Laporan Kebencanaan Geologi 02 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 02 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini secara visual lebih sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah teramati 100-1000 m. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 1 kali erupsi/letusan. Tinggi kolom abu tebal tekanan sedang 1000 m diatas puncak. Teramati 37 kali guguran lava secara visual jarak luncuran dan arah tidak teramati karena lereng berkabut.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Oktober 2017 Pukul 09:48 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-200 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.Melalui rekaman seismograf Tanggal 01 November 2017 tercatat:- 5 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 57 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 32 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 4 kali gempa Tektonik Lokal (TL)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 300-500 m. Melalui rekaman seismograf, tercatat 1 kali gempa letusan dengan ketinggian 400 m, sedangkan getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 8 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 10 November 2017 pukul 06:40 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-500 m di atas puncak berwarna putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang . Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2017 tercatat:
-77 kali gempa Erupsi/letusan-37 kali gempa Hembusan-21 kali gempa Guguran Lava-26 kali gempa Tremor harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 25-50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2017 tercatat:-94 kali Hembusan-2 kali Vulkanik Dangkal-3 kali Vulkanik Dalam - 1 kali Tektonik Lokal
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan
2. Kabupaten  Sintang, Provinsi Kalimantan Barat
3. Kabupaten  Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga akibat oleh curah hujan tinggi yang turun sebelumnya; tanah lapukan yang tebal dan mudah menyerap air; lereng yang terjal dan drainase yang kurang memadai dan erosi lateral sungai.
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di lokasi pendulangan intan tradisional Ujung Murung, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan menyebabkan 1 orang meninggal.
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mengakibatkan akses jalan terputus antara Desa Teluk Harapan menuju Desa Baras Nabun. 
3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah mengakibatkan  sebanyak 6 KK terancam, lahan perkebunan rusak, saluran drainase dan jalan desa terpotong retakan. 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA, yaitu G. Agung, Bali  c. Sebanyak 18 gunung api Status/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah teramati setinggi 100-1000 m. Angin ke arah Timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 1 kali erupsi/letusan, tinggi kolom abu tebal tekanan sedang 1000 m diatas puncak. Teramati 63 kali guguran lava, jarak dan arah luncuran tidak teramati karena lereng kabut.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan berkabut. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih agak tebal mencapai ketinggian 100-200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2017 tercatat:
- 5 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 57 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 32 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 4 kali gempa Tektonik Lokal (TL)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah sampai tebal setinggi 300-500 m, serta 1 kali letusan dengan ketinggian 400 m. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-24 mm (dominan 8 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2017 tercatat:-71 kali gempa letusan-37 kali gempa hembusan-21 kali gempa guguran-26 kali gempa tremor harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering kabut. Tinggi asap putih tipis 25-50 m dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2017 tercatat:
-94 kali Hembusan-2 kali Vulkanik Dangkal-3 kali Vulkanik Dalam - 1 kali Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Oktober 2017 Pukul 09:48 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.
(2) G. Agung, Bali.VONA Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 01 November 2017 pukul 06:40 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017, pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan*, 
2. Kabupaten  Sintang, Provinsi Kalimantan Barat*, 
3. Kabupaten  Cilacap, Provinsi Jawa Tengah*, 
4. Kabupaten Bandung,  Provinsi Jawa Barat,
5. Kabupaten Temanggung, Provinsi  Jawa Tengah, 
6. Kabupaten  Banyumas, Provinsi  Jawa Tengah,
7. Kabupaten Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat,
8. Kabupaten  Karangasem, Provinsi Bali, 
9. Kabupaten  Indramayu, Provinsi  Jawa Barat, 
10. Kabupaten  Purworejo,  Provinsi Jawa Tengah, 
11. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 
12. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
13. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan
Bencana gerakan tanah terjadi di lokasi pendulangan intan tradisional Ujung Murung, Kelurahan Sungai Tiung, Kec. Cempaka, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada hari Selasa, 31 Oktober 2017 sore.   Longsoran tanah galian pada tebing galian dengan tinggi 10 meter menyebabkan 1 orang meninggal.
(Sumber berita: http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/11/01/tragis-niat-cari-intan-pria-ini-malah-tertimbun-di-kedalaman-10-meter-ini-nasibnya)
Gerakan tanah jenis longsoran tanah pada tebing galian dan penyebab gerakan tanah diperkirakan kondisi tebing galian yang labil karena kegiatan pendulangan intan tradisional dan  curah hujan yang tinggi,. 
Rekomendasi:
- Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di lokasi gerakan tanah agar lebih waspada terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
- Menghindari kegiatan pendulangan di bawah tebing yang curam.- Lubang galian agar dibuat bertingkat atau diperlandai.
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
- Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.

2. Kabupaten  Sintang, Provinsi Kalimantan Barat
Bencana gerakan tanah terjadi di Dusun Tanah Mirah, Desa Teluk Harapan, Kec. Serawai, Kab. Sintang, Kalimantan Barat pada hari Selasa, 31 Oktober 2017. Gerakan tanah berjenis longsoran tanah pada tepian Sungai Serawai yang  mengakibatkan akses jalan terputus antara Desa Teluk Harapan menuju Desa Baras Nabun. 
(Sumber berita: http://pontianak.tribunnews.com/2017/10/31/longsor-hantam-desa-teluk-harapan-putuskan-akses-jalan-antar-desa)
Penyebab gerakan tanah diduga karena erosi arus sungai Serawai, tebing yang curam, serta material lereng yang mudah tererosi.
Rekomendasi:
- Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
- Memasang tembok penahan erosi atau bronjong di sepanjang tepian sungai agar material lereng tidak mudah tererosi.
- Memelihara pepohonan berakar kuat dan dalam di daerah tepian sungai untuk menjaga material lereng dari erosi dan limpasan air hujan.
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
- Agar masyarakat mengikuti arahan pemerintah setempat dan instansi yang berwenang.

3. Kabupaten  Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
Bencana gerakan tanah terjadi di RT 05 RW 02 Dusun Cilubang, Desa Panulisan Timur, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada hari Senin, 30 Oktober 2017 pukul 07.00 WIB. Gerakan tanah berupa rayapan yang ditandai retakan pada area seluas 1,5 ha dengan penurunan pada mahkota sedalam 30-50 cm, lebar 10 cm. Kemiringan lereng sekitar 40 derajat sedangkan penurunan pada jalan desa sedalam 20 cm, panjang 40 m dan bergeser sekitar 40 cm. Akibatnya, sebanyak 6 KK terancam, lahan perkebunan rusak, saluran drainase dan jalan desa terpotong retakan. 
(Sumber berita: http://satelitpost.com/regional/tanah-gerak-di-dayeuhluhur-6-rumah-warga-terancam)
Gerakan tanah berupa rayapan  dan penyebab gerakan tanah diduga akibat hujan deras selama sejak jumat-sabtu, kemiringan lereng yang terjal, dan adanya retakan awal pada hari Sabtu yang tidak segera diantisipasi.
Rekomendasi :
- Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
- Masyarakat yang terancam agar tetap waspada terhadap longsor susulan dan segera mengungsi jika retakan terus berkembang.
- Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan serta memperbaiki saluran drainase yang rusak agar air tidak masuk melalui retakan yang dikhawatirkan akan memicu terjadinya longsor susulan.
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
- Agar masyarakat mengikuti arahan pemerintah setempat dan instansi yang berwenang.



Bandung; 02 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>