Warta Geologi Volume 1 No. 3

warta201004

Download isi klik disiniacroread

EDITORIAL

Dari Merapi ke Mitigasi Bencana dan Sosialisasi Bidang Geologi

Pembaca yang budiman,

Penerbitan Warta Geologi (WG) kali ini dipersiapkan di saat perhatian masyarakat Indonesia sedang tertuju kepada bencana alam, khususnya bencana terkait geologi yaitu letusan gunung api, lebih khusus lagi letusan Gunung (G.) Merapi. Sementara itu, Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) tahun 2006, bulan April yang lalu, telah menetapkan penanggulangan bencana sebagai satu dari sembilan prioritas kegiatan pembangunan nasional tahun 2007.

Seolah telah saling tune in, Badan Geologi pun akhir-akhir ini mulai melaksanakan kegiatan sosialisasi bidang bencana geologi (demikian kita menyebutnya), yaitu bencana gunung api, tsunami, gempa bumi, dan gerakan tanah. Sosialisasi yang dilaksanakan baik sebagai pelaksanaan rencana kerja maupun dalam rangka koordinasi dengan daerah dan instansi lain. Sosialisasi bidang geologi telah mulai dirasakan sebagai kegiatan yang penting dan diperkirakan akan semakin tinggi intensitasnya di tahun-tahun yang akan datang. Karena itu, fokus WG edisi ketiga ini sengaja menyampaikan persoalan seputar G. Merapi, sosialisasi dan pengembangan kreativitas budaya untuk mitigasi bencana geologi.

Para pembaca yang budiman,

Gunung Merapi memang sebuah gunung yang eksotik: cantik, anggun, dan penuh karisma, bertengger dengan indahnya di ranah seputar perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah. Entah berapa puluh ilmuwan telah jatuh cinta kepadanya dan beribu-ribu penduduk beroleh manfaat dari kemurahan Tuhan yang dititipkan pada tubuhnya. Namun, dibalik kecantikan dan kemurahannya, tersimpan ancaman bahaya manakala si cantik ini mulai menggeliat, meletus dan memuntahkan apa saja yang ingin dilepaskannya. Baginya, proses tersebut alami semata dan suatu keniscayaan untuk peremajaan dan rekonstruksi dirinya bersama gerak dinamis alam yang lebih luas tempat ia berdiri.

Namun, bagi kita semua, rekonstruksi alami si karismatik ini adalah bencana dengan segala akibatnya. Merapi dengan segala potensinya, baik keindahan, kesejahteraan dan bencana serta pernak-pernik keberadaannya, sangat menarik untuk dikenali lebih jauh.

Beberapa tulisan dan berita dalam WG kali ini menampilkan informasi seputar G. Merapi. Gunung Merapi dan beberapa gunung lainnya di Indonesia memang kini sedang menggeliat. Mitigasi bencana letusan gunung api kini sedang diuji. Misi geologi untuk perlindungan masyarakat dan lingkungan dari bencana letusan gunung api sedang menghadapi tantangan. Karena sebuah pepatah mengatakan “Tak kenal maka tak sayang”, maka sepantasnyalah kita mengenal para pelaku dan kiprah terkait penelitian dan pelayanan di bidang mitigasi bencana geologi. Selayaknya kita mengenal rekan-rekan kita dan upaya-upaya mereka yang tak kenal lelah dan didedikasikan untuk mitigasi bencana letusan gunung api.

Mereka yang tak kenal lelah guna menjawab permasalahan dan tantangan di seputar penyelamatan manusia dan harta benda dari ancaman bencana alam seperti letusan gunung api. Profil kita kali ini menampilkan seorang staf Badan Geologi beserta upaya-upaya yang dapat kita pandang sebagai kreativitas budaya yang dilakukan untuk menjawab tantangan mitigasi bencana geologi, khususnya
letusan gunung api.

Merapi dan beberapa gunung api lainnya di Indonesia memang kini sedang menggeliat. Demikian pula bencana geologi lainnya, seperti gempa bumi, akhir-akhir ini banyak dialami masyarakat dan wilayah kita. Menghadapi serentetan gejala letusan alam kegeologian seperti letusan gunung api atau gempa bumi, masyarakat pun berharap-harap cemas menanti dan bertanya-tanya tentang kelanjutannya. Karena keawamannya, dalam situasi seperti itu masyarakat tak dapat disalahkan ketika melontarkan pertanyaan sebagai berikut: “Akankah letusan gunung api itu membangkitkan gempa bumi, tsunami dan rangkaian bencana lainnya?” Pada kenyataannya, sebagai dampak kuat bencana tsunami Aceh yang dahsyat akhir 2004 – seperti kita saksikan beberapa waktu yang lalu di wilayah Palu – gempa yang terjadi di darat pun dianggap masyarakat setempat sebagai gempa yang akan memicu bencana tsunami yang hebat. Kepanikan pun terjadi. Dalam situasi menghadapi bencana, kepanikan itu sering menjadi sumber bencana yang lain. Kita tidak berharap hal itu terjadi dalam kasus ancaman letusan gunung api dan bencana lainnya kini dan di masa yang akan datang.

Apa yang harus kita lakukan? Karena, sebagaimana pepatah yang lain mengatakan bahwa “musuh terbesar manusia adalah ketidaktahuannya”, maka kita perlu memberikan informasi dan pemahaman yang benar tentang  insan geologi untuk mampu memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan (credible) dan mencerahkan kepada masyarakat yang bertanya-tanya tentang kegiatan G. Merapi, khususnya, dan informasi bencana geologi lainnya (gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah).

Untuk itu, kegiatan sosialisasi menjadi penting dikuasai prinsip-prinsipnya, bahannya, metode dan teknik komunikasinya, dan aplikasinya di lapangan serta pemantauan dan evaluasi hasilnya. Singkatnya: ketersediaan dan penguasaan informasi, serta teknik penyampaian atau komunikasi yang efektif merupakan syarat keberhasilan sebuah sosialisasi, tak terkecuali sosialisasi bidang mitigasi bencana geologi. Untuk itu, fokus kita pada kesempatan ini menyajikan sebuah refleksi tentang penyajian informasi dan mitigasi bencana geologi, khususnya bencana letusan gunungapi. Refleksi diawali dengan mengarungi informasi G. Merapi di Internet dan dilanjutkan ke dunia nyata dan diakhiri dengan diskusi tentang pengembangan kreativitas budaya untuk mitigasi bencana. Kesemuanya mudah-mudahan merupakan salah satu upaya dalam sosialisasi bidang geologi.

Pembaca yang budiman,

Selain menampilkan profil kita, Ir. Agus Sampurno, fokus kita dan beberapa artikel dan berita di seputar G. Merapi, WG edisi ketiga ini juga menyajikan berita-berita di sekitar aktivitas unit-unit berikut staf-stafnya di lingkungan Badan Geologi dalam kurun waktu tiga bulan (Maret – Mei 2006). Di antaranya, para pembaca dapat menyimak aktivitas-aktivitas berikut: sosialisasi pemahaman bencana gempa bumi dan tsunami
di beberapa daerah, sosialisasi cagar geologi Karangsambung, seminar tentang database dan informasi mineral tingkat ASEAN, seminar batubara Indonesia, seminar nasional sumber daya panas bumi. Dalam WG edisi ketiga ini para pembaca juga disuguhi berita-berita dan laporan-laporan di sekitar kunjungan kerja, kegiatan ilmiah, kerjasama, dan pertemuan tingkat global, serta berita dan laporan lainnya.

Selamat menikmati Warta Geologi edisi ketiga!
Oman Abdurahman

 

[Kembali]