Asap Terus Mengepul Dari Dieng Untuk Listrik Jawa Dan Bali

asapterusmengepuldaridienguntuklistrikjawadanbali
Asap mengepul di Bumi Dieng
   
Kepulan asap putih mengalun, keluar dari perut bumi dialirkan lewat pipa. Asap putih yang terus mengalun dan pipa-pipa besar itu menjadi pemandangan yang khas di dataran tinggi yang kini semakin digandrungi menjadi tempat wisata unggulan. Energi listrik yang dihasilkan pembangkit ini rata-rata sebesar 45 MW disambungkan secara inter conection untuk menambah kebutuhan listrik di Pulau Jawa, Madura, dan Bali. Itulah Dieng sebuah dataran tinggi di Jawa tengah menyuguhkan berbagai potensi termasuk kepulan asapnya yang dijadikan sumber energi panas bumi.
 
Dataran tinggi di tengah Pulau Jawa ini sejak zaman Belanda dikenal sebagai penghasil sulfur. Sejak dieksplorasi tahun 1921 dan 1923 ditemukan cadangan 36 ribu ton material lumpur dimana 41% di antaranya mengandung sulfur. Menurut hasil penelitian ahli Sovyet dan Indonesia, terbukti sulfur ini sebesar 52.763 ton. Dalam perkembangannya, Dieng yang kini dikelola oleh PT. Geo Dipa Energi, ternyata menyimpan cadangan energi listrik yang sangat besar sehingga berpeluang bisa berswasembada energi. Selain panas bumi, Dieng juga memiliki potensi wisata bumi (geowisata). Meskipun masih terdapat masalah yang dihadapi, namun potensi panas bumi Dieng berikut geowisatanya sangat potensial.
   
Pemanfaatan Eksplorasi sulfur itu mendahului eksplorasi panas bumi, sebagaimana yang terlihat dari pipa panjang dan uaran asap itu. Eksplorasi panas bumi di Dataran Tinggi Dieng dimulai oleh pemerintah Belanda pada 1928. Saat itu, dilakukan pemboran beberapa lubang sedalam 80 meter, tetapi tidak dilanjutkan. Antara 1964-1965 UNESCO menetapkan Dieng sebagai salah satu prospek panas bumi di Indonesia yang sangat bagus. Hal ini ditindaklanjuti oleh USGS, pada tahun 1970 USGS melakukan survei geofisika dan tahun 1973 melakukan pengeboran 6 sumur dangkal.
 
Pada 1994, California Energy International (CEI) menandatangani kontrak pembangunan pembangkit (4,150 MW), dan No.1 (60 MW) selesai dibangun pada 1998. Meskipun 45 sumur pemboran mengkonfirmasi adanya potensi panas bumi sebesar 350 MW, pembangunan pembangkit No.2, 3, dan 4 ditunda karena adanya dampak krisis moneter di Asia. Sejak Agustus 2001, pengelolaan panas bumi di Dataran Tinggi Dieng diupayakan oleh anak negeri, yaitu PT. Geo Dipa Energi (Dipa = Dieng Patuha). Perusahaan joint venture antara PLN dan Pertamina ini memperoleh kepemilikan untuk mengusahakan panas bumi di Dataran Tinggi Dieng.
asapterusmengepuldaridienguntuklistrikjawadanbali1
Power Plant PT. GEO DIPA di Dieng
 
Perusahaan Geo Dipa memiliki dua lokasi Kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Pertama, PLTP Dieng Unit 1 yang berada di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kedua, PLTP Dieng Unit 2 yang terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo dengan total areal 107.351 hektare. Energi listrik sebesar 45 MW yang setara dengan kebutuhan steam 400.000 kg/jam yang dipasok oleh delapan sumur produksi dari kemampuan maksimum produksi steam sebesar 1.277 ton/jam atau setara dengan 103,11 MW. Geo Dipa  kini memiliki 47 sumur bor, yaitu 27 sumur berada di sebelah Selatan Kawah Sikidang, dan 20 di sebelah utara terletak dekat Kawah Sileri. Dari jumlah itu, baru delapan sumur yang berfungsi sebagai sumur produksi, dan dua sumur berfungsi  sebagai sumur injeksi. Sumur lainnya masih terkendala dengan adanya endapan silika.
asapterusmengepuldaridienguntuklistrikjawadanbali2
Endapan silika memadati pipa aliran uap panas bumi.
   
Kendala utama yang harus dihadapi oleh pengelola panas bumi di Dataran Tinggi Dieng adalah kandungan silika yang tinggi. Air dari kolam yang akan dikirim ke sumur injeksi memiliki kandungan silika yang tinggi sehingga bisa memadatkan pipa. Unsur tersebut dianggap menghambat kinerja pembangkit listrik di Dieng. Menurut Calibugan, dkk. (2006), unsur silika yang terdiri dari batuan kuarsa dan kristobalit, menjadi masalah serius dalam pengoperasian pembangkit listrik bertenaga panas bumi di Dieng. Untuk menanganinya, harus mempelajari interaksi antara fluida dengan bebatuan reservoir. Dari situ, dapat ditentukan apakah silika itu terjadi karena proses interaksi di bawah permukan lapangan panas bumi atau proses lainnya. Untuk menjawabnya, Calibugan dan kawan-kawan mendeduksinya dari analisis mineralogi alterasi panas bumi Dieng. Berdasarkan temuan pada sumur pemboran Dieng No. 4, Calibugan, dkk mengindikasikan bahwa alterasi panas bumi di lapangan panas bumi Dieng dicirikan dengan adanya kalsit, adularia, pirit, epidot, silika, lempung, sulfat (gipsum, anhidrit), dan zeolit.
 
Berdasarkan pengumpulan mineral alterasinya, disimpulkan bahwa fluida alterasinya bisa jadi pH-nya netral. Adapun menurut kajian Tohoku Electric Power Co., Inc (2006), untuk mengoptimalkan fungsi pembangkit karena adanya unsur silika yang menghambat kerja turbin, maka pembangkit listrik bertenaga panas bumi Dieng harus dilakukan injeksi bahan-bahan kimia ke dalam sumur. Dalam hal ini, Tohoku Electric Power Co menginjeksikan air bersih untuk mencegah kehadiran unsur silika dalam pembangkit. Dengan demikian, turbine washing equipment bisa membersihkan unsur silika yang ada dalam pipa
 
Potensi Sumber Daya Geologi seperti mineral di Dataran Tinggi Dieng belum dimanfaatkan secara optimal, baru terbatas pada pemanfaatan panas buminya saja. Dalam hal ini, ditemukan bahwa pemercontohan yang dilakukan oleh Geo Dipa pada brine dan limbah padatan brine berupa slurry, diketahui brine mengandung mineral besi terlarut (Fe), mangan terlarut (Mn), seng, merkuri, timbal, arsen, sianida, dan slurry mengandung mineral di antaranya arsen, barium, boron, cadmium, kromium, tembaga, timbal, air raksa, selenium, perak, seng dan silika (PT GDE, 2004). Penelitian yang pernah dilakukan, bahwa air kawah yang mengandung sulfat dengan menambahkan batu kapur (CaCO3) dapat menghasilkan gipsum sintetis.
 
Potensi panas bumi Dieng sangat layak untuk terus dikembangkan sebagai salah satu sumber penghasil listrik di Indonesia, mengingat begitu besar potensi yang dikandung dataran tinggi itu. Namun, tentu saja untuk mendapatkan benefit terlebih dahulu mengatasi masalah dasar yang bisa menghambat produksi listriknya, terutama masalah kandungan silika. Dan hal yang penting juga adalah bagaimana membangkitkan kesadaran dan menerbitkan kesepahaman semua pihak yang berkepentingan terhadap sumber daya listrik. Dengan potensi uap yang sangat besar di dataran tinggi ini dapat menjadi andalan energi terbarukan di tengah-tengahnya krisis energi menuju masa depan. Tugas bersama para pakar di bidang panas bumi untuk melakukan penelitian lebih intens sehingga bisa memberi keberkahn kepada masyarakat.
Penulis: Priatna

<Berita Terkini>