Laporan Kebencanaan Geologi 03 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 03 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini secara visual lebih sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah tidak teramati. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 6 kali erupsi/letusan. Tinggi kolom abu tebal tekanan sedang 1000-1300 m di atas puncak. Teramati 54 kali guguran lava jarak luncur 500-2000 ke arah tenggara dan timur. Erupsi diikuti awan panas guguran sejauh 3000 m ke lereng tenggara dan timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 November 2017 Pukul 08:08 WIB, terkait letusan selama 215 detik. Tinggi kolom  abu tidak teramati karena kabut.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih agak tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 50-200 m di atas puncak condong ke barat. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.Melalui rekaman seismograf Tanggal 02 November 2017 tercatat:- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 42 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 33 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil gempa Tektonik Lokal (TL)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 200-500 m. Melalui rekaman seismograf, tercatat 3 kali gempa letusan dengan ketinggian 200-500 m, sedangkan getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-10 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 02 November 2017 pukul 08:14 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-600 m di atas puncak berwarna putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang . Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2017 tercatat:-94 kali gempa Erupsi/letusan-70 kali gempa Hembusan-Nihil kali gempa Guguran Lava-36 kali gempa Tremor harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2017 tercatat:-75 kali Hembusan-1 kali Vulkanik Dangkal-5 kali Vulkanik Dalam -Nihil Tektonik Lokal
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat.   
2. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. 
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga akibat oleh curah hujan tinggi yang turun sebelumnya; tanah lapukan yang tebal dan mudah menyerap air dan tanah timbunan yang belum padu; lereng yang terjal, rumah dibangun di bawah tebing , drainase yang kurang memadai serta erosi lateral sungai.
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat menyebabkan 1 rumah rusak dan kerugian sebesar 30 juta rupiah.
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah mengakibatkan badan jalan rusak sepanjang 30 meter. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di baratlaut Poso, Sulawesi Tengah
Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat,  3 November  2017, pukul 00:02:17 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,26°LS dan 120.40° BT dengan magnitudo 5.2 SR pada kedalaman 10 km berjarak 42 km baratlaut Poso, Sulawesi Tengah. Informasi dari USGS, pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,255°LS dan 120.574° BT dengan magnitudo 5.1 M pada kedalaman 10 km.
Penyebab:
Gempa bumi ini berasosiasi oleh aktivitas sesar aktif di darat daerah Poso.
Dampak gempa bumi;
Belum ada laporan kerusakan. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.
Rekomendasi
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA, yaitu G. Agung, Bali  c. Sebanyak 18 gunung api Status/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah tidak teramati. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat 6 kali erupsi/letusan, tinggi kolom abu tebal tekanan sedang 1000-1300 m diatas puncak. Teramati 54 kali guguran lava, jarak sejauh 500-2000 m ke arah tenggara dan timur. Erupsi disertai awan panas guguran sejauh 3000 m ke tenggara dan timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan berkabut. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih agak tebal mencapai ketinggian 50-200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2017 tercatat:
- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 42 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 33 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil gempa Tektonik Lokal (TL)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah sampai tebal setinggi 300-500 m, serta 3 kali letusan dengan ketinggian 200-500 m. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-10 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2017 tercatat:-94 kali gempa letusan-70 kali gempa hembusan-Nihil gempa guguran-36 kali gempa tremor harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering kabut. Tinggi asap putih tipis 100 m dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2017 tercatat:
-75 kali Hembusan-1 kali Vulkanik Dangkal-5 kali Vulkanik Dalam -Nihil Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 November 2017 Pukul 08:08 WIB, terkait letusan selama 215 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.
(2) G. Agung, Bali.VONA Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 02 November 2017 pukul 08:14 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat*,   
2. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah*, 
3. Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, 
4. Kabupaten  Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, 
5. Kabupaten  Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 
6. Kabupaten Bandung,  Provinsi Jawa Barat,
7. Kabupaten Temanggung, Provinsi  Jawa Tengah, 
8. Kabupaten  Banyumas, Provinsi  Jawa Tengah,
9. Kabupaten Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat,
10. Kabupaten  Karangasem, Provinsi Bali, 
11. Kabupaten  Indramayu, Provinsi  Jawa Barat, 
12. Kabupaten  Purworejo,  Provinsi Jawa Tengah, 
13. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. 

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat
Gerakan tanah terjadi di Jorong Binjai, Nagari Binjai, Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat pada Rabu malam, 1 November 2017 sekitar pukul 20.00 WIB. Gerakan tanah menyebabkan 1 rumah rusak dan kerugian sebesar 30 juta rupiah.
Sumber berita : http://m.covesia.com/berita/43207
Gerakan diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa bangunan yang ada di bawahnya. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran agar selalu waspada terutama saat hujan deras;
• Warga yang terdampak harap mengungsi ke tempat yang lebih aman;
• Tidak mendirikan dan/atau mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan lereng yang terjal;
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

2. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah
Gerakan tanah terjadi di jalan penghubung Desa Kandui menuju Desa Ketapang tepatnya di wilayah Desa Rarawa, Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah pada hari Rabu, 1 Oktober 2017. Dampak gerakan tanah mengakibatkan badan jalan rusak sepanjang 30 meter.
Sumber berita : https://kalteng.antaranews.com/berita/272725/jalan-desa-rarawa-di-barito-utara-longsor#.WfoCzGGePJo.twitter
Penyebab gerakan tanah diantara jalur jalan berada pada tanah timbunan yang belum padu, erosi Sungai Montallat, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.



Bandung; 03 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>