Laporan Kebencanaan Geologi 13 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 13 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi maksimum kolom abu 2000 m. Erupsi disertai 2 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2500m mengarah ke timur dan tenggara. Terekam 76 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 700-2000m mengarah ke timur dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2017 Pukul 17:55 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak teramati. Ketinggian abu pada letusan sebelumnya yang teramati yaitu pada ketinggian 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 12 Nopember 2017 tercatat:- Nihil Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 1 kali Gempa Low-Frekuensi- 36 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 34 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 13 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 16 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 12 November 2017 Pukul 07:22 WITA, terkait asap putih bertekanan sedang dominan uap air, dengan tinggi 3642 mdpl atau 500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Melalui rekaman seismograf terekam 3 kali Erupsi/letusan dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-15 mm (dominan 3 mm). Secara visual kolom abu erupsi tebal putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 400 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 11 Nopember 2017 pukul 08:16 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 12 November 2017 tercatat:- 83 kali gempa Erupsi/letusan- 80 kali gempa Hembusan- 34 kali gempa Tremor Harmonik.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi 10 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Nopember 2017 tercatat:- 56 kali Hembusan- 1 kali Vulkanik Dalam
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

G. Dempo (Sumsel):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dempo (3173 m dpl) sering mengalami letusan freatik menghasilkan sebaran abu dan gas belerang. Pada Tanggal 09 November 2017 Pukul 16:51 WIB letusan freatik terjadi dan tinggi asap putih tebal keabuan 1000 m dari puncak. Abu dan gas belerang menyebar ke desa-desa di lereng selatan. Tidak ada korban jiwa dan harta akibat letusan ini.  Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut dan tidak teramati kepulan asap dari puncak. Angin bertiup sedang ke arah timur dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 11 Nopember 2017 tercatat:- 34 kali Hembusan- 8 kali Vulkanik Dangkal- 20 kali Vulkanik Dalam- 1 kali Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dempo dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Dempo dalam radius 3 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 22:54 WITA, terkait asap putih kekabu bertekanan sedang dengan tinggi 4273 mdpl atau 1000 m di atas puncak. Material abu menyebar ke selatan.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
2. Kota Purwokerto, Provinsi Jawa Tengah
3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
4. Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara
5. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
6. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
7. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat
8. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah
9. Kota Malang , Provinsi Jawa Timur
Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, kondisi geologi setempat, sifat batun dan tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, rumah dibangun di dekat tebing jalan maupun sungai, erosi lateral sungai  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak :
1. Gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten  Lebak  , Provinsi Banten mengakibatkan ruas jalan Provinsi Warung Banten - Cikotok dan ruas jalan  Warung Banten - Citorek  terputus  serta mengancam ambruknya dua rumah milik warga yang berada di atas tebing.
2. Gerakan tanah/tanah longsor di bantaran Sungai Kalipelus di Purwokerto Timur, Jawa Tengah mengakibatkan puluhan rumah rumah tergerus sungai dan rusak parah serta  sejumlah keluarga mengungsi.
3. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,  mengakibatkan sebuah rumah yang dihuni wanita lanjut usia tertimbun longsoran.
4. Gerakan tanah/tanah longsor di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara  mengakibatkan longsor batu-batu dan tanah dari tebing pinggir jalan perbatasan Karo-Dairi dan membuat arus lalu lintas dari Kabanjahe arah ke Sidikalang dan sebaliknya terhenti. 
5. Gerakan tanah/tanah longsor di  Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mengakibatkan belasan rumah rusak berat dan ringan.
6. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di Kabupaten Ponorogo, mengakibatkan  satu rumah warga setempat rusak parah. 
7. Gerakan tanah/tanah longsor pada sejumlah titik di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, mengakibatkan 2 rumah warga terseret longsoran Kecamatan Pakenjeng  dan  mengancam  sedikitnya 13 rumah di Kecamatan  Cilawu.
8. Gerakan tanah/tanah longsor di  jalan penghubung antara Muara Teweh (Barito Utara) dan Purukcahu (Murungraya) , Provinsi Kalimantan Tengah  mengakibatkan tebing longsor dan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat tidak bisa melintas.
9. Gerakan tanah/tanah longsor Gerakan tanah/ tanah longsor  terjadi di kawasan Perum Joyogrand di Jalan Sukoagung, Merjosari Lowokwaru Kota Malang mengakibatkan seorang  korban  meninggal.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi maksimum kolom abu 2000 m. Erupsi disertai 2 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2500m mengarah ke timur dan tenggara. Terekam 76 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 700-2000m mengarah ke timur dan selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 12 Oktober 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 12 Nopember 2017 tercatat:- Nihil Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 1 kali Gempa Low-Frekuensi- 36 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 34 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 13 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 16 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Melalui rekaman seismograf terekam 3 kali Erupsi/letusan dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-15 mm (dominan 3 mm). Secara visual kolom abu erupsi tebal putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 400 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 12 November 2017 tercatat:- 83 kali gempa Erupsi/letusan- 80 kali gempa Hembusan- 34 kali gempa Tremor Harmonik.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi 10 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Nopember 2017 tercatat:- 56 kali Hembusan- 1 kali Vulkanik Dalam
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Gunungapi Dempo (Sumatera Selatan).
Gunungapi Dempo merupakan satu-satunya gunungapi aktif di Provinsi Sumatera Selatan. Karakteristik erupsinya freatik dengan diikuti kepulan abu dan gas belerang. Erupsi freatik hampir terjadi setiap tahun tanpa didahului oleh tanda-tanda yang jelas baik secara visual dan instrumental. Kemarin Tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 16:51 WIB terjadi letusan freatik diikuti oleh sebaran abu dan gas belerang ke lereng selatan. Tinggkat aktivitas sampai saat ini masih Waspada (Level II) dengan rekomendasi daerah bahaya radius 3 km dari kawah puncak.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut dan tidak teramati kepulan asap dari puncak. Angin bertiup sedang ke arah timur dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 11 Nopember 2017 tercatat:- 34 kali Hembusan- 8 kali Vulkanik Dangkal- 20 kali Vulkanik Dalam- 1 kali Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dempo terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat tentang penanggulangan bencana erupsi Dempo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Nopember 2017 Pukul 17:55 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak teramati. Ketinggian abu pada letusan sebelumnya yang teramati yaitu pada ketinggian 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 12 November 2017 Pukul 07:22 WITA, terkait asap putih bertekanan sedang dominan uap air, dengan tinggi 3642 mdpl atau 500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 11 Nopember 2017 pukul 08:16 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
(6) G. Dempo, Sumatera Selatan.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 November 2017 pukul 22:54 WIB terkait dengan hembusan asap putih tebal kelabu tekanan sedang mencapai ketinggian 4173 m dari permukaan laut dan 1000 m dari puncak. Abu menyebar ke arah selatan.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten*, 
2. Kota Purwokerto, Provinsi Jawa Tengah*,
3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*, 
4. Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara*, 
5. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten*, 
6. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur*, 
7. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*, 
8. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah*, 
9. Kota Malang, Provinsi Jawa Timur*, 
10. Kota Batam, Provinsi  Kepulauan Riau,
11. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, 
12. Kabupaten Lombok Timur,  Provinsi Nusa Tenggara Barat, 
13. Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara,   
14. Kabupaten Ogan Komering  Ulu Selatan (OKUS), Provinsi Sumatera Selatan,
15. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh,   
16. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 
17. Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat, 
18. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
19. Kabupaten Humbahas, Provinsi Sumatera, 
20. Kabupaten Lebak , Provinsi Banten,
21. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, 
22. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 
23. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 
24. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah  Utara,
25. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, 
26. Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, 
27.Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, 
28.Kabupaten Simeuleu, Provinsi Aceh,
29.Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, 
30.Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat,   
31. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat,   
32. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 
33. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 
34. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 
35. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, 
36. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 
37. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 
38. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 
39. Kabupaten Bogor , Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
Hujan deras yang mengguyur wilayah kecamatan Cibeber, kabupaten Lebak sejak siang hingga malam ini, mengakibatkan ruas jalan Provinsi Warung Banten - Cikotok tepatnya di KM 4 Gunung Handeleum terputus karena tertimbun material longsoran tanah, Sabtu malam (11/11/2017) sekira pukul 19.00 WIB. Informasi lain diperoleh, tanah longsor juga terjadi di ruas jalan Warung Banten - Citorek tepatnya di Kampung Warung Banten RT01/RW01, Desa Warung Banten, Kecamatan Cibeber. Longsor di lokasi ruas jalan Warung Banten - Citorek mengancam ambruknya dua rumah milik warga yang berada di atas tebing, bila kondisi hujan terus terjadi malam ini.
Sumber:
https://titiknol.co.id/peristiwa/tertimbun-longsor-ruas-jalan-provinsi-warung-banten-cikotok-dan-warung-banten-citorek-terputus/
Penyebab gerakan tanah adalah pemotongan lereng, pelapukan batuan , rumah dibangun di dekat tebing jalan, dan curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan/terasering lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.  

2 .Kota  Purwokerto,  Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / Tanah longsor  menyebabkan puluhan rumah di bantaran Sungai Kalipelus, Kelurahan Mersi, di Purwokerto Timur, Jawa Tengah, rusak parah setelah banjir melanda wilayah tersebut dalam dua hari terakhir. Tembok rumah warga yang berada di sisi sungai ambrol hingga terbawa longsor. Longsor terjadi karena gerusan air yang terus menerus saat banjir, pada Minggu pagi (12/11/2017). Seperti ditayangkan Liputan6 Siang SCTV, Minggu (12/11/2017), sejumlah keluarga terpaksa diungsikan karena rumah mereka tak bisa lagi ditempati. 
Sumber:
http://news.liputan6.com/read/3159905/bantaran-sungai-kalipelus-longsor-puluhan-warga-mengungsi
Penyebab diperkirakan rumah dibangun didekat tebing sungai, tanah penyusun tebing sungai yang mudah tererosi, erosi lateral sungai,  peningkatan arus sungai yang dipicuh oleh hujan deras.
Rekomendasi:
• Warga masyarakat yang perumahannya terkena longsor agar mengungsi ke lokasi yang aman sedangkan masyarakat yang terancam longsor agar selalu waspada mengingat ancaman  longsor susulan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Segera membangun bangunan  penahan erosi sungai.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Rumah yang dihuni wanita lanjut usia warga RT 01/04 di Kampung Kuta Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tertimbun longsor yang mengakibatkan sebagai rumahnya rusak berat. Kejadian  longsor tersebut berawal hujan deras yang disertai angin kencang melanda daerah tersebut. Tiba-tiba tanah tebing yang di atasnya merupakan jalan desa tersebut longsor. Posisi rumah korban yang berada di bawah jalan desa langsung tertimbu dan rusak berat pada bagian kamarnya. 
Sumber:
https://www.antaranews.com/berita/664243/rumah-lansia-di-sukabumi-tertimbun-longsor
Penyebab gerakan tanah adalah kelerengan dan pelapukan batuan serta rumah yang terlalu dekat dengan lereng serta  dipicu oleh curah hujan tinggi. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap longsoran susulan terutama disaat hujan lebat dengan durasi yang lama.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

4. Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara
Longsor batu-batu dan tanah dari tebing pinggir jalan perbatasan Karo-Dairi, Sabtu (11/11) siang kembali terjadi. Longsor terjadi pukul 11.50 WIB menimbun berkisar 30 meter badan jalan dan setinggi 2 meter ini membuat arus lalu lintas dari Kabanjahe arah ke Sidikalang dan sebaliknya terhenti. Dua alat berat langsung mengevakuasi material longsor ke jurang di sekitar wilayah “pintu angin” Km 111 ini tuntas berkisar pukul 14.00 WIB sehingga arus lalu lintas kembali normal. Perbaikan jalan nasional perbatasan Karo-Dairi akan mulai dikerjakan  dari km 110 sampai 113 ini untuk pelebaran jalan dan pembuat drainase serta beronjong penahan longsor.
Sumber:
http://harian.analisadaily.com/headline/news/longsor-batu-kembali-tutupi-badan-jalan/450413/2017/11/12
Penyebab gerakan tanah adalah kelerengan dan pelapukan batuan serta  dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran aliran bahan rombakan
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

5. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
Belasan rumah milik warga kampung Cibeber Girang RT01/RW07 dan kampung Bojong Lio RT01/RW 10, desa Cijengkol, kecamatan Cilograng, kabupaten Lebak di laporkan mengalami rusak berat dan ringan. Kondisi itu terjadi akibat bencana tanah longsor yang melanda di dua wilayah kampung tersebut. Tanah longsor terjadi sekira pukul 16.00 WIB, Sabtu (11/11/2017). Longsor disebabkan karena turunnya hujan deras selama dua jam di wilayah itu. Belasan rumah milik warga yang rusak berat dan ringan terjadi di dua wilayah kampung di desa Cijengkol, kecamatan Cilograng yakni, delapan rumah milik delapan kepala keluarga (KK) di kampung Cibeber Girang dan tiga rumah lainnya milik tiga kepala keluarga (KK) di kampung Bojong Lio. Satu unit fasilitas umum berupa MCK juga mengalami kerusakan.
Sumber:
https://titiknol.co.id/peristiwa/bencana-tanah-longsor-kembali-terjadi-di-lebak-belasan-rumah-rusak-berat-dan-ringan/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat   kelerengan dan pelapukan batuan serta rumah yang terlalu dekat dengan lereng serta  dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor  agar mengungsi di tempat yang aman. 
• Segera membersihkan material gerakan tanah  dan masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

6 . Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
Tanah longsor terjadi di Desa Gondowido, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, saat hujan deras melanda kawasan tersebut, Sabtu (11/11/2017) siang sampai sore. Akibat longsor tersebut satu rumah warga setempat rusak parah. Hujan deras yang disertai angin kencang menerjang wilayah Ponorogo, Sabtu siang hingga sore mengakibatkan tebing di Desa Gondowido longsor dan menimpa rumah Suryadi  disamping tebing pada Sabtu sore. 
Sumber:
http://www.solopos.com/2017/11/12/longsor-ponorogo-rumah-warga-ngebel-rusak-parah-diterjang-longsor-868231
Penyebab gerakan tanah adalah kelerengan dan pelapukan batuan serta rumah yang terlalu dekat dengan lereng serta  dipicu oleh curah hujan tinggi. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap longsoran susulan terutama disaat hujan lebat dengan durasi yang lama.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

7. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat
Hujan deras dan lama yang mengguyur kawasan Garut, telah menyebabkan bencana longsor disejumlah titik di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dua rumah warga rusak berat akibat terseret material longsora di kawasan Kecamatan Pakenjeng. Rumah warga di Kecamatan   Pakenjeng yang terseret material longsoran adalah milik Adang (50) warga Kampung Sawah Limus RT 02 RW 06, Desa Sukamulya dan Udin (30) warga Kampung Tipar RT 02 RW 5, Desa Sukamulya. Pada hari yang sama longsor juga terjadi di wilayah Kecamatan Cilawu, tepatnya di Kampung Cikuda RT 04 RW 0,  Desa Mekarsari. Tebing setinggi 10 m mengalami longsor yang mengancam sedikitnya 13 rumah di daerah tersebut. Longsor terjadi sekitar pukul 12.30 WIB saat hujan deras melanda kawasan tersebut. Penanganan sementara pemilik rumah diungsikan ke tetangga dan saudara terdekat karena dihawatirkan ada longsor susulan.  Dilaporkan adadanya retakan tanah yang  terlihat hampir sepanjang 150 meter akibat pergerakan tanah di daerah tersebut. Warga khawatir suatu saat retakan tanah itu akan mengancam bagi warga.
Sumber:
http://www.rri.co.id/post/berita/456127/daerah/rumah_warga_pakenjeng_dan_cilawu_garut_rusak_berat_diterjang_longsor.html
Penyebab gerakan tanah adalah kelerengan dan pelapukan batuan serta rumah yang terlalu dekat dengan lereng serta  dipicu oleh curah hujan tinggi. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran tanah.
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap longsoran susulan terutama disaat hujan lebat dengan durasi yang lama.
• Segera menutup retakan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

8. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah
Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi di Kalimantan Tengah, Minggu (12/11/2017) siang mengakibatkan tebing longsor di jalan penghubung antara Muara Teweh (Barito Utara) dan Purukcahu (Murungraya) Kalimantan Tengah.  Longsor terjadi di jalan negara Purukcahu-Muarateweh atau sekitar kilometer 80. Akibat kejadian tersebut kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat tidak bisa melintas.
Sumber:
http://kalteng.tribunnews.com/2017/11/12/gawat-tebing-jalan-purukcahu-muara-teweh-longsor-kendaraan-tak-bisa-lewat
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah  dan batuan yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran debris.
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

9. Kota Malang , Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah/ tanah longsor  terjadi di kawasan Perum Joyogrand di Jalan Sukoagung, Merjosari Lowokwaru Kota Malang pada Minggu (12/11/2017) sore.Hujan deras mengakibatkan longsoran yang berasal dari plensengan setinggi 3 meter dengan panjang sekitar 5 meter menimpa sebuah rumah kontrakan dan salah seorang  penghuni meninggal akibat tertimbun longsoran. Korban diketahui sebagai mahasiswi dari  Universitas Brawijaya, asal Pekalongan, Jawa Tengah. 
Sumber:
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3724026/longsor-di-kota-malang-timpa-rumah-kontrakan-satu-orang-tewas?_ga=2.44424679.2118917517.1510488945-1409510958.1510488928
Penyebab gerakan tanah diduga kondisi tanah yang labil, kemiringan lereng yang cukup terjal, drainase yang kurang baik dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana, rumah dibangun didekat tebing. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi 
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. 
• Tidak bermukim di dekat tebing rawan longsor dan bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


Bandung; 13 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>