Warta Geologi Volume 2 No. 4

warta201004

Download isi klik disiniacroread

EDITORIAL

Mengingat Paradoks Kehidupan, Menyadari Maskulinisme dan Feminisme Bumi

Paradoks atau dua hal dalam satu diri yang seolah bertentangan, barangkali adalah salah satu ciri utama kehidupan. Aneh, memang. Tapi, begitulah adanya. Kita takut akan panasnya api. Sayangnya, kita sangat memerlukan api. Demikian pula air adakalanya mendatangkan banjir yang terhadapnya kita menghindar. Namun, kita pun sadar, manusia tak mungkin hidup tanpa air. Api dan air adalah dua paradoks dari tak terhitung banyaknya paradoks di alam. Sikap manusia terhadap keduanya pun paradoks: kadang menyukai, adakalanya membenci.

Beberapa filosof menyebut hal-hal yang bersifat penertiban hingga kekerasan sebagai aspek “maskulinisme”; dan hal-hal yang bersifat pengampunan hingga kelembutan sebagai aspek “feminisme”. Maka, paradoks pun adalah tabiat kehidupan yang mengandung segenap aspek feminisme dan maskulinisme itu. Sebuah paradoks yang kita berada dalam pengaruhnya..

Apabila sifat bumi yang sedang mendatangkan bencana digambarkan sebagai maskulinisme bumi, dan keadaan bumi yang sedang tenang adalah sifat feminismenya, maka paradoks pun merupakan ciri bumi. Bumi terkadang sangat maskulin, sehingga dengan enteng begitu saja menjadi sumber bencana. Namun, bumi pula lah yang sebenarnya sangat feminin karena bumi adalah perbendaharaan manfaat yang besar dan melimpah bagi semua makhluk hidup di atasnya. Apa yang disajikan Warta Geologi kali ini pun masih di sekitar paradoks bumi, maskulinisme sekaligus feminisme bumi itu.

Para pembaca yang budiman, Semburan lumpur Lapindo (2006), letusan gunungapi Karangetang (Agustus 2007), dan Anak Krakatau (Oktober 2007); kalau kita sepakat, dapatlah kita sebut sebagai geliat maskulinisme bumi. Masyarakat di sekitar fenomena alam itu cukup direpotkan karenanya. Kita pun disadarkan bahwa alam yang sehari-hari tampak cantik, mengundang kita untuk mengunjunginya atau memanfaatkannya, dapat pula menunjukkan keperkasaannya yang mengkhawatirkan. Lalu, kita pun diingatkan, bahwa suatu waktu mungkin beberapa gunungapi dari 79 gunungapi kita meletus; sejumlah sumber gempa dari ribuan sumber gempa yang ada berguncang; tsunami terjadi menyusul guncangan-guncangan itu; dan longsor menerjang banyak daerah. Pada saat itu betapa bumi menjadi sangat ”maskulin”.

Namun, kecantikan dan kekayaan alam di sekitar gunungapi, feminisme bumi kita itu, menyembuhkan luka akibat bencana yang terjadi sebelumnya dan menentramkan ingatan akan bencana alam yang

mungkin datang. Potensi energi panas bumi, airtanah, dan wisata sekitar gunungapi adalah tiga dari sekian banyak aspek feminisme bumi. Kita pun sadar, bahwa alam sebenarnya lebih banyak memberikan kelembutan dan manfaatnya ketimbang kekerasan dan murkanya.

Ya, betapa tidak, kita memiliki sekitar 256 lokasi panas bumi dengan potensi energi total sekitar 28 Gwe. Bila potensi itu dapat kita manfaatkan dengan sebaik- baiknya, maka bukan saja menyumbang untuk pencapain    target elektrifikasi di tahun 2009 sebesar 67%, melainkan kita pun sudah mulai melangkah ke salah satu target millenium pembangunan bangsa- bangsa: energi bersih dan terbarukan. Demikian pula, potensi air tanah di daerah sulit air    cukup dapat diandalkan, dan pariwisata gunungapi dapat dikembangkan. Tidak kurang dari 250 lokasi daerah sulit air atau total sekitar 500.000 penduduk telah memperoleh air bersih bersumber dari airtanah hasil kegiatan tahun 1995-2007. Untuk itu, maka penelitian dan promosi wilayah kerja pertambangan panas bumi perlu ditingkatkan; potensi air tanah di sekitar 5.000 daerah sulit air atau desa tertinggal perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya; sebagaimana halnya potensi wisata lingkungan gunungapi dari sekitar 79 kawasan gunungapi kita perlu terus ditingkatkan.

Selain itu, pada saat yang sama kita harus senantiasa sadar dan waspada terhadap kerentanan bumi kita. Yaitu, kemungkinan munculnya bencana alam, terutama pada kawasan-kawasan yang telah diketahui rawan terhadap bencana.

Pembaca yang budiman, Menghadapi paradoks alam, sebagian kita mungkin bertanya: ”Manakah yang lebih dominan antara maskulinisme atau bencana dengan feminisme atau manfaat di alam itu?”. Jawabannya, semua saya kira sepakat, “feminisme”-lah yang lebih dominan. Berkata sebagian diantara para filosof: “Maskulinisme hanyalah pelengkap untuk 'tabiat' kehidupan yang pada dasarnya feminin: mencipta, memelihara, menumbuhkan hingga ke tingkat kesempurnaan”.

Semoga kita mampu selalu bersyukur dengan memanfaatkan sumber daya alam sebaik-baiknya. Pada saat yang sama, semoga kita pun diberi kemampuan untuk selalu waspada dan berusaha mengurangi resiko akibat bencana alam.

Bandung, Desember 2007

Ir. Oman Abdurahman, MT

 

[Kembali]