Laporan Kebencanaan Geologi 01 September 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Jumat,  1 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati asap putih tipis mencapai ketinggian 700 m dari puncak, condong ke arah Timur-Tenggara. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 4 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 500-1500 m di atas puncak, condong ke Timur Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 500-1500 m ke arah Tenggara-Timur. 
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 31 Agustus 2017 Pukul 13:04 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500  di atas puncak, condong ke arah Selatan-Tenggara.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-300 m condong ke Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 109 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 31 Agustus 2017 pukul 07:31 WIT. Tinggi kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi putih kelabu mencapai 300-400 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,2. Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur
Penyebab:Penyebab gerakan tanah diperkirakan  karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah, serta kegiatan penambangan yang tidak mengindahkan keselamatan pekerjaan.

Dampak :1. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di   di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak dan kerugian sekitar 10 juta rupiah.2. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi pada lokasi tambang batupasir di Kabupaten Sumenep mengakibatkan 1 (satu) orang tewas tertimpa material longsoran.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa Bumi di Selat Mentawai.
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 1 September 2017, pukul 00:06 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,66° BT dan 1,30° LS, sebesar Magnitudo 6,2 pada kedalaman 10 km, berjarak 80 km timur laut Kepulauan Mentawai. Berdasarkan GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman,  pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,76° BT dan 1,16° LS, dengan magnitudo 6,3 pada kedalaman 46 km. The United States Geological Survey (USGS), Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,685° BT dan 1,152° LS, dengan magnitudo 6,3 pada kedalaman 45,1 km. 

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di perairan Selat Mantawai, diantara Kepulauan Mentawai dan Pulau Sumatra. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu Kepulauan Mentawai khususnya Pulau Siberut dan pesisir barat Sumatra Barat. Wilayah kepulauan Mentawai disusun oleh batuan bancuh berumur Pra-Tersier dan batuan sedimen berumur Tersier, sedangkan wilayah barat Sumatera Barat disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan Kuarter serta batuan Vulkanik Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi:Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalaman yang berada di lempeng samudra Indo-Australia, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Berdasarkan data mekanisme fokal dari USGS, gempa bumi ini mempunyai mekanisme sesar naik.
Dampak gempa bumi:Berdasarkan informasi dari pos pengamatan gunungapi (PPGA), gempa bumi dirasakan di PPGA Tandikat di Tanah Datar dengan intensitas IV MMI (Modified Mercalli Intensity), dan di PPGA Talang di Solok dengan intensitas III MMI. Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Kepulauan Mentawai, Padang, Pariaman dan Painan dengan intensitas V MMI, di Bukit Tinggi dan Padang Panjang dengan intensitas IV MMI, di Solok, Tanah Datar, Bengkulu Utara dan Muko-muko dengan intensitas II-III MMI, serta di Kepahiang dengan intensitas I-II MMI. Gempa bumi ini tidak memicu tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Kepulan asap putih tipis teramati mencapai ketinggian 700 m condong ke arah Timur-Tenggara. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 4 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom mencapai 1500 m di atas puncak, condong ke Timur, Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 1500 m ke arah Tenggara-Timur. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan pada Tanggal 25 Agustus 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,5 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-300 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 109 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-26 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati tinggi kolom erupsi abu mencapai 200-500 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan  :- Letusan 62 kali- Hembusan 16 kali- Guguran  11 kali
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 31 Agustus 2017 Pukul 13:04 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau 1000 m di atas puncak,  condong ke arah Selatan-Tenggara.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 31 Agustus 2017 pukul 07:31 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah  Baratlaut.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Wilayah  Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:  
1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*,  
2. Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur*,  
3. Kabupaten Aceh Tengah,  Provinsi Aceh,  
4. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur,  
5. Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara,  
6. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 
1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat 
Gerakan tanah terjadi di Kp. Parigi RT 25/04, Desa Palasari Hilir, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat pada hari Selasa, 29 Agustus 2017 sekitar pukul 19.45 WIB. Gerakan tanah mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak dan kerugian sekitar 10 juta rupiah.
Sumber berita : http://sukabumiekspres.com/rumah-jompo-ambruk-tertimbun-tanah-longsor/
Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada tebing setinggi tujuh meter yang materialnya menimpa bangunan yang ada di bawahnya. Penyebab gerakan tanah diantaranya karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama;
• Warga yang terdampak gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
• Tidak mendirikan bangunan yang terlalu dekat dengan tebing yang terjal
• Segera membersihkan material longsoran. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Menanam tanaman berakar kuat dan dalam untuk menahan lereng;
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

2. Kabupaten Sumenep, Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi pada lokasi tambang batupasir di Dusun Candi, Desa Palasa, Kecamatan Palango, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur pada selasa malam, 29 Agustus 2017. Gerakan tanah mengakibatkan 1 (satu) orang tewas tertimpa material longsoran.
Sumber berita: https://kumparan.com/mediamadura/galian-pasir-di-sumenep-longsor-penambang-tewas-tertimbun
Gerakan tanah diperkirakan berupa runtuhan batu. Penyebab gerakan tanah diperkiran akibat kemiringan lereng yang terjal.
Rekomendasi:
• Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan,
• Tidak melakukan aktivitas pada atau dibawah tebing yang terjal,
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.


Bandung, 01 September 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>