Laporan Kebencanaan Geologi 08 November 2017 (06:00 Wib)


I. SUMMARY:

Hari ini, Rabu 08 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut.  Tinggi asap kawah teramati. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi/letusan dan secara visual tinggi kolom abu tebak tekanan sedang 2000-2500 m dari puncak. Terekam 53 kali gempa guguran lava meluncur sejauh 1000 m ke arah tenggara dan timur. Erupsi disertai awan panas guguran meluncur ke tenggara dan timur sejauh 3000 m.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 November 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200-500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 07 Nopember 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 1 kali Gempa Hembusan- 18 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 16 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
Tanggal 08 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Tremor Non Harmonik- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 1 kali gempa letusan. Tinggi kepulan abu tidak tetamati, sedangkan getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-12 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 06 Nopember 2017 pukul 08:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-600 m di atas puncak berwarna putih putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang . Angin bertiup ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 07 Nopember 2017 tercatat:- 84 kali gempa Erupsi/letusan- 71 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Tremor harmonik.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 5 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 07 Nopember 2017 tercatat:
- 59 kali Hembusan- 1 kali Tornillo- 1 kali Fase Banyak/Hybrid- 1kali Vulkanik Dangkal - 2 kali Vulkanik Dalam - 3 kali Tektonik Lokalm
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten  Agam , Provinsi Sumatera Barat
2. Kabupaten Cilacap , Provinsi Jawa Tengah
3. Kabupaten  Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
4. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
5. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
6. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur
7. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
8. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
9. Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga akibat oleh curah hujan tinggi yang turun sebelumnya; tanah lapukan yang tebal dan mudah menyerap dan kondisi batuan yang di tebing  yang rapuh ,  lereng yang terjal, rumah dibangun di bawah tebing  dan erosi lateral sungai 
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor menerjang sarana jalan penghubung Baso menuju Batusangkar di kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat dan menghambat mobilitas warga.
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Barat,  mengakibatkan kerusakan dua rumah warga.
3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di tebing setinggi lk 10 meter longsor menimpa badan di Jl. Raya Tasikmalaya – Garut di Kp. Citeguh, RT 01/01, Desa Tenjowaringin, Kec. Salawu , Kabupaten Tasikmalaya mengakibatkan macetnya arus lalu lintas.
4. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di jalan Desa Sukamulya,  Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat mengakibatkan kendaraan besar untuk sementara tidak diperbolehkan lewat.
5. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di kabupaten Lebak, Banten mengakibatkan bagian dapur salah satu warga rusak 
6. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur mengakibatkan lalu lintas  lumpuh total.
7. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di jalan penghubung Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung di Desa Nanggerang, Kecamatan Cililin mengakibatkan  aktivitas perekonomian masyarakat yang menggunakan akses jalan tersebut menjadi terhambat. 
8. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di kabupaten Bogor mengakibatkan 1 unit rumah terdampak (1 KK/8 Jiwa). 
9. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kecamatan Klapanunggal,Kabupaten Bogor  mengakibatkan satu orang meninggal dunia. 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

LAPORAN PERKEMBANGAN TANGGAP DARURAT GEMPA AMBON
Hasil pemeriksaan Tim TD PVMBG hingga tanggal 7 November 2017 adalah sebagai berikut:
1. Guncangan gempa bumi Ambon secara umum dirasakan kuat di Kab. Maluku Tengah dan Kota Ambon. Kerusakan secara umum hanya berupa retakan retakan halus pada dinding dan sebagian plafon terlepas. Kerusakan sedang dan berat terjadi di beberapa bangunan di Desa Allang, yang terletak sekitar 15 km dari episenter, berupa 1 gereja rusak berat, 2 gereja dan 1 kantor desa rusak sedang. Sementara itu di Desa Assilulu yang terletak paling dekat dengan episenter gempa, hanya terdapat 1 tanggul rusak sedang. 
2. Gempa susulan terkadang masih dapat dirasakan, namun dengan intensitas dan frekuensi yang sudah semakin menurun.
3. Sosialisasi telah dilakukan terhadap warga berbarengan dengan kegiatan pemeriksaan lokasi terdampak gempa bumi. Koordinasi juga dilakukan kepada BPBD Kota Ambon dan BPBD Provinsi Maluku.
4. Pengukuran mikrotremor juga dilakukan di beberapa lokasi untuk mengetahui kondisi geologi setempat.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Tinggi asap kawah tidak teramati. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi/letusan dan tinggi kolom abu letusan 2000-2500 m. Terekam 53 kali gempa guguran lava meluncur sejauh 1000 m ke arah tenggara dan timur. Erupsi disertai awan panas guguran meluncur ke arah tenggara dan selatan sejauh 3000 m.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi sering terlihat jelas. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin di puncak bertiup ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 07 November 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- 1 kali Hembusan- 18 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 16 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil gempa Tektonik Lokal (TL).
Tanggal 08 November 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Tremor Non Harmonik.- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa Tektonik Lokal (TL).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Dari rekaman seismograf tercatat letusan terbesar 1 kali, ketinggian kolom abu tidak teramati. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-12 mm (dominan 2 mm). Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah selatan dan utara. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 07 November 2017 tercatat:- 84 kali gempa Erupsi/letusan- 71 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Tremor Harmonik.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering tampak jelas. Tinggi asap putih tekanan lemah 5 m. Angin bertiup lemah ke timur. Melalui rekaman seismograf pada 06 Nopember 2017 tercatat:- 59 kali Hembusan- 1 kali Tornillo- 1 kali Fase Banyak/Hybrid- 1 kali Vulkanik Dangkal - 2 kali Vulkanik Dalam - 3 kali Tektonik Lokal.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Nopember 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 3960 m dari permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 06 Nopember 2017 pukul 08:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten  Agam , Provinsi Sumatera Barat*,   
2. Kabupaten Cilacap , Provinsi Jawa Tengah*, 
3. Kabupaten  Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat*, 
4. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*, 
5. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten*, 
6. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur*, 
7. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat*, 
8. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*, 
9. Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat*, 
10. Kabupaten Ende , Provinsi Nusa Tenggara Timur , 
11. Kabupaten  OKU Selatan , Provinsi Sumatera Selatan, 
12. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 
13. Kota Gunung Sitoli, Provinsi Sumatera Utara , 
14. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, 
15. Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, 
16. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali ,   
17. Kabupaten Tobasa, Provinsi  Sumatra Utara, 
18. Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, 
19. Kabupaten Tobasa, Provinsi Sumatera Utara, 
20. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta,   
21. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat,   
22. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten  Agam , Provinsi Sumatera Barat
Gerakan tanah / Tanah Longsor  menerjang sarana jalan penghubung Baso menuju Batusangkar di Jorong Batu Taba, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Baso, Agam, Senin, (6/11/2017) sekitar pukul 19.00 WIB. Akibatnya, akses jalan di jalur tersebut tertutup material tanah longsor dengan dimensi  15  meter  serta  tinggi 5-10 meter  dan menghambat mobilitas warga.
Sumber:http://minangkabaunews.com/artikel-14415-malam-ini-longsor-tutupi-akses-jalan-baso-agam-menuju-batusangkar.html
Penyebab gerakan tanah diperkirakan terjadi ketidakstabian kelerengan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran; 
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah;
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

2. Kabupaten Cilacap , Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras dengan intensitas tinggi menyebabkan longsor di Dusun Cimanggu Wetan RT 2 RW 2 Desa Cimanggu, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Senin (6/11) pukul 15.30 WIB saat hujan deras. Material longsoran menimpa dua rumah warga setempat pada dinding bagian belakang. Rumah yang tertimpa material longsoran milik Maad (55) dan Samsudin (75). Kedua rumah tersebut mengalami rusak ringan. Selain itu, satu orang bernama Oniyah (73) dilarikan ke Puskesmas karena mengalami luka akibat tertimpa material bangunan rumah. Tidak ada korban jiwa namun satu orang terluka tertimpa genteng rumah dan dilarikan ke Puskesmas. Kerugian ditaksir Rp 10 juta
Sumber:http://satelitpost.com/regional/dua-rumah-di-cimanggu-tertimpa-longsor
Penyebab gerakan tanah adalah kelerengan dan pelapukan batuan serta rumah yang terlalu dekat dengan lereng. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat;
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan melakukan pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

3. Kabupaten  Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
Tebing setinggi lk 10 meter longsor menimpa badan jalan senin (07/11) malam, tepatnya di Jl. Raya Tasikmalaya – Garut di Kp. Citeguh, RT 01/01, Desa Tenjowaringin, Kec. Salawu. Dampak akibat longsor ini adalah macetnya arus lalu lintas dengan volume tanah 85 persen menutup badan jalan. Akibatnya lalulintas buka tutup,  Tidak ada korban akibar longsoran ini.
Sumber:https://twitter.com/BPBD_KabTasik
Penyebab gerakan tanah diperkirakan kelerengan dan  dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran aliran bahan rombakan.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi;
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut;
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng atau membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

4. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
Diperkirakan akibat curah hujan yang cukup besar, jalan Desa Sukamulya kecamatan Sukaresmi tergerus longsor. Dengan adanya longsor tersebut kendaraan besar untuk sementara tidak diperbolehkan lewat untuk menghindari longsor yang lebih besar.Kejadian tersebut menyebabkan Tembok Penahan Tanah (TPT) sepanang 20 m dengan ketinggian 30 m tergusur, dan di perkirakan dapat melebar lebih besar lagi. 
Sumber:http://infodesaku.co.id/jalan-desa-sukamulya-longsor/
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dipicu oleh intensitas curah hujan tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris)
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran;
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah;
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan perbaikan penahan lereng yang akan rusak;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

5. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
Hujan yang mengguyur wilayah Banten Selatan mengakibatkan rumah milik Caswadi (43) di Kampung Cikeusik Rt 01/13, Desa Cikatomas, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Banten tertimbun tanah longsor. Kejadian tersebut berlansung pada 6 November 2017 pukul 17.45 WIB, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sepanjang hari. Akibatnya, tebing yang berada dibelakang rumah longsor dan menimpah bagian dapur rumah Caswadi.
Sumber:https://daerah.sindonews.com/read/1255266/174/hujan-deras-seharian-rumah-warga-di-lebak-tertimbun-longsor-1510046004
Penyebab gerakan tanah diperkirakan pelapukan tinggi dan  dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Warga yang terkena longsor segera mengungsi ke tempat yang aman;
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi;
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut;
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng atau membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

6. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, lumpuh total akibat longsor, Senin (6/11) sekitar pukul 16.30 Wita. Longsor terjadi di Watubewa, Desa Nuamuri, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende.Arus kendaraan dari arah Sikka maupun Ende tertahan hingga radius 1 kilometer. Sampai pukul 21.00 Wita, petugas dari aparat pemerintah daerah setempat maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BDPD) terlihat di lokasi kejadian. Longsor terjadi tiba-tiba, padahal wilayah tersebut tidak sedang diguyur hujan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Sumber:http://mediaindonesia.com/news/read/130803/longsor-ruas-jalan-ende-sikka-putus-total/2017-11-06
Penyebab gerakan tanah diperkirakan kelerengan, pelapukan tinggi dan  tingkat kejenuhan tanah/batuan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Evaluasi pembuatan irigasi sesuai syarat kestabilan lereng;
• membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

7. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
Jalan penghubung Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung di Desa Nanggerang, Kecamatan Cililin tergerus longsor, Senin (6/711/2017) sore sekira pukul 17.00 WIB. Sebelum longsor, kawasan Nanggerang diguyur hujan deras yang berlangsung selama 1 jam lebih.  Panjang longsor kurang lebih 30 meter dan lebar 25 meter. Akibat  longsor  tersebut, aktivitas perekonomian masyarakat yang menggunakan akses jalan tersebut menjadi terhambat. 
Sumber:http://www.prfmnews.com/berita.php?detail=jalan-penghubung-dua-kabupaten-di-nanggerang-tergerus-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan kelerengan, pelapukan tinggi dan  tingkat kejenuhan tanah/batuan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran debris.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran;
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah;
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng;
• Meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

8. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Telah Terjadi Bencana Tanah Longsor. Kejadian terjadi pada hari Senin, 06 November 2017 sekitar Pukul 17.30 WIB, dengan lokasi di Kp. Padangeunyang Rt. 03/03, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. 1 unit rumah terdampak (1 KK/8 Jiwa). Longsor terjadi akibat intensitas hujan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan sawah dibagian belakang rumah mengalami longsor dan menutup akses saluran air sehingga menyebabkan air tergenang dan menjebolkan tembok bagian belakang (tembok bagian kamar). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Sumber: https://www.facebook.com/profile.php?id=100016249681622&hc_ref=ARSOAofs2_euRWfd0TPqjIWa4NWZfUNLpJZZURxwHW0Rqo6m4TXLHfxeezntDwKyGaI
Penyebab gerakan tanah diperkirakan pelapukan tinggi dan  tingkat kejenuhan tanah/batuan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat;
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan melakukan pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

9. Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat
Gerakan Tanah / Tanah Longsor menerjang pemukiman di Kampung Bagogog RT 06/06 Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, Bogor, pada Selasa (7/11). Longsor yang terjadi sekitar pukul 12.00 WIB ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Kejadian bermula saat korban sedang mencari pakan ternak di bawah tebing dalam keadaan hujan. Tak lama berselang, korban tertimpa tanah serta bebatuan sehingga mengakibatkan korban tewas.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/17/11/07/oz1s3e409-longsor-terjadi-di-klapanunggal-bogor-satu-orang-tewas 
Penyebab gerakan tanah diperkirakan kelerengan, pelapukan tinggi dan  tingkat kejenuhan tanah/batuan yang tinggi serta curah hujan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris)
Rekomendasi : 
• Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan  dan tidak mendekati tebing rawan longsor saat terjadinya hujan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.




Bandung; 08 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>