Laporan Kebencanaan Geologi 14 November 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 14 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi maksimum kolom abu 2500 m. Erupsi tidak disertai awan panas guguran. Terekam 58 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 1000-1500m mengarah ke timur dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2017 Pukul 12:09 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak teramati. Ketinggian abu pada letusan sebelumnya yang teramati yaitu pada ketinggian 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan-tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 13 Nopember 2017 tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Low-Frekuensi- 47 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 21 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 5 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 14 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 1 kali Gempa Terasa
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 12 November 2017 Pukul 07:22 WITA, terkait asap putih bertekanan sedang dominan uap air, dengan tinggi 3642 mdpl atau 500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Melalui rekaman seismograf terekam 1 kali Erupsi/letusan dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-18 mm (dominan 2 mm). Secara visual kolom abu erupsi tebal putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 500 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 12 Nopember 2017 pukul 07:54 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 13 November 2017 tercatat:- 81 kali gempa Erupsi/letusan- 85 kali gempa Hembusan- 39 kali gempa Tremor Harmonik.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi 25-100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Nopember 2017 tercatat:- 70 kali Hembusan- 2 kali Low Frekuensi- 1 kali Vulkanik Dangkal- 3 kali Vulkanik Dalam
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

G. Dempo (Sumsel):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dempo (3173 m dpl) sering mengalami letusan freatik menghasilkan sebaran abu dan gas belerang. Pada Tanggal 09 November 2017 Pukul 16:51 WIB letusan freatik terjadi dan tinggi asap putih tebal keabuan 1000 m dari puncak. Abu dan gas belerang menyebar ke desa-desa di lereng selatan. Tidak ada korban jiwa dan harta akibat letusan ini.  Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut dan tidak teramati kepulan asap dari puncak. Angin bertiup sedang ke arah utara dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 12 Nopember 2017 tercatat:- 1 kali Hembusan- 2 kali Vulkanik Dalam
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dempo dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Dempo dalam radius 3 km dari kawah puncak.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 22:54 WITA, terkait asap putih kekabu bertekanan sedang dengan tinggi 4273 mdpl atau 1000 m di atas puncak. Material abu menyebar ke selatan.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 1.   Kabupaten Garut, Jawa Barat2.   Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan3.   Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah4.  Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta5. Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur6. Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta7. Kabupaten Aceh Tengah,  Provinsi Aceh 8. Kabupaten Tanjung Jabung Timur , Provinsi Jambi  
Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, kondisi geologi setempat, sifat batun dan tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, rumah dibangun di dekat tebing jalan maupun sungai, erosi lateral sungai  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak :
1. Gerakan tanah/tanah longsor pada   tebing setinggi 50 meter , Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, longsor menimpa lahan pertanian dan . belasan rumah warga di dekat lokasi longsor pun terpaksa dikosongkan.
2. Gerakan tanah/tanah longsor di Kota Banjarmasin , Kalimantan Selatan mengakibatkan  jalan tidak dapat dilalui warga.
3. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Barito Utara dengan Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah tertutup material longsor.
4. Gerakan tanah/tanah longsor di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, longsor mengakibatkan empat rumah non permanen warga amblas.
5. Gerakan tanah/tanah longsor di  Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (12/11/2017) berdampak memutuskan badan jalan dan kendaraan tidak bisa melintasi ruas jalan Golo Welu - Ranggu.
6. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di  Sekolah Dasar Negeri 01 Ciganjur di RT 06 RW 02 Ciganjur, Jakarta Selatan  mengakibatkan rusaknya bangunan tembok pembatas  tebing sungai.
7. Gerakan tanah/tanah longsor pada  jalan menuju Desa Atu Payung dan Desa Serule Kecamatan Bintang Kabupaten Aceh Tengah amblas mengakibatkan  satu rumah rusak  dan lokasi jalan hanya bisa di lalui kendaraan roda dua. 
8. Gerakan tanah/tanah longsor  pada tebing sungai Kabupaten Jabung Timur, Jambi mengakibatkan satu unit rumah hanyut dan tiga rumah lainnya rusak berat. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung*, Sumut; b. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi maksimum kolom abu 2500 m. Erupsi tidak disertai awan panas guguran. Terekam 58 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 1000-1500m mengarah ke timur dan selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf Tanggal 13 Nopember 2017 tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa Low-Frekuensi- 47 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 21 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 5 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 14 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik- 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 1 kali Gempa Terasa
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Timur. Melalui rekaman seismograf terekam 1 kali Erupsi/letusan dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-18 mm (dominan 2 mm). Secara visual kolom abu erupsi tebal putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 500 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 13 November 2017 tercatat:- 81 kali gempa Erupsi/letusan- 85 kali gempa Hembusan- 39 kali gempa Tremor Harmonik.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi 25-100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Nopember 2017 tercatat:- 70 kali Hembusan- 2 kali Low Frekuensi- 1 kali Vulkanik Dangkal- 3 kali Vulkanik Dalam
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Gunungapi Dempo (Sumatera Selatan).
Gunungapi Dempo merupakan satu-satunya gunungapi aktif di Provinsi Sumatera Selatan. Karakteristik erupsinya freatik dengan diikuti kepulan abu dan gas belerang. Erupsi freatik hampir terjadi setiap tahun tanpa didahului oleh tanda-tanda yang jelas baik secara visual dan instrumental. Kemarin Tanggal 09 Nopember 2017 Pukul 16:51 WIB terjadi letusan freatik diikuti oleh sebaran abu dan gas belerang ke lereng selatan. Tinggkat aktivitas sampai saat ini masih Waspada (Level II) dengan rekomendasi daerah bahaya radius 3 km dari kawah puncak.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut dan tidak teramati kepulan asap dari puncak. Angin bertiup sedang ke arah utara dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 12 Nopember 2017 tercatat:- 1 kali Hembusan- 2 kali Vulkanik Dalam
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dempo terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat tentang penanggulangan bencana erupsi Dempo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2017 Pukul 12:09 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak teramati. Ketinggian abu pada letusan sebelumnya yang teramati yaitu pada ketinggian 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan-tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 12 November 2017 Pukul 07:22 WITA, terkait asap putih bertekanan sedang dominan uap air, dengan tinggi 3642 mdpl atau 500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 12 Nopember 2017 pukul 07:54 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.
(6) G. Dempo, Sumatera Selatan.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 November 2017 pukul 22:54 WIB terkait dengan hembusan asap putih tebal kelabu tekanan sedang mencapai ketinggian 4173 m dari permukaan laut dan 1000 m dari puncak. Abu menyebar ke arah selatan.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.   Kabupaten Garut, Jawa Barat
Tebing setinggi 50 meter di Desa Mekarsari, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, longsor menimpa lahan pertanian. Belasan rumah warga yang berada di dekat lokasi longsor pun terpaksa dikosongkan.
sumber:
http://video.metrotvnews.com/headline-news/PNgJe34K-tebing-longsor-menimpa-lahan-pertanian-di-garut 
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah vulkanik yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Daerah ini sebelumnya pernah terjadi longsor pada Mei 2013 dan pada tahun 2014 sehingga masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Masyarakat sebaiknya mengungsi ketempat yang aman mengingat pemukiman tidak jauh dari tebing tersebut dan mewaspadai potensi longsoran susulan.
• Segera menutup retakan yang muncul agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut.
• Membuat perkuatan lereng agar longsoran tidak meluas serta menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agar air tidak masuk ke area longsoran.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

2.   Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan
Longsor melanda dua kecamatan yaitu Kecamatan Halong di Desa Mamigang, dan Kecamatan Tebing Tinggi di Desa Langkap dan Ajung. Longsor di Desa Mamigang kondisinya tanah tebing menutupi jalan yang sering dilewati oleh warga. "Akses ini sering dimanfaatkan oleh warga, terutama untuk membawa hasil kebun seperti karet, pisang, kemiri, dan lain sebagainya," ujar Supianor salah seorang warga.Sementara itu, untuk longsor di dua desa di Kecamatan Tebing Tinggi sempat membuat beberapa titik rusak, jalan yang ambrol hampir separu, serta tanah tebing menutupi jalan
sumber:
http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/11/13/akibat-hujan-dua-kecamatan-ini-alami-bencana-longsor-begini-kondisinya 
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan kemiringan lereng yang terjal dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Masyarakat atau pengguna jalan yang lewat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsoran susulan.
• Memasang rambu-rambu peringatan rawan longsor.
• Jika muncul retakan segera ditutup dengan tanah agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut.
• Membuat perkuatan lereng agar longsoran tidak meluas serta menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agar air tidak masuk ke area longsoran.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat

3.   Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah
Jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Barito Utara dengan Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah tertutup material longsor.Akibatnya, akses utama penghubung antar Kabupaten ini terputus total. Antrean kendaraan mencapai 5 kilometer. “Saat ini jalur tertutup total dan tidak bisa dilintasi karena tertutup material longsor,” ujar Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Murung Raya, Mujib Norahman, Minggu (12/11/2017).
sumber:
http://regional.kompas.com/read/2017/11/13/06210051/longsor-menutup-ruas-jalan-utama-antar-kabupaten 
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan kemiringan lereng yang terjal dan batuan bersifat lepas dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat atau pengguna jalan yang lewat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsoran susulan.
• Memasang rambu-rambu peringatan rawan longsor.
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Jika muncul retakan segera ditutup dengan tanah agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut.
• Membuat perkuatan lereng agar longsoran tidak meluas serta menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agar air tidak masuk ke area longsoran.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.

4.  Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
Hujan deras membuat turap aliran Kali Pesanggrahan di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, longsor. Akibatnya, empat rumah warga amblas.  Puing-puing rumah dan turap yang longsor di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dibersihkan petugas Senin (13/11) pagi. Diduga, longsornya turap akibat tidak kuat menahan gerusan air dari Kali Pesanggrahan yang sempat meluap.
sumber:
http://m.liputan6.com/news/read/3160687/turap-kali-pesanggrahan-longsor-4-rumah-amblas?utm_source=Mobile&utm_medium=whatsapp&utm_campaign=Share_Top
Penyebab longsor diperkirakan karena erosi sungai pesanggrahan sehingga turap tidak kuat menahan erosi/gerusan air. Longsoran ini dipicu oleh hujan deras dan erosi.
Rekomendasi:
• Segera memperbaiki turap agar longsoran tidak meluas.
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar Kali Pesanggrahan agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai atau sekitar tebing sungai sharap waspada terhadap potensi longsoran susulan.
• Jika muncul retakan segera ditutup dengan tanah agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.

5. Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (12/11/2017) berdampak terjadi longsor di Desa Suka Kiong. Longsor sepanjang 30 meter, memutuskan badan jalan. Material longsoran seperti tanah, batu dan pasir juga menutup badan jalan. Dampak lanjutannya, kendaraan tidak bisa melintasi ruas jalan Golo Welu - Ranggu. Kendaraan tertahan di lokasi longsoran di Desa Suka Kiong.
sumber:
http://kupang.tribunnews.com/2017/11/13/longsor-sepanjang-30-meter-putuskan-ruas-jalan-golo-welu-ranggu-di-manggarai-barat 
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan kemiringan lereng yang terjal dan tanah pelapukan yang bersifat lepas dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Masyarakat atau pengguna jalan yang lewat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsoran susulan.
• Memasang rambu-rambu peringatan rawan longsor.
• Jika muncul retakan segera ditutup dengan tanah agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut.
• Membuat perkuatan lereng agar longsoran tidak meluas serta menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agar air tidak masuk ke area longsoran.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

6. Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
Gerakan Tanah  / Tanah longsor terjadi pada Minggu (12/11/2017) pukul 19.46 WIB itu mengakibatkan rusaknya bangunan tembok pembatas dengan lebar sekitar 10 meter dan tinggi 15 meter pada proyek pembangunan Sekolah Dasar Negeri 01 Ciganjur di RT 06 RW 02 Ciganjur. Sebagian  longsoran tebing di Jalan Haji Montong, Jagakarsa, Jakarta Selatan tersebut, menutup sebagian  aliran Kali Setu di bawahnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menangani langsung musibah itu.
sumber:
http://www.netralnews.com/news/megapolitan/read/113452/ini.penyebab.terjadinya.longsor.di.cigan 
http://news.liputan6.com/read/3160487/tebing-5-meter-longsor-tutup-aliran-kali-setu-di-jagakarsa
Penyebab tebing longsor pada saat hujan deras,  erosi  aliran kali dan   tanah yang labil yang tidak mampu menahan beban diatasnya
Rekomendasi  : 
• agar segera  membersihkan material longsoran pada tubuh dan dinding sungai.
• Membangun  dinding penahan tebing dengan pondasi yang kuat hingga menembus batuan yang keras.
• agar tidak mendirikan bangunan diatas dinding penahan tebing / lereng.
• Masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai atau sekitar tebing sungai  agar tetap  waspada terhadap potensi longsoran susulan.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.

7. Kabupaten Aceh Tengah,  Provinsi Aceh 
Akibat di guyur hujan deras selama satu minggu, jalan menuju Desa Atu Payung dan Desa Serule Kecamatan Bintang Kabupaten Aceh Tengah amblas sepanjang 30 Meter dengan kedalaman ± 3 Meter, Senin 13 November 2017. Dampak jalan amblas itu  mengakibatkan dinding belakang  satu rumah warga Adi Warga Desa Atu Payung yang berada di dekat jalan mengalami rusak sedang dan  lokasi jalan yang amblas itu hanya bisa di lalui kendaraan roda dua. 
sumber:
https://www.liputanaceh.com/jalan-menuju-desa-atu-payung-dan-desa-serule-di-aceh-tengah-amblas/
Penyebab diperkirakan akibat  curah hujan sterus mnerus , pembenbanna kendaraan berat, drainase air kurang baik.
Rekomendasi :
• Masyarakat atau pengguna jalan agar waspada  terhadap potensi longsoran susulan.
• Memasang rambu-rambu peringatan rawan longsor.
• Segera melakukan  perbaikan jalan dan membangun drainase air agar air tidak masuk kedalam tubuh jalan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat

8. Kabupaten Tanjung Jabung Timur , Provinsi Jambi  
Luapan  air sungai  akibat intensitas curah hujan tinggi yang menggerus tebing sungai menyebabkan terjadinya gerakan tanah / tanah longsor pada tebing sungai Desa Simbur Naik, Kecamatan Muarasabak Timur, Sabtu (11/11) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB . Dampaknya satu unit rumah hanyut dan tiga rumah lainnya rusak berat. , Kejadian ini menyebabkan warga panik dan hawatir akan terjadinya longsor susulan. Pada Kawasan tebing sungai tersebut  yang  berada di RT 36 Dusun Merpati Desa Simbur Naik, bermukim  setidaknya sekitar 12 rumah warga yang terancam oleh longsor susulan.
sumber:
http://jambione.com/index.php/daerah/item/2395-longsor-di-tanjabtim-satu-rumah-hanyut
Penyebab diperkirakan akibat intensitas hujan yang tinggi, erosi sungai  dan rumah di bangun  di tebing sungai.
Rekomendasi :
• Warga yang rumahnya  terkena longsor agar  berpindah ke lokasi yang aman.
• Saat hujan deras warga yang  masih bermukim di sekitar tebing sungai agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan, dan berpindah sementara jika dianggap lebih aman.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.



Bandung; 14 November 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>