Laporan Kebencanaan Geologi 06 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 06 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah tidak teramati. Angin ke arah Timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi/letusan dengan ketinggian 1300-2300 m dari puncak. Terekam 78 kali gempa guguran lava.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 November 2017 Pukul 23:17 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3760 m di atas permukaan laut atau 1300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 05 Nopember 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 34 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 24 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
Tanggal 06 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 200-500 m. Melalui rekaman seismograf, tercatat 3 kali gempa letusan dengan ketinggian 200-400 m, sedangkan getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-18 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 3 Nopember 2017 pukul 07:42 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-600 m di atas puncak berwarna putih putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang . Angin bertiup ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 4 Nopember 2017 tercatat:
-96 kali gempa Erupsi/letusan-86 kali gempa Hembusan-34 kali gempa Tremor harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 5 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 5 Nopember 2017 tercatat:
-68 kali Hembusan-1 kali Low Frekuensi-Nihil Vulkanik Dangkal -4 kali Vulkanik Dalam -1 kali Tektonik Lokal
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
2. Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga akibat oleh curah hujan tinggi yang turun sebelumnya; tanah lapukan yang tebal dan mudah menyerap dan kondisi batuan yang di tebing  yang rapuh ,  lereng yang terjal, rumah dibangun di bawah tebing .
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur mengakibatkan sebagian ruas jalan Provinsi yang menghubungkan Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Ponorogo tertutup material longsoran.  
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan mengakibatkan  jalur jalan penghubung Desa Tirowali dan Desa Salukanan dan Gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Tirowali terancam
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

LAPORAN PERKEMBANGAN TANGGAP DARURAT GEMPA AMBON
Tim TD PVMBG melakukan pemeriksaan ke arah baratdaya Pulau Ambon, daerah terdekat dari episenter gempa bumi Ambon 31 Oktober 2017.
Hasil pemeriksaan daerah baratdaya Ambon (Kecamatan Leihitu Barat) adalah sebagai berikut:
1. Desa Allang, terdapat rumah-rumah yang mengalami retak retak kecil.
2. Terdapat mesjid yang mengalami retak retak kecil di Negeri Wakasihu.
3. Penduduk di Desa Assilulu, desa terdekat dari episenter gempa bumi Ambon (sekitar 10 km dari episenter) telah mengungsi ke arah perbukitan setempat sejak kejadian gempa bumi 31 Oktober. Secara umum, hanya ditemukan ada satu tanggul sungai yang mengalami rusak sedang, sedangkan rumah - rumah warga hanya mengalami retak retak kecil saja. Setelah tim tiba, kami melakukan sosialisasi di kantor desa, dengan di moderatori oleh sekertaris desa. Sosialisasi yang diikuti dengan tanya jawab meliputi penjelasan secara umum terkait gempa bumi dan tsunami. Kegiatan sosialisasi ini memberikan penjelasan dan ketenangan terhadap warga, mengingat banyaknya berita bohong yang menyebar terkait tsunami dan gempa besar yang akan segera terjadi di Ambon.
4. Kecamatan Leihitu Barat, secara geologi tersusun atas batuan yang solid dan kompak, hal ini menjelaskan mengapa kerusakan di Kecamatan ini, walaupun lebih dekat ke episenter gempa bumi, tidak diperoleh kerusakan bangunan sedang maupun berat.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Tinggi asap kawah tidak teramati. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi/letusan dan tinggi kolom abu letusan 1300-2300 m. Terekam 78 kali gempa guguran lava.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi sering terlihat jelas. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 100-200 m di atas puncak. Angin di puncak bertiup ke arah barat dan timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 05 November 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 34 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 24 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa Tektonik Lokal (TL)
Tanggal 06 November 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik.- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil gempa Tektonik Lokal (TL).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 200-400 m, serta 2 kali letusan dengan ketinggian 400 m. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-10 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 04 November 2017 tercatat:
-96 kali gempa Erupsi/letusan-86 kali gempa Hembusan-34 kali gempa Tremor harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering tampak jelas. Tinggi asap putih tekanan lemah 5 m. Angin bertiup lemah ke timur. Melalui rekaman seismograf pada 05 Nopember 2017 tercatat:
-68 kali Hembusan-1 kali Low Frekuensi-1 kali Vulkanik Dangkal -Nihil Vulkanik Dalam -1 kali Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Nopember 2017 Pukul 23:17 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1300 m. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.
* (2) G. Agung, Bali.*VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 03 Nopember 2017 pukul 07:42 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur*, 
2. Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan*, 
3. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali ,   
4. Kabupaten Tobasa, Provinsi  Sumatra Utara, 
5. Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, 
6. Kabupaten Tobasa, Provinsi Sumatera Utara, 
7. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta,   
8. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat,   
9. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, 
10. Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, 
11. Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, 
12. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 
13. Kabupaten Bandung,  Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.  Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di Jalan Raya Ponorogo – Pacitan, Km 30, Dusun Melikan, Desa Kemuning, Kecamatan Tegal Ombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada hari Sabtu, tanggal 4 November 2017, sekitar pukul 22.30 WIB. Bencana gerakan tanah ini mengakibatkan sebagian ruas jalan Provinsi yang menghubungkan Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Ponorogo tertutup material longsoran.  
Sumber :
https://www.bangsaonline.com/berita/38891/jalur-pacitan-ponorogo-kembali-tertimbun-longsor
https://petajatim.id/jalur-pacitan-ponorogo-ada-ruas-jalan-longsor/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menutup badan jalan yang dibawahnya. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi: 
• Masyarakat pengguna jalan dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
• Segera membersihkan material longsoran karena material tersebut berpotensi menjadi longsor susulan. Kegiatan tersebut jangan dilakukan pada saat dan setelah hujan.
• Pemerintah setempat agar segera menangani kerusakan jalan tersebut agar jalur lalu lintas berfungsi kembali dengan baik dan tidak membahayakan pengguna jalan yang melewati jalur tersebut.
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor pada daerah jalur jalan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

2. Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan
Gerakan tanah terjadi di jalur jalan desa tepatnya di Desa Tirowali, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Jalur jalan penghubung Desa Tirowali dan Desa Salukanan terancam tertimbun dan Gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Tirowali juga terancam. Bencana ini terjadi pada hari Minggu, tanggal 5 November 2017 setelah hujan deras.
Sumber:
http://makassar.tribunnews.com/2017/11/05/gedung-pustu-desa-tirowali-terancam-longsor-bpbd-enrekang-imbau-warga-waspada
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dengan panjang sekitar 3 (tiga) meter pada bahu jalan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Air hujan merembes pada lokasi penampungan air (embung-embung) yang berada di atas longsoran.
Rekomendasi: 
• Setiap warga yang beraktivitas di sekitar jalan tersebut agar lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman longsor susulan, terutama  pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama. 
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor pada daerah jalur jalan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Pemerintah setempat agar segera menangani kerusakan jalan tersebut agar jalur lalu lintas berfungsi kembali dengan baik dan tidak membahayakan pengguna jalan dan tidak mengancam bangunan yang berada di bawah badan jalan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.



Bandung; 06 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>