Laporan Kebencanaan Geologi 11 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 11 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf terekam 55 kali gempa guguran lava. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 November 2017 Pukul 11:34 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 10 Nopember 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Hembusan- 21 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 28 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 11 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Tremor Non Harmonik- 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 12 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kepulan abu tebal tekanan sedang 200-600 m dari puncak, angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf terekam 1 kali Gempa Letusan, 1 kali Gempa Tektonik Terasa dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 10 Nopember 2017 pukul 07:33 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati mencapai 300-600 m di atas puncak berwarna putih kelabu, berintensitas tipis-tebal dan tekanan lemah-sedang. Angin bertiup ke arah utara dan timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 10 Nopember 2017 tercatat:- 94 kali gempa Erupsi/letusan- 86 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Tremor Harmonik.- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 5 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 10 Nopember 2017 tercatat:- 51 kali Hembusan- 2 kali Tornillo- Nihil Fase Banyak/Hybrid- Nihil Vulkanik Dangkal - 7 kali Vulkanik Dalam - 4 kali Tektonik Lokal- 1 kali Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

G. Dempo (Sumsel):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dempo (3173 m dpl) sering mengalami letusan freatik menghasilkan sebaran abu dan gas belerang. Pada Tanggal 09 November 2017 Pukul 16:51 WIB letusan freatik terjadi dan tinggi asap putih tebal keabuan 1000 m dari puncak. Abu dan gas belerang menyebar ke desa-desa di lereng selatan. Tidak ada korban jiwa dan harta akibat letusan ini. Secara visual sampai pagi ini tidak teramati kepulan asap dari kawah puncak karena kabut. Melalui rekaman seismograf pada 9 Nopember 2017 tercatat:- 2 kali Letusan- 1 kali Hembusan- 1 kali Low Frekuensi- 1 kali Gempa Terasa
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dempo dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Dempo dalam radius 3 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 22:54 WITA, terkait asap putih kekabu bertekanan sedang dengan tinggi 4273 mdpl atau 1000 m di atas puncak. Material abu menyebar ke selatan.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Ogan Komering  Ulu Selatan (OKUS) , Provinsi Sumatera Selatan
2. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh
3.  Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
4.  Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat
5. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
6 .Kabupaten Humbahas, Provinsi Sumatera Utara
7. Kabupaten Lebak , Provinsi Banten
8. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat
9. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah
10. Kabupaten Magelang , Provinsi Jawa Tengah
11. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diduga kondisi tanah yang labil, kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik , pemukiman di dekat tebing,  tanah dan batuan yang tidak stabil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. 
Dampak :
1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten OKU Selatan  menimbun satu rumah yang menyebabkan  6orang meninggal dunia dan dua orang luka. 
2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Aceh Selatan mengakibatkan badan jalan tertutup dan lalu lintas terganggu   
3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Bogor, mengakibatkan  Seorang pengendara sepeda motor, mengalami luka dan lalu lintas terganggu.
4. Gerakan Tanah / Tanah Longsor Longsor terjadi Kabupaten Sukabumi, Jawa Baratmenyebabkan  longsor tebing setinggi 40 meter dan lebar 25 meter yang mengakibatkan satu bangunan permanen tempat sarang burung walet ambruk. 
5. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Longsor terjadi di Kabupaten Garut, mengakibatkan akses jalan yang menghubungkan Kecamatan Cisompet dan Cibalong terputus tertutup material tanah.
6. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Humbahas , Sumut mengakibatkan .jalan  provinsi penghubung Pakkat-Tapanuli Tengah , lumpuh total sekitar 9 jam lebih.
7. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di  Kabupaten Banyumas , Jawa Tengah mengakibatkan satu rumah rusak
8. Bencana gerakan tanah/tanah longsor akibat turap jebol di  Depok, Jawa Barat  mengakibatkan  puluhan rumah warga tergenang air dengan ketinggian sekitar 30 cm.
9. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Lebak , Banten mengakibatkan perpustakaan SD rusak tertimpa tanah longsoran, 
10. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten  Sumedang, Jawa Barat , mengakibatkan akses Jalan Cimalaka-Hariang, jalan terputus.11. Bencana gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah mengakibatkan enam unit rumah kena terjangan tanah longsor.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Barat Laut Maluku Tenggara Barat, Maluku
Informasi Gempabumi;
Gempabumi terjadi pada hari Jumat, 10 November 2017 pukul 20:57:39 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempabumi berada pada koordinat 130,19° BT dan 7,21° LS (134 km Laut Maluku Tenggara Barat), dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 69 km. 
Penyebab gempabumi;
Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas penunjaman Lempeng Indo-Australia di bawah Laut Banda.
Dampak gempabumi;
Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempabumi ini tidak menimbulkan gelombang tsunami.
Rekomendasi;
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf terekam 55 kali gempa guguran lava. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi sering terlihat jelas. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tipis mencapai ketinggian 100 m di atas puncak. Angin di puncak bertiup ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 10 November 2017 tercatat:- Nihil Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Hembusan- 21 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 28 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 11 November 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Tremor Non Harmonik- 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 12 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi sering tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Secara visual kolom abu erupsi tebal keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 200-600 dari puncak. Terjadi 1 kali letusan maksimum dengan tinggi kolom abu 600 m. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-24 mm (dominan 2 mm). Gempa tektonik terasa 1 kali. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah selatan dan utara. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 10 November 2017 tercatat:- 94 kali gempa Erupsi/letusan- 86 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Tremor Harmonik.- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering tampak jelas. Tinggi asap putih tekanan lemah 5 m. Angin bertiup lemah ke timur. Melalui rekaman seismograf pada 10 Nopember 2017 tercatat:- 51 kali Hembusan- 2 kali Tornillo- Nihil Fase Banyak/Hybrid- Nihil Vulkanik Dangkal - 7 kali Vulkanik Dalam - 4 kali Tektonik Lokal- 1 kali Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Gunungapi Dempo (Sumatera Selatan).
Gunungapi Dempo merupakan satu-satunya gunungapi aktif di Provinsi Sumatera Selatan. Karakteristik erupsinya freatik dengan diikuti kepulan abu dan gas belerang. Erupsi freatik hampir terjadi setiap tahun tanpa didahului oleh tanda-tanda yang jelas baik secara visual dan instrumental. Kemarin Tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 16:51 WIB terjadi letusan freatik diikuti oleh sebaran abu dan gas belerang ke lereng selatan. Tinggkat aktivitas sampai saat ini masih Waspada (Level II) dengan rekomendasi daerah bahaya radius 3 km dari kawah puncak.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering berkabut dan tidak teramati kepulan asap dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 09 Nopember 2017 tercatat:- 2 kali Letusan- 1 kali Hembusan- 1 kali Low Frekuensi- 1 kali Gempa Terasa
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dempo terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat tentang penanggulangan bencana erupsi Dempo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 11:34 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 4660 m dari permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 10 Nopember 2017 pukul 07:33 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
(6) G. Dempo, Sumatera Selatan.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 November 2017 pukul 22:54 WIB terkait dengan hembusan asap putih tebal kelabu tekanan sedang mencapai ketinggian 4173 m dari permukaan laut dan 1000 m dari puncak. Abu menyebar ke arah selatan.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Ogan Komering  Ulu Selatan (OKUS) , Provinsi Sumatera Selatan*,
2. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh*,   
3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*, 
4. Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat*, 
5. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*,
6. Kabupaten Humbahas, Provinsi Sumatera*, 
7. Kabupaten Lebak , Provinsi Banten*,
8. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat*, 
9. Kabupaten Banyumas ,  Provinsi Jawa Tengah*, 
10. Kabupaten Magelang , Provinsi Jawa Tengah*, 
11. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah*,  Utara*,
12. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, 
13. Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, 
14. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, 
15. Kabupaten Simeuleu, Provinsi Aceh,
16. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, 
17. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat,   
18. Kabupaten Agam , Provinsi Sumatera Barat,   
19. Kabupaten Cilacap , Provinsi Jawa Tengah, 
20. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 
21. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
22. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, 
23. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 
24. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 
25. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 
26. Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat, 
27. Kabupaten Ende , Provinsi Nusa Tenggara Timur , 
28. Kabupaten  OKU Selatan , Provinsi Sumatera Selatan, 
29. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 
30. Kota Gunung Sitoli, Provinsi Sumatera Utara , 
31.  Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten  Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan
Longsor terjadi Desa Cukohnau Kecamatan Sungai Are Kabupaten OKU Selatan pada 9 November 2017 pukul 17.00 WIB. Longsor menimbun satu rumah yang menyebabkan satu orang orang meninggal dunia dan dua orang luka. Longsor juga terjadi di Desa Sadau Jaya, Kecamatan Sungai Are sekitar pukul 20.00 WIB. Longsor menimbun satu rumah berisi 7 orang yg mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan dua orang luka-luka.
Sumber:
https://www.merdeka.com/peristiwa/longsor-terjang-ogan-komering-ulu-selatan-1-tewas-2-luka-parah.html
https://www.goriau.com/berita/peristiwa/inalillahi-longsor-kembali-telan-korban-6-orang-meninggal-dan-4-orang-lukaluka.html
https://www.merdeka.com/peristiwa/longsor-kembali-hantam-okus-tim-sar-kesulitan-tembus-lokasi.html
Penyebab gerakan tanah diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan dipicu hujan deras yang lama. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
• Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.

2. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh
Gerakan tanah / Tanah longsor menyebakan badan jalan menuju Desa Pucuk Lembang, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, longsor sepanjang lebih kurang 50 meter dengan lebar dua meter pasca wilayah itu diguyur hujan lebat, Jumat (10/11), sehingga transportasi terganggu. Di lokasi lain. masih tingginya intensitas curah hujan juga telah mengakibatkan kembali terjadi tanah longsor yang menutupi badan jalan di kawasan Gunung Batu Hampa, perbatasan Kecamatan Pasie Raja dengan Kecamatan Kluet Tengah.
Sumber:
https://sulteng.antaranews.com/nasional/berita/664109/badan-jalan-longsor-di-aceh-selatan?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang sangat terjal dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan
Rekomendasi :
• agar segera membersihkan material longsor dengan tetap menjaga kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman longsoran susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Tebing setinggi 4 meter longsor dan menutupi badan jalan di Jalan Raya Puncak, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Kamis 9 November 2017 dini hari. Seorang pengendara sepeda motor, mengalami luka di bagian kaki akibat tertimpa batang pohon.
Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2017/11/09/16583921/tebing-setinggi-4-meter-di-puncak-longsor-1-orang-luka 
Penyebab gerakan tanah diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan dipicu hujan deras. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

4. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Longsor terjadi di Kampung Lodaya, RT 01 RW 08, Desa Karang Tengah, Kecamatan, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis 9 November 2017, pagi. Berupa longsor tebing setinggi 40 meter dan lebar 25 meter yang mengakibatkan satu bangunan permanen tempat sarang burung walet ambruk. 
Sumber:
https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3720117/bangunan-sarang-walet-di-sukabumi-ambruk-diterjang-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan dipicu hujan deras yang lama. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
• Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat

5. Kabupaten  Garut, Provinsi Jawa Barat
Longsor terjadi di Desa Jatisari, Kecamatan Cisompet, Jum’at, 10 November 2017, pagi. Tebing setinggi 20 meter longsor mengakibatkan akses jalan yang menghubungkan Kecamatan Cisompet dan Cibalong terputus tertutup material tanah.
Sumber:
http://jabar.tribunnews.com/2017/11/10/bencana-longsor-yang-terjadi-di-desa-jatisari-garut-menutup-akses-jalan-dua-kecamatan
Penyebab gerakan tanah diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan dipicu hujan deras yang lama. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

6. Kabupaten Humbahas, Provinsi Sumatera Utara
Curah hujan tinggi di pantai barat Sumatera Utara (Sumut) menyebabkan longsor di tebing tebing jalan Dusun Landit Desa Ambobi Paranginan Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbahas. Akibatnya jalan provinsi penghubung Pakkat-Tapanuli Tengah, mulai Rabu (8/11) dini hari, lumpuh total sekitar 9 jam lebih.
Sumber:
http://starberita.com/2017/11/09/longsor-jalan-penghubung-pakkat-tapteng-lumpuh-selama-9-jam/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik, kondisi tanah yang labil dan dipicu oleh oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran dan meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat dan setelah hujan turun dengan durasi yang cukup lama untuk menghindari kemungkinan terjadi longsoran susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

7. Kabupaten Banyumas ,  Provinsi Jawa Tengah
Sedikitnya dua rumah warga rusak tertimpa bencana tanah longsor, yakni rumah milik Karwen (79) warga RT 2 RW 2 Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden rusak berat. Kerusakan tersebut terjadi lantaran bagian pondasi rumah tersebut longsor. Di Kecamatan Wangon, tanah longsor melanda RT 1 RW 8 Dukuh Gandarusa, Desa Cikakak. Kejadian tanah longsor tersebut dipicu hujan lebat yang turun semalaman. 
Sumber :
http://satelitpost.com/regional/dua-rumah-terkena-longsor-di-wangon-dan-baturraden
Penyebab gerakan tanah diduga kondisi tanah yang labil, kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana rumah dibangun didekat tebing. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. 
• Segera membersihkan material longsoran dan melakukan pemasangan rambu – rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

8. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat
Hujan deras di wilayah Depok sejak siang hingga sore mengakibatkan turap outlet Situ Cilodong, Depok, longsor, Kamis (9/11/2017) sore. Akibatnya puluhan rumah warga di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, yakni Perumahan PGRI di RW 09 dan RT 4/11 serta Perumahan Griya Kalibaru di RW 2 tergenang air dengan ketinggian sekitar 30 cm.
Sumber :
http://wartakota.tribunnews.com/2017/11/09/outlet-situ-cilodong-longsor-air-rendam-perumahan
Penyebab gerakan tanah diduga akibat, turap yang kurang kuat fondasinya,  kondisi tanah yang labil dan dipicu oleh oleh curah hujan. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi : 
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. 
• Segera membersihkan material longsoran dan melakukan pemasangan rambu – rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

9. Kabupaten Lebak , Provinsi Banten
Setelah di daerah tersebut turun hujan lebat selama beberapa jam tanah dari tebing yang berada di kiri kanan sekolah  tergerus air hujan sehingga menyebabkan longsor dan menimpa sisi kiri dinding ruangan.perpustakaan SDN 2 Situregen yang berada di Kampung Cipurun, Desa Situregen,  Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak tertimpa tanah longsoran,
Sumber :
http://www.inilahbanten.co.id/detail/ruang-perpustakaan-sdn-2-situregen-tertimpa-longsor/
Penyebab lokasi sekolah yang dikelilingi oleh dataran tinggi yang menyerupai perbukitan tersebut memang sangat rawan dengan bencana longsor. Apalagi saat ini intensitas curah hujan sedang tinggi, sehingga dihimbau agar para guru dan murid waspada. Lokasinya memang di kelilingi perbukitan kecil,”kata Bambang lagi.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran dan melakukan pemasangan rambu- rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng untuk menahan pergerakan tanah dan memperkuat kestabilan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

10.  Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat
Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi di Blok Cisuka Desa Kertaraharja Kec.Tanjungkerta Kab. Sumedang, menutup badan jalan. Akibatnya, akses Jalan Cimalaka-Hariang, sekitar pukul 16.00 WIB, Kamis (9/11/2017), terputus. Dalam kejadian itu, selain material tanah dan bantu, sejumlah rumpun bambu yang tumbuh di tebing jalan tersebut, ikut terseret longsor.  Sejumlah titik longsor serupa, terdapat di Ruas Jalan Ciakar-Tanjungkerta. Setiap musim hujan, diwilayah tersebut, kerap terjadi longsor, hingga menyebabkan akses jalan terputus.
Sumber : 
http://www.galamedianews.com/daerah/168313/longsor-akses-jalan-cimalakahariang-terputus.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

11. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
Sebanyak enam unit rumah di di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, kena terjangan tanah longsor, Rabu (8/11/2017). Tanah longsor terjadi kali pertama di Padukuhan Jetis, RT02/ RW 05, Desa Kaligono. Di titik itu ada dua rumah yang kena longsoran tebing. Selain itu, di Padukuhan Sumbersari RT 01/ RW 11, Kaligono, ada empat unit rumah yang kena longsoran tanah. Rumah tersebut milik Padmo Suwito dan Ponikin. Sedangkan di Padukuhan Sawahan RT 02/RW 06, Kaligono, menimpa rumah milik Tri Hermawan dan Giman.
Sumber :
https://www.murianews.com/2017/11/09/130798/6-unit-rumah-kena-longsor-di-kaligono-purworejo.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang sangat terjal dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe jatuhan batu dan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran dan meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat dan setelah hujan turun dengan durasi yang cukup lama untuk menghindari kemungkinan terjadi longsoran susulan.
• Masyarakat  yang bermukim di daerah bencana agar mengindar dari rumah yang terkena bencana dan  harap meningkatkan kewaspadaan.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


Bandung; 11 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>