Gunung Api Di Indonesia Dan Minyak-gas Bumi Hubungan Unik, Potensi, Dan Tantangan

Konsep eksplorasi baru untuk mengatasi ancaman habisnya produksi migas di Indonesia diperkirakan terjadi pada tahun 2022. Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan temuan cadangan minyak dan gas bumi maka dicari alternatif keterdapatan sumber daya alam.  Itulah topik seminar yang disampaikan oleh Awang Harun Satyana pada Geoseminar Pusat Survei Geologi Jumat (21/07/17) di Auditorium Museum Geologi Bandung.

gunungapidiindonesiadanminyakgasbumi
Ir. Awang Harun Satya. Foto: Donny Hermana
Awang Harun Satyana yang merupakan Kepala Spesialis di lingkungan SKK Migas menyampaikan topik mengenai Gunung api di Indonesia dan Minyak-Gas Bumi. Hubungan Unik, Potensi, dan Tantangan. Presentasi yang disampaikan Awang pagi itu diminati oleh kalangan akademisi maupun praktisi di bidang geologi dan perminyakan. Hal ini dinilai wajar karena Awang yang banyak terlibat dalam pengambilan kebijakan tentang eksplorasi migas di Indonesia ini sangat produktif menghasilkan paper yang sering diacu para peneliti kebumian baik dalam maupun luar negeri.
 

Asumsi potensi migas di jalur vulkanik muncul dikarenakan adanya beberapa rembesan minyak di sekitar kompleks gunung api di Indonesia. Bahkan sumur minyak pertama Indonesia jaman Belanda dilakukan pada oil seep di komplek Gunung Ciremai, walaupun hasilnya tidak produktif. Ditemukan pula beberapa oil seep di sekitar jalur vulkanik seperti di Blok Banten, Majalengka, Banyumas, dan Serayu Utara (North Serayu). Namun pencarian migas di oil seep sekitar jalur vulkanik di Indonesia tidak terlalu difokuskan saat itu karena blok-blok migas konvensional bisa  berproduksi dengan lebih ekonomis, selain juga karena sumur di kompleks gunung api jarang berhasil menemukan migas.

gunungapidiindonesiadanminyakgasbumi1
Suasana Geoseminar. Foto: Donny Hermana
 
Untuk mengetahui pola keterdapatan migas di lingkungan gunung api, maka telah dilakukan penelitian keterdapatan migas dan perkiraan asal batuan induknya menggunakan metode geokimia. Setelah dilakukan pemetaan oil seep di beberapa wilayah, ditemukan pola bahwa rembesan ini ditemukan pada lingkungan gunung api berumur Miosen. Sedangkan keterdapatan source rock dari oil seep berada pada formasi yang berumur lebih tua yaitu pada batuan sedimen berumur Eosen.
 
Contoh pola ini bisa dilihat pada daerah Jawa Tengah dimana terdapat oil seep di Formasi Halang. Data geokimia menunjukkan oil seep ini mempunyai kesamaan biomarker dengan batuan induk dari Formasi Ngimbang yang terletak di bawahnya dengan umur Eosen. Adapun Formasi Halang ini di sebagian wilayah memang tertutupi oleh gunung api yang berumur Miosen pula. Hal yang sama juga terjadi di Sulawesi Barat dan Selatan dimana ditemukan oil seep di formasi berumur Miosen yang tertutup gunung api Miosen juga. Biomarker oil seep yang ada juga mempunyai kesamaan dengan formasi batuan induk berumur Eosen.

gunungapidiindonesiadanminyakgasbumi2
Banyak mahasiswa hadir ke Geoseminar. Foto: Donny Hermana
 
Dengan ditemukannya pola yang sama, seharusnya bisa dijadikan kunci konsep baru pencarian cebakan migas di lingkungan gunung api di Indonesia. Adapun kendala yang ada yaitu metode seismik yang biasa digunakan saat ini belum bisa merekam kondisi di bawah gunung api dengan jelas. Hal ini dikarenakan sifat fisik lapisan batuan gunung api susah ditembus oleh sinyal seismik. Namun dengan keyakinan bahwa seharusnya ada cebakan migas yang belum discovery di bawah gunung api yang ada di Indonesia, maka hal ini bisa menjadi tantangan untuk menemukan metode geologi dan geofisika baru untuk melihat bawah permukaan. Tentu untuk mewujudkannya dibutuhkan kerjasama yang baik antara pihak pembuat kebijakan, peneliti, dan para profesional dalam rangka mendukung penemuan cadangan migas baru di Indonesia.


   
-----------------------------
GEOSEMINAR
PUSAT SURVEI GEOLOGI
Sumber: Siti Muti’ah
-----------------------------


<Berita Terkini>