Laporan Kebencanaan Geologi 07 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 07 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut.  Tinggi asap kawah teramati putih agak tebal tekanan lemah 50-200 m. Angin ke arah Timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 6 kali erupsi/letusan dengan ketinggian 800-1500 m dari puncak. Terekam 70 kali gempa guguran lava meluncur sejauh 700-1000 m ke arah tenggara dan timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 November 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 06 Nopember 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 14 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 17 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
Tanggal 07 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 11 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 200-500 m. Melalui rekaman seismograf, tercatat 1 kali gempa letusan dengan ketinggian 500-800 m, sedangkan getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-12 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 06 Nopember 2017 pukul 08:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-600 m di atas puncak berwarna putih putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang . Angin bertiup ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 05 Nopember 2017 tercatat:- 87 kali gempa Erupsi/letusan- 72 kali gempa Hembusan- 35 kali gempa Tremor harmonik
Tanggal 06 Nopember 2017 tercatat:- 87 kali gempa Erupsi/letusan- 72 kali gempa Hembusan- 31 kali gempa Tremor harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 5 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 6 Nopember 2017 tercatat:
-62 kali Hembusan-1 kali Tornillo-2 kali Vulkanik Dangkal -Nihil Vulkanik Dalam -2 kali Tektonik Lokal
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Ende , Provinsi Nusa Tenggara Timur 
2. Kabupaten  OKU Selatan , Provinsi Sumatera Selatan3. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat4. Kota Gunung Sitoli, Provinsi Sumatera Utara
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga akibat oleh curah hujan tinggi yang turun sebelumnya; tanah lapukan yang tebal dan mudah menyerap dan kondisi batuan yang di tebing  yang rapuh, lereng yang terjal, rumah dibangun di bawah tebing  dan erosi lateral sungai 
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di jalur jalan negara Ende-Maumere mengakibatkan  kendaraan roda empat tidak dapat melalui. 
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. menyebabkan  8 titik longsor yaitu  3 titik di Kecamatan Runjung Agung dan 5 lainnya  berada di Kecamatan Buay Runjung dan dampaknya jalur jalan terganggu arus lalu lintas 
3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Jalan raya Bukittinggi-Batusangkar, persisnya di Kecamatan Baso dilaporkan terputus akibat diterjang longsor.  mengakibatkan akses Bukittinggi-Batusangkar terputus 
4. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di dusun II Desa Lolomoyo Tuhemberua Kecamatan Gunungsitoli Barat Kota Gunungsitoli. mengakibatkan  belakang 4 rumah  terkena longsor  akibat terkikis arus sungai . 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Timurlaut Maluku  Baratdaya Provinsi Maluku
Informasi Gempabumi,
Gempabumi terjadi pada hari Senin 6 November 2017 pukul 16:22:13 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 128.59° BT dan 6.69° LS (277 km timurlaut Maluku  Baratdaya), dengan magnitudo 5,2 SR dengan kedalaman 318 km. 
Penyebab gempa bumi,
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman Australia dan Eurasia (pada zona Benioff)
Dampak gempa bumi,
Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Rekomendasi,
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Tinggi asap kawah teramati putih tipis tekananan lemah 50-200 m. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 6 kali erupsi/letusan dan tinggi kolom abu letusan 800-1500 m. Terekam 70 kali gempa guguran lava meluncur sejauh 700-1000 m ke arah tenggara dan timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi sering terlihat jelas. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin di puncak bertiup ke arah barat dan timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 06 November 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 14 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 17 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil gempa Tektonik Lokal (TL)
Tanggal 07 November 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik.- 11 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil gempa Tektonik Lokal (TL).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Saat gunung jelas teramati kolom abu tebal mengepul menerus berwarna putih kelabu bertekanan lemah-sedang setinggi 500-800 m, disertai letusan terbesar 1 kali  ketinggian kolom abu 800 m. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-12 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah selatan dan utara. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 05 November 2017 tercatat:- 87 kali gempa Erupsi/letusan- 72 kali gempa Hembusan- 36 kali gempa Tremor harmonik.
Tanggal 06 November 2017 tercatat:- 87 kali gempa Erupsi/letusan- 72 kali gempa Hembusan- 31 kali gempa Tremor harmonik.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering tampak jelas. Tinggi asap putih tekanan lemah 5 m. Angin bertiup lemah ke timur. Melalui rekaman seismograf pada 06 Nopember 2017 tercatat:- 62 kali Hembusan- 1 kali Tornillo- 2 kali Vulkanik Dangkal - Nihil Vulkanik Dalam - 2 kali Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Nopember 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 3960 m dari permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 06 Nopember 2017 pukul 08:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Ende , Provinsi Nusa Tenggara Timur*, 
2. Kabupaten  OKU Selatan , Provinsi Sumatera Selatan*
3. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat*, 
4. Kota Gunung Sitoli, Provinsi Sumatera Utara *, 
5. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, 
6. Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, 
7. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali ,   
8. Kabupaten Tobasa, Provinsi  Sumatra Utara, 
9. Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, 
10. Kabupaten Tobasa, Provinsi Sumatera Utara, 
11. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta,   
12. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat,   
13. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, 
14. Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, 
15. Kabupaten  Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, 
16. Kabupaten  Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 
17. Kabupaten Bandung,  Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Ende , Provinsi Nusa Tenggara Timur 
Gerakan Tanah / Tanah longsor melanda  jalur jalan negara Ende  -Maumere. Hujan melanda wilayah Desa Nuamuri, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT selama sepekan terakhir Akibatnya jalan tertutup longsor .  Longsor berupa tanah dan bebatuan hingga menutupi badan jalan. Hingga kini kendaraan roda empat tidak dapat melalui. Longsor terjadi sekitar pukul 15.00 Wita. 
https://voxntt.com/2017/11/06/hujan-sebabkan-longsor-di-nuamuri-ende/
Kejadian gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dari tebing . Penyebab gerakan tanah kemungkinan kemiringan lereng yang terjal dan material batuan lepasyang tidak stabil, serta dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi sehari sebelumnya
Rekomendasi:
• Masyarakat yang beraktifitas di jalan yang terdampak longsor agar selalu waspada terutama saat dan sesudah hujan deras;
• Segera membersihkan material longsoran dari badan jalan dengan tetap meningkatkan kewaspadaan selama melakukan pembersihan;
• Memasang rambu peringatan rawan bencana longsor;
• Masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

2. Kabupaten  OKU Selatan , Provinsi Sumatera Selatan
Gerakan Tanah / Tanah Longsor  terjadi di beberapa titik  lokasi  di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Diduga akibat tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten OKU Selatan beberapa hari belakangan, Tercatat ada 8 titik longsor yaitu  3 titik di Kecamatan Runjung Agung dan 5 lainnya  berada di Kecamatan Buay Runjung.Akibat longsor di beberapa titik, khususnya di Desa Penanggungan, menyebabkan kendaraan yang melewati jalur tersebut terpaksa harus memutar arah, karena tidak bisa melintasi jalan dari arah Kecamatan Runjung Agung ke Kecamatan Kisam Tinggi itu. Hal itu disebabkan oleh timbunan material setinggi 2 meter pada badan jalan di sepanjang 70 meter.Adapun 5 titik longsor lainnya berada dalam wilayah Desa Negeri Agung Kecamatan Buay Runjung dengan tingkat kerusakan yang ringan, dengan timbunan material kurang dari 30 cm diatas jalan dengan panjang hanya sekitar 10 m. Longsor terebut lokasinya berdekatan,  hanya berjarak 50 hingga 100 meter antar titiknya yang mengakibatkan kemacetan kendaraan selama beberapa jam. Longsor yang terjadi dalam waktu yang tidak bersamaan dan longsor yang terbesar terjadi di Desa penangunggan sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, pasca hujan lebat semalam dengan tinggi material mencapai 1.5 meter dan panjang gerusan longsor menimbun jalan 50 meter.
http://detak-palembang.com/longsor-di-penanggungan-sempat-macetkan-jalur-buay-runjung-kisam-tinggi/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada bahu jalan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal dan material batuan dan tanh yang tidak stabil  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi. 
Rekomendasi: 
• Setiap warga yang beraktivitas di sekitar jalan tersebut agar lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman longsor susulan, terutama  pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama. 
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor pada daerah jalur jalan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Pemerintah setempat agar segera menangani kerusakan jalan tersebut agar jalur lalu lintas berfungsi kembali dengan baik dan tidak membahayakan pengguna jalan dan tidak mengancam bangunan yang berada di bawah badan jalan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

3. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
Jalan raya Bukittinggi-Batusangkar, persisnya di Kecamatan Baso dilaporkan terputus akibat diterjang longsor.  Longsor itu terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, Senin 6 November 2017.Kemungkinan akibat hujan lebat yang mengguyur sejak siang tadi. Hingga pukul 22.00 WIB,  akses Bukittinggi-Batusangkar masih terputus dan belum bisa dipastikan kapan jalan tersebut akan normal kembali. Saat ini jalan dialihkan ke Piliang. Akses jalan yang tertimbun material longsoran tebing itu panjangnya mencapai 15 meter dengan ketinggian mencapai 5 meter
http://news.klikpositif.com/baca/22153/longsor-di-koto-tinggi--jalur-bukittinggi-batusangkar-putus-total
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal , dengan batuan dan tanah yang tidak stabil serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat;

4. Kota Gunung Sitoli, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan Tanah / Tanah Longsor di dusun II Desa Lolomoyo Tuhemberua Kecamatan Gunungsitoli Barat Kota Gunungsitoli. Kejadian tersebut pada  terjadi hari Sabtu pagi sekitar pukul 08:00 Wib tanggal (04/11), dan untuk korban jiwa sama sekali tidak ada. Namun  bagian belakang rumah keempat warga perlahan terkikis dengan sendirinya dan di duga kuat empat rumah warga korban bencana longsor ikut terbawa arus  oleh tanah longsor tersebut. 
http://www.suarakpk.com/2017/11/terjadi-bencana-tanah-longsor-di.html
Gerakan diperkirakan berupa longsoran tanah akibat erosi lateral sungai yang menggerus tebing sungai serta serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran agar selalu waspada terutama saat hujan deras;
• Warga yang terdampak harap mengungsi ke tempat yang lebih aman;
• Tidak mendirikan dan/atau mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan lereng yang terja dan tebing sungai;
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.



Bandung; 07 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>