Article Detail

Model Mineralisasi Pembentukan Opal Banten


JURNAL GEOLOGI INDONESIA, Vol. 5 No. 3 September 2010

C. Ansori - Balai Informasi dan Konservasi Kebumian, LIPI.
Opal merupakan permata yang setara atau bahkan dapat lebih berharga daripada intan. Di Indonesia, opal permata dijumpai di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Opal Banten dikenal karena keindahan per¬mainan warnanya. Tulisan ini merupakan ulas balik hasil penelitian terdahulu yang berupa penelitian awal pembentukan opal Banten, karakteristik opal-CT, dan penentuan tipe opal berdasarkan analisis geokimia serta ditambah beberapa data baru, sehingga dapat dibuat model mineralisasinya. Penelitian yang telah di¬lakukan meliputi penelitian lapangan dan analisis mineralogi/gemologi, petrografi, X-RD , serta geokimia unsur utama dan unsur jarang. Opal Banten termasuk opal-CT yang menunjukkan permainan warna bagus. Opal ini terjadi karena proses pelapukan dan pelindian silika, sehingga membentuk opal pada batulempung abu-abu gelap. Model pembentukan terbagi dalam tiga periode; pada Pliosen Awal terjadi pengendapan batuan vulkanik klastika yang kaya gelas vulkanik sebagai endapan fluviatil. Setelah itu pada Pliosen Akhir - Plistosen terjadi proses pelipatan, pelapukan, dan pelindian silika. Retakan, pelipatan, dan patahan yang terjadi mempercepat proses pelapukan dan pelindian, sehingga terbentuk opal pada sayap lipatan hingga Holosen. Daerah prospek opal terdapat pada satuan tuf bersisipan konglomerat dan breksi pumis, di sayap antiklin. Batuan pembawa opal adalah batulempung berwarna abu-abu gelap yang mengalasi konglomerat polimik/batupasir kerakalan dengan struktur silang-siur dan erosional, dengan kedalaman lebih dari 8 m.
opal, proses pembentukan, model mineralisasi, Banten
  • Ansori, C., Siregar, S., dan Sumantri, T.A.F., 2003. Preliminary Study of Opal Genesis at Lebak Regency, Banten. Proceedings Internasional Conference On Mineral and Energy Resources Management UPN ‘Veteran’, Yogyakarta.
  • Ansori, C., Harijoko, A., dan Warmada, I. W., 2006. Characteristics and Genesis of Precious Opal-CT from Banten, Java, Indonesia. Proceedings The 8th Field Wise Seminar and 3nd Internasional Symposium on Geological Engineering Education; Department of Geological Engineering Faculty of Engineering, Gadjahmada University. Yogyakarta, h. 294-304, GLB: 04788.
  • Ansori, C., 2008. Penentuan Tipe Opal Banten Berdasarkan Analisis Geokimia. Jurnal Bahan Galian Industri, Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (TEKMIRA) - ESDM, Bandung, 12 (34), h. 20-31.
  • Anonim, 1981. Indonesia Geothermal Gradient Map. PERTAMINA. Jakarta.
  • Harijanto, S., 1992. Permata dan Batu Permata. Publikasi Khusus Direktorat Sumberdaya Mineral, Dirjen Geologi Dan Sumberdaya Mineral Departemen Pertambangan. Bandung.
  • Hulburt, C.S. dan Switzer, G.S., 1979. Gemologi. John Willey Publication. New York – Brisbane, 304 h.
  • Horton, D., 2002. Australian Sedimentary Opal - Why is Australia Unique. Australian Gemologist, 21, h.287-294.
  • Jones J.B. dan Segnit E.R., 1971. The Nature of Opal, Nomenclature and Constituent Phases. Journal of Geological Society, Australia, 18(1), h.57 – 68.
  • Kerr, P. F., 1959. Optical Mineralogy. Mc. Graw Hill Book Company, Inc. New York,Toronto, London, 441 h.
  • Loughnan, F.C., 1969. Chemical Weathering of Silicate Mineral. American Elsiever Publishing Company. Inc. New York, 546 h
  • Pewkliang, B., Pring, A., dan Brugger J., 2004. Opalisation of Fossil Bone and Wood: Clues to the Formation of Precious Opal. Regolith, CRC LEME, Australia, h.264-268.
  • Rusmana, E., Suwitodirdjo K., dan Suharsono, 1991. Geologi Lembar Serang, Jawa, skala 1 : 100.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
  • Rollingson, H., 1993. Using Geochemical Data: evaluation, presentation, interpretation. Longman Publisher, Singapore, 352 h.
  • Schmid, R., 1981. Descriptive Nomenclature and Classification of Pyroclastic Deposits and Fragments.Dalam: Fisher R.V. dan Schmincke, H.U., (eds.), Pyroclastic Rock. Springer Verlag. Tokyo, 472 h.
  • Syahbuddin, A., Sumantri, Y.R., Kartanegara, L., dan Asikin, S., 1987. Pola perkembangan tektonik Cekungan Rangkasbitung, Jawa Barat, selama Tersier sebagai akibat dari letaknya yang berada di antara Cekungan Bogor, Cekungan Jawa Barat Daya dan Cekungan Sumatera Selatan. Prosiding PIT XV, IAGI. Yogyakarta, h.328-352.
  • Utada, M., 2001. Zeolite in Burial Diagenesis and Low Grade Metamorphic Rocks. Review in Mineralogy and Geochemistry, 45, Natural Zeolite:Occurrence, Properties, Application. Mineralogical Society of America and Geochemical Society.
  • www.EarthRef.org, 2005 .GERM Reservoar Database.
Download

Comments


* Comments will be reviewed first before publish

* You need to be login to post your comment. doesn't have login Id, please register

There's No Comment Data to be shown