Laporan Kebencanaan Geologi 01 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Rabu 1 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah teramati setinggi 100-800 m. Angin ke arah Timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 1 kali erupsi/letusan dengan ketinggian 2000 m diatas puncak. Teramati 37 kali guguran lava sejauh 1000-2000 m ke arah Timur dan Tenggara.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Oktober 2017 Pukul 09:32 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 50-150 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.Melalui rekaman seismograf 31 Oktober 2017 tercatat:- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 54 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 50 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali gempa Tektonik Lokal (TL)- 4 kali gempa Tektonik Jauh (TJ)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 300-400 m. Melalui rekaman seismograf, tercatat 1 kali gempa letusan dengan ketinggian 400 m, sedangkan getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-20 mm (dominan 3 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Oktober 2017 pukul 17:34 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 200-500 m di atas puncak berwarna putih putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang . Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 31 Oktober 2017 tercatat:
-77 kali gempa Erupsi/letusan-34 kali gempa Hembusan-20 kali gempa Guguuran-19 kali gempa Tremor harmonik-2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 31 Oktober 2017 tercatat:
-112 kali Hembusan-5 kali Vulkanik Dalam - 3 kali Tektonik Lokal- 5 kali Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1.Kabupaten Bandung,  Provinsi Jawa Barat
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga akibat oleh curah hujan tinggi yang turun sebelumnya; tanah lapukan yang tebal dan mudah menyerap air; lereng yang terjal dan drainase yang kurang memadai.
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, mengakibatkan 4 orang meninggal dunia dan 2 rumah rusak tertimbun material longsoran Tindak Lanjut  :  Tim Tanggap Darurat  Badan Geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi segera melakukan kaji cepat untuk memberikan rekomendasi Mitigasi Gerakan Tanah dalam upaya penanggulangan bencana .
Rekomendasi
• Material longsoran segera dibersihkan dan warga sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman
• Dibuat saluran drainase yang permanen dan dibuat tembok penahan di sekitar lokasi bencana dengan fondasi mencapai tanah/batuan yang keras
• Lereng bila memungkinkan dilandaikan dan ditanami pohon dengan akar yang kuat dan dalam
• Perlu kewaspadaan masyarakat di sekitar lokasi bencana dan perlu sosialisasi tentang mitigasi bencana tanah longsor.
• Tim Tanggap Darurat akan diberangkatakan  untuk melakukan kaji cepat dan  memberikan rekomendasi mitigasi gerakan tanah.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
 
Gempa bumi 31 Oktober 2017
Gempa bumi di Tenggara Bima, NTB
Informasi Gempabumi
1.) Pukul 05:37:19 WIB  magnitudo 5,4 SR pada kedalaman 130 km, berjarak 52 km km tenggara Bima, Nusa Tenggara Barat.2) Pukul 12:03:45 WIB, magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 104 km, berjarak 54 km km tenggara Bima, Nusa Tenggara Barat. Diperkirakan merupakan gempabumi susulan.
Penyebab gempabumi,
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas pada zona penunjaman (subduksi) lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi,
Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan diakibatkan gempa bumi ini.
Rangkaian Kejadian Gempa Bumi di barat daya Ambon, Maluku    Informasi Gempa Bumi,1.Pukul 18:31:41 WIB, magnituda 5,7 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 50 km barat daya Ambon, Maluku. 
2.Pukul 18:34:42 WIB, magnituda 5,6 SR pada kedalaman 40 km, berjarak 47 km barat daya Ambon, Maluku. 
3.Pukul 18:50:50 WIB, magnituda 6,2 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 38 km barat daya Ambon, Maluku. 
4.Pukul 18:59:43 WIB, magnituda 5.2 SR pada kedalaman 17 km, berjarak 45 km barat daya Ambon, Maluku. 
5.Pukul 19:37:48 WIB, magnituda 5.6 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 37 km barat daya Ambon, Maluku. 
Penyebab Gempabumi,
Diperkirakan berasal dari sistem sesar aktif di lepas pantai Laut Seram. Wilayah ini merupakan wilayah kompressif yang dapat membentuk sesar naik.
Dampak Gempabumi,
Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.  Dilaporkan adanya kerusakan bangunan di Ambon. 
Rekomendasi,
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan



II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah teramati setinggi 100-800 m. Angin ke arah Timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 1 kali erupsi/letusan dengan ketinggian 2000 m diatas puncak. Teramati 37 kali guguran lava sejauh 1000-2000 m ke arah Timur dan Tenggara.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan berkabut. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 50-150 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 31 Oktober 2017 tercatat:
- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 54 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 50 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali gempa Tektonik Lokal (TL)- 4 kali gempa Tektonik Jauh (TJ)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 300-400 m, serta 1 kali letusan dengan ketinggian 400 m. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-20 mm (dominan 3 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 200-500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 31 Oktober 2017 tercatat:
-77 kali gempa Erupsi/letusan-34 kali gempa Hembusan-20 kali gempa Guguran-19 kali gempa Tremor harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf pada 31 Oktober 2017 tercatat:
-112 kali Hembusan-5 kali Vulkanik Dalam - 3 kali Tektonik Lokal- 5 kali Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Oktober 2017 Pukul 09:32 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.
* (2) G. Agung, Bali.*VONA Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Oktober 2017 pukul 17:34 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.



Bandung; 01 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>