Laporan Kebencanaan Geologi 31 Oktober 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 31 Oktober 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah teramati setinggi 100-800 m. Angin ke arah Timur, tenggara dan selatan. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 1 kali erupsi/letusan dengan ketinggian 2000 m diatas puncak. Teramati 2 kali Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 3000 m ke arah selatan - tenggara dan 59 kali guguran lava sejauh 500-1500 m ke arah Timur, Tenggara dan Selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Oktober 2017 Pukul 14:45 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3260 m di atas permukaan laut atau 900 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Selatan.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 50-300 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.Melalui rekaman seismograf 30 Oktober 2017 tercatat:- 2 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 49 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 42 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali gempa Tektonik Lokal (TL)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap dominan uap air putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 400-500 m.. Melalui rekaman seismograf, tidak tercatat gempa letusan, sedangkan getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-14 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Oktober 2017 pukul 17:34 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-600 m di atas puncak berwarna putih putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang . Angin bertiup ke arah Utara dan Selatan. Melalui rekaman seismograf pada 30 Oktober 2017 tercatat:
-89 kali gempa Erupsi/letusan-76 kali gempa Hembusan-27 kali gempa Tremor harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 5- 25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 30 Oktober 2017 tercatat:
-90 kali Hembusan-1 kali Tornilo-3 kali Vulkanik Dangkal -11 kali Vulkanik Dalam - 2 kali Tektonik Lokal- 1 kali Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1.Kabupaten Temanggung, Provinsi  Jawa Tengah
2. Kabupaten  Banyumas, Provinsi  Jawa Tengah
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh, tata guna lahan dan saluran drainase yang tidak baik.
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengakibatkan sebuah talud puskesmas ambrol dan menimpa 4 ruang gedung sekolah.
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor  di Kabupaten  Banyumas, Jawa Tengah mengakibatkan salah satu jalan utama terputus karena amblas terbawa longsor, 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah teramati setinggi 100-800 m. Angin ke arah Timur, tenggara dan selatan. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 1 kali erupsi/letusan dengan ketinggian 2000 m diatas puncak. Teramati 2 kali Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 3000 m ke arah selatan - tenggara dan 59 kali guguran lava sejauh 500-1500 m ke arah Timur, Tenggara dan Selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan berkabut. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 200-250 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 30 Oktober 2017 tercatat:
- 2 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 49 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 42 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali gempa Tektonik Lokal (TL)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 400-500 m.. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-16 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 30 Oktober 2017 tercatat:
-89 kali gempa Erupsi/letusan-76 kali gempa Hembusan-27 kali gempa Tremor harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf pada 30 Oktober 2017 tercatat:
-90 kali Hembusan-1 kali Tornilo-3 kali Vulkanik Dangkal -11 kali Vulkanik Dalam - 2 kali Tektonik Lokal- 1 kali Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Oktober 2017 Pukul 14:45 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3260 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Selatan.
* (2) G. Agung, Bali.*VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 10:43 WITA, terkait asap dominan uap air putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Oktober 2017 pukul 17:34 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan September    2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor    diperkirakan akan mengalami peningkatan  hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Temanggung, Provinsi  Jawa Tengah*, 
2. Kabupaten  Banyumas, Provinsi  Jawa Tengah*,
3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat,
4. Kabupaten  Karangasem, Provinsi Bali, 
5. Kabupaten  Indramayu, Provinsi  Jawa Barat, 
6. Kabupaten  Purworejo,  Provinsi Jawa Tengah, 
7. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 
8. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
9. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 
10. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, 
11. Kota  Depok, Provinsi  Jawa Barat,
12. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,
13. Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,
14. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, 
15. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, 
16. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 
17. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Temanggung, Provinsi  Jawa Tengah.
Hujan deras yang mengguyur kawasan Temanggung, Jawa Tengah mengakibatkan sebuah talud puskesmas ambrol dan menimpa gedung sekolah. Talud Puskesmas Kaloran dengan panjang 25 meter dan tinggi 6 meter tersebut ambrol . Talud yang ambrol tersebut menimpa gedung bertingkat SMP PGRI Kaloran yang tepat berada di bawahnya. 2 ruang kelas mengalami kerusakan yang cukup parah, dinding ruang hingga ambrol akibat tertimpa material talud. Sementara 2 ruang yang berada di lantai 2 juga mengalami retakan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian longsor ini, namun diperkirakan kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Sementara kegiatan belajar mengajar sementara diliburkan. 
(Sumber berita: http://solotrust.com/read/1437/Talud-Ambrol-Timpa-4-Ruang-Sekolah--)
Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh, tata guna lahan dan saluran drainase yang tidak baik.
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
• Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
• Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

2. Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah.
Curah hujan tinggi di wilayah Banyumas, Jawa Tengah akhir-akhir ini berdampak pada longsor di grumbul (kawasan) Pungkuran, Desa Tunjung, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Akibatnya salah satu jalan utama di grumbul tersebut terputus karena amblas terbawa longsor, pagi tadi sekira pukul 06.00 WIB. Lahan yang mengalami longsor sepanjang 8 meter dengan tinggi 7 meter. Penyebabnya diperkirakan karena hujan deras yang turun sejak Minggu 29 Oktober sore hingga berganti hari. Tidak ada korban jiwa ataupun luka dalam kejadian tersebut. Sampai saat berita ini ditulis, BPBD dibantu Babinsa Ramil 21 Jatilawang dan warga melakukan pembersihan sisa tanah di sekitar longsoran dan membuat saluran air.
(Sumber berita: https://news.okezone.com/read/2017/10/30/512/1804914/hujan-semalaman-jalan-desa-di-banyumas-longsor-dan-instalasi-air-putus)
Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh juga kemiringan lereng yang cukup curam.
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
• Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.




Bandung; 31 Oktober 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>