Laporan Kebencanaan Geologi 12 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 12 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering berkabut. Tinggi asap putih teramati 800 m. Angin ke arah timur, tenggara dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf tercatat 5 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi maksimum kolom abu 2500 m. Terekam 60 kali gempa guguran lava. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 November 2017 Pukul 10:35 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 11 Nopember 2017 tercatat:- 6 kali Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Hembusan- 33 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 29 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 12 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Tremor Non Harmonik- 10 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kepulan abu tebal tekanan sedang 300-400 m dari puncak, angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf terekam 2 kali Gempa Tektonik Jauh dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-12 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 11 Nopember 2017 pukul 08:16 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 11 November 2017 tercatat:- 98 kali gempa Erupsi/letusan- 79 kali gempa Hembusan- 29 kali gempa Tremor Harmonik.- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih  dengan intensitas tipis, tinggi 5 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 11 Nopember 2017 tercatat:- 14 kali Hembusan- 1 kali Vulkanik Dangkal - 3 kali Vulkanik Dalam 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

G. Dempo (Sumsel):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dempo (3173 m dpl) sering mengalami letusan freatik menghasilkan sebaran abu dan gas belerang. Pada Tanggal 09 November 2017 Pukul 16:51 WIB letusan freatik terjadi dan tinggi asap putih tebal keabuan 1000 m dari puncak. Abu dan gas belerang menyebar ke desa-desa di lereng selatan. Tidak ada korban jiwa dan harta akibat letusan ini.  Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut dan tidak teramati kepulan asap dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 10 Nopember 2017 tercatat:- 4 kali Hembusan- 2 kali Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Terasa
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dempo dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Dempo dalam radius 3 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 22:54 WITA, terkait asap putih kekabu bertekanan sedang dengan tinggi 4273 mdpl atau 1000 m di atas puncak. Material abu menyebar ke selatan.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kota Batam, Provinsi  Kepulauan Riau
2. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah 
3. Kabupaten Lombok Timur,  Provinsi Nusa Tenggara Barat
4. Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara

Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, kondisi geologi setempat, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak :
1. Gerakan tanah/tanah longsor di terjadi di TPA Punggur, Batam, Kepulauan Riau mengakibatkan  1 korban  meninggal. 
2. Gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah mengakibatkan Tiga rumah tertimpa longsor.
3. Gerakan tanah/tanah longsor di  Kabupaten Lombok Timur,  Provinsi Nusa Tenggara Barat menyebabkan rumah rusak dan ternak mati serrta  beberapa rumah lainya terancam rusak jika terjadi longsor susulan. 
4. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan, Jumat 10 November 2017 mengakibatkan putusnya Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Sipirok-Tarutung KM 45.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering berkabut. Tinggi asap putih teramati 800 m. Angin ke arah timur, tenggara dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf tercatat 5 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi maksimum kolom abu 2500 m. Terekam 60 kali gempa guguran lava. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi sering terlihat jelas. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tipis mencapai ketinggian 200 m di atas puncak. Angin di puncak bertiup ke arah barat. Melalui rekaman seismograf Tanggal 11 Nopember 2017 tercatat:- 6 kali Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Hembusan- 33 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 29 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 12 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- Nihil Gempa Tremor Non Harmonik- 10 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi sering tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Secara visual kolom abu erupsi tebal putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 300-400 dari puncak. Amplitudo dominan getaran tremor menerus berkisar 0,5-12 mm (dominan 2 mm). Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 11 November 2017 tercatat:- 98 kali gempa Erupsi/letusan- 79 kali gempa Hembusan- 29 kali gempa Tremor Harmonik.- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering tampak jelas. Tinggi asap putih tekanan lemah 5 m. Angin bertiup lemah ke timur. Melalui rekaman seismograf pada 11 Nopember 2017 tercatat:- 14 kali Hembusan- 1 kali Vulkanik Dangkal - 3 kali Vulkanik Dalam 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Gunungapi Dempo (Sumatera Selatan).
Gunungapi Dempo merupakan satu-satunya gunungapi aktif di Provinsi Sumatera Selatan. Karakteristik erupsinya freatik dengan diikuti kepulan abu dan gas belerang. Erupsi freatik hampir terjadi setiap tahun tanpa didahului oleh tanda-tanda yang jelas baik secara visual dan instrumental. Kemarin Tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 16:51 WIB terjadi letusan freatik diikuti oleh sebaran abu dan gas belerang ke lereng selatan. Tinggkat aktivitas sampai saat ini masih Waspada (Level II) dengan rekomendasi daerah bahaya radius 3 km dari kawah puncak.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut dan tidak teramati kepulan asap dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 10 Nopember 2017 tercatat:- 4 kali Hembusan- 2 kali Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Terasa
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dempo terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat tentang penanggulangan bencana erupsi Dempo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Nopember 2017 Pukul 10:35 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 4660 m dari permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 18:43 WITA, terkait asap putih bertekanan lemah dominan uap air, dengan tinggi 3392 mdpl atau 250 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 11 Nopember 2017 pukul 08:16 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
(6) G. Dempo, Sumatera Selatan.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 November 2017 pukul 22:54 WIB terkait dengan hembusan asap putih tebal kelabu tekanan sedang mencapai ketinggian 4173 m dari permukaan laut dan 1000 m dari puncak. Abu menyebar ke arah selatan.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kota Batam, Provinsi  Kepulauan Riau*,
2. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah*, 
3. Kabupaten Lombok Timur,  Provinsi Nusa Tenggara Barat*, 
4. Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara*,           
5. Kabupaten Ogan Komering  Ulu Selatan (OKUS) , Provinsi Sumatera Selatan,
6. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh,   
7. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat8, 
8. Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat, 
9. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
10. Kabupaten Humbahas, Provinsi Sumatera, 
11. Kabupaten Lebak , Provinsi Banten,
12. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, 
13. Kabupaten Banyumas ,  Provinsi Jawa Tengah, 
14. Kabupaten Magelang , Provinsi Jawa Tengah, 
15. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah  Utara,
16. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, 
17. Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, 
18. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, 
19. Kabupaten Simeuleu, Provinsi Aceh,
20. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, 
21. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat,   
22. Kabupaten  Agam , Provinsi Sumatera Barat,   
23. Kabupaten Cilacap , Provinsi Jawa Tengah, 
24. Kabupaten  Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 
25. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
26. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, 
27. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 
28. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 
39. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 
30. Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.   Kota Batam, Provinsi  Kepulauan Riau
Lokasi longsor terjadi di TPA Punggur, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau. Kejadian longsor ini dipicu oleh curah hujan yang lebat. Akibatnya Rokayah meninggal akibat tertimpa pohon saat tanah longsor terjadi. https://m.batamtoday.com/berita-100617-Rokayah-Tertipa-Pohon-saat-Longsor-di-TPA-Punggur.
Sumber : html http://batamnews.co.id/berita-27418-rawan-longsor-471-kk-di-kawasan-tpa-punggur-akan-direlokasi.html 
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Segera membersihkan material longsoran dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan.
• Masyarakat yang tinggal dibawah tebing/lereng terjal, di bantaran sungai agar mewaspadai potensi longsoran dan banjir bandang.
• Segera menutup retakan yang muncul agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut.
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

2. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah 
Tiga rumah di Dusun Watugubug Desa Lebakwangi Kecamatan Pagedongan tertimpa longsor, Kamis (9/11) siang. Adanya retakan tanah dan hujan lebat membuat tebing yang berada di atas permukiman warga ambrol. Rumah yang tertimpa longsor yakni milik Rido Afidin (29), Sukardi (55) dan Niman (30). Rumah yang tertimpa longsor mengalami kerusakan ringan dan mengakibatkan  enam KK harus mengungsi. Selain menimpa rumah, tanah di sekitar lokasi juga mengalami keretakan sekitar tiga jengkal. 
Sumber : http://radarbanyumas.co.id/20-warga-lebakwangi-banjarnegara-mengungsi/
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, kondisi geologi setempat, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Masyarakat yang tinggal dibawah tebing/lereng terjal, di bantaran sungai agar mewaspadai potensi longsoran dan banjir bandang.
• Segera membersihkan material longsoran dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan.
• Segera menutup retakan yang muncul agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut.
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi…
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

3.    Kabupaten Lombok Timur,  Provinsi Nusa Tenggara Barat
Hujan deras di Lombok Timur, Sabtu dinihari tadi menyebabkan longsor di Dusun Lendang Karang Desa Kalijaga Timur Kecamatan Aikmel Lombok Timur.  Peristiwa longsor terjadi sekitar Pukul 05.00 wita menyebabkan rumah rusak dan ternak mati. Sebelum longsor,  hujan  lebat terjadi sejak Jumat (10/11)   sejak Pukul 16.00 wita sampai malam. Akibat longsor itu, sebuah rumah rusak ringan., satu ekor sapi mati dan satu kandang ternak tertimbun.  serta  beberapa rumah lainya terancam rusak jika terjadi longsor susulan. “
Sumber: https://kicknews.today/2017/11/11/longsor-pagi-buta-di-lombok-timur-seekor-ternak-mati/  
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah vulkanik yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang tinggal dibawah tebing/lereng terjal, di bantaran sungai agar mewaspadai potensi longsoran dan banjir bandang.
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Jika muncul retakan segera ditutup agar air tidak masuk kedalam reatakan tersebut.
• Segera membersihkan material longsoran dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan.
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Membuat perkuatan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

4. Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara
Longsor terjadi di Dusun Aek Sulam Desa Marsada Kabupaten Tapanuli Selatan, Jumat 10 November 2017. Mengakibatkan putusnya Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Sipirok-Tarutung KM 45.
Sumber :
https://www.jpnn.com/news/jalinsum-sipirok-tarutung-longsor-tolong-hati-hati
https://www.jpnn.com/news/waspada-jalinsum-sipirok-tarutung-amblas-begini-kondisinya 
Penyebab gerakan tanah diduga karena pembebanan lereng yang berlebih dan dipicu curah hujan yang tinggi. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran dan perbaikan jalan agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.



Bandung; 12 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>