Warta Geologi Volume 1 No. 4

warta201004

Download isi klik disiniacroread

EDITORIAL

Bencana: Konsep Penanganan dan Mitigasinya

Pembaca yang budiman,

Setelah letusan Gunung Api Merapi mereda, tanah air Indonesia kembali diguncang bencana alam besar: gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami di kawasan selatan Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah.

Sementara itu, bencana yang berkaitan dengan fenomena geologi, seperti semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, belum juga berhenti. Dalam suasana duka karena bencana-bencana tersebut, Warta Geologi (WG) kini hadir kembali menemui Anda semua.

Kita memang hidup di kawasan rawan bencana. Karena itu, upaya-upaya pemahaman yang mendalam tentang bahaya-bahaya kebumian (geo-hazards) dan konsep penanganan bencana yang ditimbulkannya sangat penting untuk terus menerus ditingkatkan. Di dalam peraturan tentang organisasi tatalaksana kepemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral, aspek terkait geo-hazards ini tercakup dalam istilah “bencana geologi”. Dalam peraturan tersebut, salah satu satuan kerja di bawah Badan Geologi bernama “Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi”.

Kinerja yang optimal dalam penanganan bencana memerlukan pemahaman yang lengkap tentang makna berbagai istilah dan implikasinya. Istilah-istilah seperti “bahaya” dan “bencana” menyiratkan tahap-tahap tertentu dari langkah penanggulangan kejadian bencana, baik sebelum, selama, dan sesudahnya.

Semuanya harus dipahami secera proporsional. Sementara itu, hasil-hasil di bidang penanganan bencana, perlu disosialisasikan untuk diketahui bersama seluruh komponen masyarakat. Dengan demikian, sesesuai dengan falsafah bahwa penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat, setiap anggota masyarakat berpeluang mengetahui dan berkontribusi dalam penanganan bencana.

Fokus Kita WG edisi keempat ini memperbincangkan konsep penanganan bencana, bahaya geologi dan mitigasi bencana geologi di Indonesia. Melalui kaji ulang tentang kebencanaan ini, khususnya bencana geologi, akan diperoleh umpan balik gambaran tentang apa yang dimiliki, kerangka persoalan yang dihadapi, agenda, dan prioritas pelaksanaan upaya dalam rangka mitigasi bencana geologi dan kinerja manajemen bencana yang baik.

Pembaca yang budiman,

Tatanan geologi Indonesia yang terletak di atas tiga lempeng tektonik, selain memberikan sumber daya kebumian (geo-resources) yang kaya, dan lingkungan bumi (geo-environment) yang beranekaragam, juga ancaman bahaya kebumian (geo-hazards) yang sangat tinggi, baik ragam maupun persebarannya.

Besarnya bahaya geologi Indonesia dan tingginya frekuensi kejadian bencana yang diakibatkannya merupakan bukti bahwa kita memang hidup di wilayah yang rawan bencana.

Dalam literatur-literatur tentang mitigasi bencana (lihat misalnya: Wikipidea) dinyatakan bahwa mitigasi (bencana) adalah bagian dari manajemen bencana (disaster management) atau manajemen darurat (emergency management). Manajemen bencana meliputi: penyiapan, dukungan, dan pembangunan kembali suatu masyarakat yang terkena bencana alam (natural disaster) atau bencana buatan (man-made disaster). Manajemen bencana adalah suatu proses yang harus diselenggarakan terus menerus oleh segenap pribadi, kelompok, dan komunitas dalam mengelola seluruh bahaya (hazards) melalui usaha-usaha meminimalkan akibat dari bencana yang mungkin timbul dari bahaya tersebut (mitigasi).

Mitigasi adalah bagian atau salah satu tahap dalam penanganan bencana. Tahap mitigasi - dalam maknanya yang berarti kesiapsiagaan atau kewaspadaan - adalah cara yang murah dalam mengurangi akibat bahaya-bahaya yang dihadapi masyarakat dibandingkan dengan tindakan lainnya, seperti: evakuasi, rehabilitasi dan rekonstruksi.

Mitigasi harus dilakukan baik secara bersama-sama melalui agenda Pemerintah, maupun sendiri-sendiri baik saat dan paska kejadian, maupun sebelum kejadian. Karena itu, konsep mitigasi dan tahap lainnya dari manajemen bencana, serta irisan dan kesalingterkaitan diantara tahapan-tahapan tersebut perlu dipahami sebelumnya oleh siapa pun yang terlibat dalam penanganan bencana. Seluruh geo-hazards atau potensi bencana (disaster) tersebut harus dinilai atau dievaluasi serta dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi bencana. Penilaian tersebut berkenaan dengan aspek fisik bumi sebagai fokus perhatiannya dikenal sebagai analisis geo-risk.

Identifikasi geo-risk, sebagaimana identifikasi resiko-resiko lainnya, memang merupakan salah satu indikator berlangsungnya suatu mitigasi bencana dalam makna yang luas. Profil WG kita kali ini tentang tokoh yang banyak berkiprah dalam kajian geo-risk melengkapi informasi yang diperlukan tentang mitigasi bencana, khususnya bencana geologi.

Pembaca yang budiman,

Selain menampilkan profil kita kali ini, Ir. Hardoyo R, fokus kita, beberapa artikel khas kegeologian, WG edisi keempat ini juga menyajikan berita-berita di sekitar aktivitas unit-unit berikut staf-stafnya di lingkungan Badan Geologi menjelang peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-61, 17 Agustus 2006. Dalam WG edisi kali ini pembaca juga disuguhi berita-berita dan laporan-laporan
kegiatan koordinasi, dan kepemerintahan Badan Geologi. Selain itu, WG edisi ke-4 ini mulai menyajikan
rubrik baru, yaitu: geologi populer dan wawasan.

Selamat menikmati Warta Geologi edisi keempat!
Oman Abdurahman

 

[Kembali]