelas hingga berkabut. Saat gunung tampak jelas, teramati hembusan asap putih tebal mencapai ketinggian 200 m di atas kawah puncak. Secara visual dan instrumental melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 11 kali, abu tebal tekanan kuat mencapai hingga ketinggian 4000 m di atas puncak, condong ditiup angin berkecepatan sedang-kuat ke arah Tenggara dan Timur. Terdengar sekali suara dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejaih 700-2000 m ke arah selatan,  tenggara, dan timur dan disertai sebanyak 18 kali awan panas guguran yang meluncur sejauh 2500-4500 m ke lereng Tenggara dan Timur. 
Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Sejak kemarin dikeluarkan sebanyak 18 kali VONA. RED 2 kali dan ORANGE 16 kali. VONA Terakhir kode warna RED, terbit Tanggal 02 Agustus 2017 Pukul 20:25 WIB, terkait dengan erupsi disertai awan panas guguran sejauh 4000 m ke arah tenggara dan timur.

G. Dieng:
Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Kawah Sileri (1879 m dpl) merupakan salah satu kawah yang paling aktif diantara 20 kawah yang ada di dataran tinggi Gunungapi Dieng. Kawah ini selalu digenangi air dan terletak di lembah serta diapit oleh beberapa puncak. Pasca erupsi freatik pukul 11:54:24 WIB Tanggal 02 Juni 2017 yang mencapai ketinggian 150 m dari permukaan kawah. Dari kemarin sampai pagi ini kawah tampak jelas melalui rekaman CCTV. Asap kawah putih tipis sampai tebal mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 10-40 m di atas permukaan kawah. Angin bertiup berubah-ubah arah ke utara. 
Hasil pengukuran terakhir kimia fisika kawah:
- Tanggal 11 Juli 2017: Suhu kawah Sileri: 54.7-55.5°C, pH air 6.45, gas di udara: CO2 0.04%vol, SO2 0.1 ppmv.
Hasil monitoring suhu:
- Suhu Tanah di sekitar kawah SileriMin: 63.9°C, Max: 64.9°C, Rata2: 64.2°C
- Suhu kawah SileriMin: 92.0°C, Max: 92.2°C, Rata2: 92.1°C
Rekomendasi:
- Masyarakat tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang karena adanya ancaman bahaya gas beracun CO2 dan H2S di atas ambang batas yang berbahaya bagi kehidupan.
- Bagi wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata Kawah Sileri disarankan tidak terlalu mendekat dalam jarak 100 m dari tepi kawah untuk  menghindari adanya peningkatan aktivitas vulkanik dan dampak letusan freatik berupa semburan uap dan lumpur panas yang mungkin terjadi setiap saat. Masyarakat dan pengunjung diharapkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.
VONA:
Pasca erupsi freatik, VONA tidak terbit karena kegiatan Kawah Sileri tidak mengeluarkan abu yang dilontarkan ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-600 m dari puncak, dominan condong ke arah Timur. Letusan terbesar terjadi sebanyak 327 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah dan dentuman sebanyak 6 kali di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 1-28 mm (dominan 8 mm).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode warna ORANGE, terbit 31 Juli 2017 pukul 18:37. WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Selama Tanggal 31 Juli 2017 secara visual Ibu tampak cerah. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 300-600 m dari puncak, condong ke arah Selatan dan Timur. Kegempaan:- letusan 69 kali, - hembusan 28 kali- guguran 23 kali .
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.

G. Sangeangapi
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Sangeangapi (1949 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 15 Juli 2017 pukul 11:54 WITA. Kolom abu erupsi berwarna kelabu, tekanan sedang mencapai ketinggian 400 m dari puncak, condong ke arah Barat.
Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak sering berkabut. Secara visual  teramati asap dari kawah ketinggian 25 m dari puncak. Kegempaan dalam 24 jam terakhir:- gempa letusan nihil- tremor harmonik 57 kali.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat di sekitar G. Sangeangapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari pusat aktivitas G. Sangeangapi.
(2) Masyarakat di sekitar G. Sangeangapi dan pengunjung/wisatawan agar mewaspadai bahaya aliran piroklastik serta tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di daerah di antara Lembah Sori Wala dan Sori Mantau hingga mencapai pantai, serta pada  Lembah Sori Boro dan Sori Oi.
(3) Masyarakat, petani, pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas pada semua lembah sungai yang berhulu dari pusat aktivitas/puncak G. Sangeangapi untuk menghindari potensi ancaman bahaya aliran lahar yang mungkin terjadi pada saat hujan
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juli 2017 pukul 16:08 WITA terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2649 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Baratlaut.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017, namun secara keseluruhan di Indonsia terjadi penurunan potensi gerakan tanah terutama di Wilaya Indonesia Bagian Barat seperti wilayah Sumatera , Jawa dan Kalimantan. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah, namun wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara . Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa walaupun wilayah ini juga mengalami penurunan potensi gerakan tanah cukup drastis sepanjang bulan Januari - Juli 2017 mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1.  Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara
Penyebab:Jenis Gerakan tanah yang diperkirakan berupa Longsoran batu  ini kemungkinan disebabkan oleh curah hujan tinggi yang turun sebelumnya, lereng jalur jalan terjal.
Dampak :
1. Gerakan tanah / Tanah Longsor  mengakibatkan  lalu lintas terhambat dan jatuhan batu hampir menimpah pengendara motor.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi*, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1 termasuk *Dieng. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Saat jelas teramati kepulan asap putih tebal mencapai ketinggian 200m di atas kawah puncak. Secara visual dan melalui rekaman seismograf  teramati erupsi letusan sebanyak 11 kali, kepulan abu sedang sampai tebal dengan tekanan sedang sampai kuat mencapai ketinggian 4000 m dari puncak condong ditiup angin ke arah Tenggara danTimur. Teramati  guguran lava meluncur sejauh 700-2000 m ke lereng Selatan, Tenggara dan Timur. Erupsi juga disertai awan panas guguran sebanyak 18 kali meluncur ke tenggara dan timur sejauh 2500-4500 m. Terdengar suara gemuruh/dentuman satu kalu di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran terakhir 19 Juli 2017 volume kubah lava yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 2,3 juta m3. 
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dieng.
Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaitu Kawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.
Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai menurun. Saat ini dari kemarin sampai pagi ini teramati asap putih tipis mengepul mencapai ketinggian 10-40 m. Angin bertiup lemah ke utara. 
Hasil pengukuran kimia fisika terakhir Tanggal 11 Juli 2017 Kawah Sileri konsentrasi gas, pH dan suhu: -Suhu  54.7-55.5°C,- pH air 6.45, - gas CO2 0.04%vol,- gas SO2 0.1 ppmv.
Hasil monitoring menerus suhu :- Suhu Tanah di sekitar kawah SileriMin: 63.9°C, Max: 64.5°C, Rata2: 64.3°C- Suhu air Kawah SileriMin: 92.0°C, Max: 92.2°C, Rata2: 92.1°C
Sedangkan hasil ukur parameter kimia fisika Pada Tanggal 05 Juli 2017 di tepi Kawah Timbang adalah Suhu maksimum 57,4°C dan CO2 maksimum 0,26%vol masih di bawah ambang batas.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan kawah-kawah di Dieng secara intensif dan melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, dan POLRI) di tiga kabupaten (Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang) maupun melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat setempat untuk meredakan kepanikan pasca erupsi freatik.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah-berkabut. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-600 m dari puncak, condong ke arah timur. Letusan terbesar terekam sebanyak 327 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 1-28 mm (dominan 8 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Selam Tanggal 31 Juli 2017 secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 200-600 m dari puncak, condong ke Timur.  Kegempaan:- Letusan 69 kali- Hembusan 28 kali- Guguran 23 kali
* Gunungapi Sangeangapi.
Gunungapi Sangeangapi (1949 m dpl) di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya bertipe efusif (aliran) maupun eksplosif (lontaran). Letusan terbesar terakhir kali terjadi pada 30 Mei 2014 dimana ketinggian kolom abu mencapai ketinggian 12-14 km di atas permukaandi laut. Pasca letusan tersebut, aktivitas Sangeangapi belum sepenuhnya normal atau belum kembali ke kondisi kesetimbangannya. Oleh karena itu, status Level II (Waspada) dipertahankan. Setelah itu, aktivitas efusif berupa aliran lava terus terjadi dan dalam satu tahun terakhir indikasi aliran lava secara periodik dapat diamati melaui citra satelit Modis (NASA). 
Pada tanggal 15 Juli 2017 pukul 11:54 WITA G. Sangeangapi mengalami letusan eksplosif minor. Kolom abu kepulan asap kawah berwarna kelabu, tekanan sedang mencapai ketinggian 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Barat.
Hasil pengamatan dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak sering berkabut dan secara visual teramati kepulan asap mencapai ketinggian 25 m dari puncak. Pengamatan seismik merekam 57 kali Gempa Tremor Harmonik dan Gempa Tektonik Lokal nihil.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak)/BPBD.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terkirim sebanyak 18 kali, RED 2 kali  dan ORANGE 16 kali. VONA terakhir terkirim dengan kode warna RED, terbit Tanggal 02 Agustus 2017 Pukul 20:25 WIB, terkait dengan erupsi disertai awan panas guguran meluncur 4000 m ke arah Tenggara dan Timur.
(2) G. Dieng,Pasca erupsi freatik VONA tidak terbit karena kegiatan Kawah Sileri tidak menghasilkan semburan abu ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 31 Juli 2017 pukul 18:37 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur.
(4) G. Ibu, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
(5) G. Sangeangapi, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juli 2017 pukul 16:08 WITA terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2649 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Baratlaut.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Kejadian Gerakan Tanah seluruh  Indonesia bagian barat umumnya mengalami penurunan selama periode Januari - Juli 2017. Sedangkan pada bulan Agustus  2017, Potensi terjadinya gerakan tanah diperkirakan potensi relatif sama dengan periode bulan Juni - Juli 2017 dan  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Di wilayah Sumatera pada bulan Agustus 2017 sedikit mengalami peningkatan di wilayah Aceh dan Sumatera Barat bagian Barat. Untuk  wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku bagian Utara dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara*,  
2. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,  
3. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur,  
4. Kota Malang, Provinsi Jawa Timur,
5. Kabupaten Mimika , Provinsi Papua,  
6. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,  
7. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat  

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1.  Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara
Longsor yang terjadi terus menerus di Desa Kotabunan Selatan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur sejak beberapa hari terakhir hampir saja menelan korban jiwa.Kejadiannya bermula ketika seorang pengendara yang melewati ruas jalan tersebut bernama Kader Mamonto dengan menggunakan kendaraan roda dua, Rabu (2-8-2017) Siang tadi hampir dihantam bongkahan batu sebesar truk yang tiba tiba menggelinding dari atas bukit ditepi jalan.Tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut hanya menyebabkan antrian kendaraan.
Sumber:
https://www.kompas.tv/content/article/10191/video/sapa-indonesia/longsor-batu-ancam-keselamatan-warga
http://www.suarapembaharu.com/2017/08/waspada-material-longsor-kembali-nyaris.html
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dipicu oleh intensitas curah hujan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Jatuhan Batu.
Rekomendasi :
1. Segera membersihkan material longsoran 
2. Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
3. Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
4. Pembuatan dinding penahan lereng, mengatur drainase dan melandaikan lereng
5. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah
6. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

PVMBG Badan Geologi, KESDM

<Berita Terkini>