Laporan Kebencanaan Geologi 09 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 09 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tidak teramati karena tertutup kabut. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena kabut. Terekam 59 kali gempa guguran lava. Arah dan jangkauan luncuran tidak teramati karena kabut. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 November 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200-300 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 08 Nopember 2017 tercatat:- 1 kali Tremor Non Harmonik-  Nihil Gempa Hembusan- 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 23 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
Tanggal 09 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Hembusan- 10 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (terasa 1 kali).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kepulan abu tebal tekanan sedang 200-400 m dari puncak, angin bertiup lemah ke arah timur. Getaran tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-10 mm (dominan 2 mm). 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 06 Nopember 2017 pukul 08:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-600 m di atas puncak berwarna putih putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang. Angin bertiup ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 08 Nopember 2017 tercatat:- 82 kali gempa Erupsi/letusan- 76 kali gempa Hembusan- 34 kali gempa Tremor harmonik.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 10 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 08 Nopember 2017 tercatat:
- 60 kali Hembusan- Nihil Tornillo- Nihil Fase Banyak/Hybrid- 4 kali Vulkanik Dangkal - 7 kali Vulkanik Dalam - 2 kali Tektonik Lokal.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh
2. Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara
3. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah
4. Kabupaten Simeuleu, Provinsi Aceh
5. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara
6. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga kondisi tanah yang labil, kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. 
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Jalan Bireuen – Takengon, tepatnya di kilometer 33, Provinsi Aceh mengakibatkan  tebing jalan longsor dan lalu lintas terhambat.
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. mengakibatkan kemacetan parah dan 1 unit rumah warga tertimbun. 
3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mengakibatkan 1 unit rumah warga tertimbun dan 2 (dua) orang penghuni rumah mengalami luka berat. 
4. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di i ruas jalan penghubung Kecamatan Teupah Selatan – Kecamatan Simeuleu Timur, Kabupaten Simeuleu , Provinsi Aceh mengakibatkan badan jalan tidak bisa dilewati oleh kendaraan.
5. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di ruas jalan penghubung Sidiakalang – Silalahi, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara mengakibatkan  jalan tidak bisa dilewati kendaraan.
6. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di ruas jalan penghubung Kota Sumedang – Rancakalong, tepatnya di blok Saungtalahab, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengakibatkan  jalan tidak bisa dilewati kendaraan.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi

GEMPA BUMI DI SELAT SUNDA, 9 NOVEMBER 2017
Tanggapan kejadian gempa bumi di Selat Sunda, berdasarkan informasi dari berbagai sumber dan analisis Badan Geologi, sebagai berikut:
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 9 November 2017, pukul 02:17 WIB. Pusat gempa bumi terletak pada koordinat 104,50° BT dan 6,72° LS, dengan kekuatan 5,3 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 150 km barat daya Pesawaran, Lampung (BMKG); 104,56° BT dan 6,63° LS, dengan magnitudo M5,0 pada kedalaman 73 km (GFZ);  dan pada koordinat 104,617° BT dan 6,514° LS, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 39,3 km (USGS)
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di sebelah barat Selat Sunda atau berdekatan dengan wilayah selatan Provinsi Lampung dan wilayah barat Provinsi Banten. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan batuan vulkanik berumur Tersier dan Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut. 
Dampak gempa bumi:
Guncangan gempa bumi dirasakan di Liwa, Lampung dengan intensitas III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity). Gempa bumi ini tidak memicu tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

Gempa bumi di Karangasem, Bali
Informasi Gempa Bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 9 November 2017, pukul 04:54:18 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 115.57° BT dan 8.26° LS, dengan kekuatan 5,0 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 11 km  timurlaut Karangasem, Bali.
Penyebab gempa bumi:
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas patahan aktif di sekitar Bali utara.
Dampak gempa bumi:
Guncangan gempa bumi dirasakan di Pos PGA G. Agung dan G. Batur dengan intensitas III MMI Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi berkabut. Tinggi asap kawah tidak teramati. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dan tinggi kolom abu letusan tidak teramati karena tertutup kabut. Terekam 59 kali gempa guguran lava, arah dan jangkauan luncuran tidak teramati karena kabut. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi sering terlihat jelas. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 200-300 m di atas puncak. Angin di puncak bertiup ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 08 November 2017 tercatat:- 1 kali Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Hembusan- 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 23 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa Tektonik Lokal (TL).
Tanggal 09 November 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik.- Nihil Gempa Hembusan.- 10 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa Tektonik Lokal (TL) (terasa 1 kali)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi sering tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Secara visual kolom abu erupsi tebal keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 200-400 dari puncak. Tidak tercatat adanys letusan terbesar. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-10 mm (dominan 2 mm). Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah selatan dan utara. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 08 November 2017 tercatat:- 82 kali gempa Erupsi/letusan- 76 kali gempa Hembusan- 34 kali gempa Tremor Harmonik.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering tampak jelas. Tinggi asap putih tekanan lemah 10 m. Angin bertiup lemah ke barat. Melalui rekaman seismograf pada 08 Nopember 2017 tercatat:- 60 kali Hembusan- Nihil Tornillo- Nihil Fase Banyak/Hybrid- 4 kali Vulkanik Dangkal - 7 kali Vulkanik Dalam - 2 kali Tektonik Lokal.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Nopember 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 3960 m dari permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 06 Nopember 2017 pukul 08:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh*, 
2. Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara*, 
3. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah*, 
4. Kabupaten Simeuleu, Provinsi Aceh*,
5. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara*, 
6. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat*,   
7. Kabupaten  Agam , Provinsi Sumatera Barat,                 
8. Kabupaten Cilacap , Provinsi Jawa Tengah, 
9. Kabupaten  Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 
10. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
11. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, 
12. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 
13. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 
14. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 
15. Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat, 
16. Kabupaten Ende , Provinsi Nusa Tenggara Timur , 
17. Kabupaten  OKU Selatan , Provinsi Sumatera Selatan, 
18. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 
19. Kota Gunung Sitoli, Provinsi Sumatera Utara , 
20. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, 
21. Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, 
22. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali ,   
23. Kabupaten Tobasa, Provinsi  Sumatra Utara, 
24. Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, 
25. Kabupaten Tobasa, Provinsi Sumatera Utara, 
26. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta.   

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh
Gerakan tanah terjadi di Jalan Bireuen – Takengon, tepatnya di kilometer 33, Kawasan Sukatani, Kecamatan Bireuen, Provinsi Aceh. Dampaknya bagian tebing jalan mengalami longsor sepanjang 10 meter. Gerakan tanah terjadi sudah sebulan yang lalu dan semakin membesar pada hari Selasa 7 November 2017 kemarin.
Sumber : https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/11/08/hatihati-jalan-di-kilometer-33-bireuentakengon-kembali-longsor#sthash.pMQpLFep.dpbs
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

2. Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah terjadi di Desa Sarilaba Jahe, Kecamatan Birubiru, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara. Sedikitnya ada 5 titik longsor, 2 titik diantaranya cukup parah karena dampaknya material longsoran hampir menutup seluruh ruas jalan dan menyebabkan kemacetan parah. Selain itu di lokasi gerkan tanah di Kecamatan Sibolangit ada 1 unit rumah warga yang tertimbun material longsoran. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 7 November 2017 pagi hari.
Sumber : http://news.metro24jam.com/read/2017/11/08/44372/biru-biru-sibolangit-dilanda-longsor-arus-lalin-lumpuh-total
Penyebab gerakan tanah diduga selain kondisi tanah yang labil, drainase yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran dan melakukan pemasangan rambu- rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng untuk menahan pergerakan tanah dan memperkuat kestabilan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Dukuh Tampol RT 01/09 Desa Mendelem, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Dampaknya 1 unit rumah warga tertimbun material longsoran dan 2 (dua) orang penghuni rumah mengalami luka berat. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 7 November 2017.
Sumber : https://harianpemalang.com/2017/11/07/longsor-di-belik-1-rumah-rusak-dan-2-korban-luka/
Penyebab gerakan tanah diduga kondisi tanah yang labil, kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Segera membersihkan material longsoran dan melakukan pemasangan rambu – rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

4. Kabupaten Simeuleu, Provinsi Aceh
Gerakan tanah terjadi di ruas jalan penghubung Kecamatan Teupah Selatan – Kecamatan Simeuleu Timur, tepatnya di Gunung Pulau Bengkalak. Dampaknya sebagian badan jalan tertutup material longsoran dan tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu 8 November 2017 dini hari.
Sumber : http://www.pikiranmerdeka.co/2017/11/08/hujan-jalan-penghubung-dua-kecamatan-tertimbun-tanah-longsor/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik, kondisi tanah yang labil dan dipicu oleh oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran dan meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat dan setelah hujan turun dengan durasi yang cukup lama untuk menghindari kemungkinan terjadi longsoran susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

5. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah terjadi di ruas jalan penghubung Sidiakalang – Silalahi, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara. Dampaknya jalan tidak bisa dilewati kendaraan akibat tertutup material longsoran yang berupa batu – batu besar. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu 8 November 2017 dini hari.
Sumber : http://medan.tribunnews.com/2017/11/08/longsor-di-jalan-lintas-sidiakalang-silalahi-pengendara-panik-karena-ini
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang sangat terjal dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe jatuhan batu dan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran dan meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat dan setelah hujan turun dengan durasi yang cukup lama untuk menghindari kemungkinan terjadi longsoran susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

6. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di ruas jalan penghubung Kota Sumedang – Rancakalong, tepatnya di blok Saungtalahab, Dusun Cikoneng, Desa Pamekaran, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dampaknya tebing atas jalan mengalami longsor dan material longsorannya menutup badan jalan sepanjang 30 meter sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 7 November 2017 sore hari.
Sumber : http://jabar.tribunnews.com/2017/11/08/longsor-timbun-badan-jalan-sumedang-rancakalong-warga-mudah-mudahan-tak-ada-korban-jiwa
Penyebab gerakan tanah diduga kondisi tanah yang labil, kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Selain itu sudah ada retakan di bagian atas (mahkota longsoran). Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran dan meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat dan setelah turun hujan dengan durasi yang cukup lama untuk menghindari kemungkinan terjadi longsoran susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.




Bandung; 09 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>